PSAK: Pernyataan Standar Akhlak Keikhlasan
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 29
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/ istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di negeri yang segala sesuatunya ingin distandarkan, dari Standar Nasional Pendidikan sampai Standar Operasional Prosedur parkir motor di minimarket, kita mengenal PSAK sebagai Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan. Biasanya tebal, serius, dan membuat mahasiswa akuntansi lebih cepat mengantuk daripada khutbah tarawih 23 rakaat plus witir tiga.
Tapi Ramadhan ini, izinkan saya mengusulkan PSAK versi lain: Pernyataan Standar Akhlak Keikhlasan. Sebab kalau laporan keuangan saja perlu standar, apalagi laporan amal. Jangan sampai kita rajin mencatat zakat, infak, sedekah, tapi lupa mencatat niat. Di sinilah Ramadhan menjadi momentum audit spiritual. Kita bukan hanya menghitung laba rugi usaha, tetapi menghitung laba rugi keikhlasan.
Humor ala Nahdlatul Ulama sering mengingatkan: orang NU itu kalau sedekah suka sembunyi-sembunyi. Tapi kalau buka puasa bersama, fotonya bisa lebih banyak dari bukti transfer. Ini bukan ghibah, ini refleksi.
Dalam PSAK Pernyataan Standar Akhlak Keikhlasan, ada beberapa paragraf penting. Pertama: Pengakuan (Recognition). Dalam akuntansi, pendapatan diakui ketika memenuhi kriteria tertentu. Dalam akhlak, amal diakui bukan ketika dilihat manusia, tetapi ketika diniatkan karena Allah. Masalahnya, kadang kita mengakui amal lebih cepat dari malaikat pencatat. Baru transfer seratus ribu, status WhatsApp sudah berbunyi: “Semoga bermanfaat.” Padahal yang lebih butuh manfaat itu mungkin bukan penerimanya, tapi egonya.
Kedua: Pengukuran (Measurement). Akuntansi mengenal nilai wajar (fair value). Dalam keikhlasan, nilai wajarnya bukan nominal, melainkan ketulusan. Seribu rupiah dari tukang becak bisa lebih “material” daripada satu juta dari pejabat yang sedang klarifikasi. Seperti dawuh almarhum Gus Dur: “Ikhlas itu kalau dipuji tidak terbang, kalau dicaci tidak tumbang.” Kalau setelah sedekah kita rajin mengecek siapa yang menyebut nama kita di mimbar, berarti masih ada akun piutang pujian yang belum dihapus.
Ketiga: Penyajian (Presentation). Laporan keuangan harus disajikan secara jujur dan wajar. Dalam Ramadhan, penyajian ibadah juga harus jujur dan wajar. Jangan sampai tarawihnya khusyuk, tapi setelah itu marah-marah di parkiran. Jangan sampai puasanya menahan lapar, tapi tidak menahan jari dari komentar pedas. Di era digital, kadang yang batal bukan puasanya, tapi keikhlasannya, karena terlalu sibuk presentasi diri.
Orang NU punya humor khas: kalau ada yang terlalu panjang doanya, biasanya disindir, “Doanya jangan pakai lampiran.” Artinya, jangan bertele-tele demi kesan saleh. Dalam PSAK Keikhlasan, pengungkapan (disclosure) cukup kepada Allah. Tidak perlu catatan atas laporan amal yang dibagikan ke seluruh grup keluarga.
Keempat: Materialitas. Dalam audit, sesuatu dianggap material jika memengaruhi keputusan pengguna laporan. Dalam kehidupan, yang material bukan besar kecilnya amal, tetapi dampaknya bagi sesama. Senyum yang tulus bisa lebih material daripada ceramah panjang yang membuat jamaah menghitung menit.
Ramadhan sering menjadi musim “war takjil” sekaligus “war citra.” Spanduk santunan lebih besar dari jumlah santunannya. Di sinilah kita perlu standar akhlak. Sebab tanpa akhlak, akuntansi bisa menjadi alat pembenaran; dengan akhlak, akuntansi menjadi instrumen keadilan.
Sebagai akademisi akuntansi, saya sering bercanda kepada mahasiswa: neraca itu seimbang karena ada debit dan kredit. Hidup juga seimbang kalau ada ibadah ritual dan sosial. Jangan hanya rajin menghitung harta, tapi lalai menghitung manfaat. Jangan hanya sibuk mengejar opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian), tapi lupa mengejar ridha Ilahi.
PSAK Keikhlasan juga mengenal konsep going concern, kelangsungan usaha. Amal pun harus berkelanjutan. Jangan hanya dermawan di awal Ramadhan, lalu “bangkrut spiritual” di Syawal. Keikhlasan itu seperti arus kas: harus dijaga agar tetap positif. Kalau arus kas niat sudah defisit karena riya’, maka perlu restrukturisasi hati.
Humor Gus Dur pernah menyentil, “Tuhan tidak perlu dibela.” Mungkin hari ini kita bisa menambahkan: Tuhan juga tidak perlu dipromosikan dengan pencitraan. Yang perlu diperbaiki adalah diri sendiri. Kalau kita sudah ikhlas, tidak perlu publikasi; kalau belum ikhlas, publikasi justru memperparah inflasi ego.
Akhirnya, Ramadhan adalah momen audit internal. Bukan audit oleh KAP ternama, tapi oleh hati nurani. Kita periksa: apakah amal kita sudah sesuai standar? Apakah niat kita bebas dari salah saji? Apakah ada manipulasi dalam laporan keikhlasan?
Jika jawabannya belum, jangan panik. Dalam akuntansi ada jurnal penyesuaian. Dalam hidup, ada taubat dan istighfar. Setiap malam adalah kesempatan closing, setiap sahur adalah opening balance baru.
Semoga Ramadhan ini kita tidak hanya lulus ujian lapar dan dahaga, tetapi juga lulus uji kepatuhan terhadap PSAK: Pernyataan Standar Akhlak Keikhlasan. Karena pada akhirnya, laporan amal kita tidak diaudit manusia, melainkan Dia Yang Maha Mengetahui. Dan percayalah, di hadapan-Nya, tidak ada rekayasa laporan yang lolos.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar