Piutang Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
- visibility 162
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ramadhan selalu menghadirkan fenomena menarik dalam dunia akuntansi rumah tangga. Tiba-tiba grafik sedekah naik, kurva infak menanjak, dan neraca keikhlasan ikut-ikutan surplus. Di sisi lain, daftar belanja takjil dan THR juga ikut meledak. Inilah bulan ketika manusia rajin “mengirim proposal” ke langit.
Sebagai akademisi akuntansi, saya sering bercanda kepada mahasiswa: “Kalau di dunia ada piutang usaha, maka di akhirat ada piutang langit.” Bedanya, piutang dunia dicatat dengan PSAK, sementara piutang langit dicatat dengan PSAK yang lain: Pernyataan Standar Akhlak Keikhlasan.
Ramadhan mengajarkan bahwa setiap sedekah sejatinya bukan beban, melainkan investasi. Bahkan dalam perspektif teologis, ia lebih mirip receivable from the Most Reliable Debtor. Dalam keyakinan umat Islam, Allah adalah “debitur” paling kredibel—tidak pernah wanprestasi, tidak pernah gagal bayar, dan tidak mengenal restrukturisasi utang.
Humor ala Nahdlatul Ulama sering mengingatkan kita agar jangan terlalu serius dalam beragama sampai lupa tersenyum. Dalam satu kesempatan, almarhum Gus Dur pernah menyindir, “Tuhan tidak perlu dibela, yang perlu dibela itu orang lapar.” Itu kalimat sederhana, tapi secara akuntansi sosial sangat revolusioner. Artinya, ibadah vertikal harus tercermin dalam laporan laba-rugi sosial.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar