Piutang Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
- visibility 161
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Piutang langit bukan soal angka di transfer mobile banking. Ia soal niat yang dicatat tanpa jejak tinta. Dalam akuntansi konvensional, pengakuan pendapatan harus memenuhi prinsip realization. Dalam akuntansi Ramadhan, pengakuan pahala justru terjadi saat niat ditetapkan. Bahkan sebelum kas keluar, pahala sudah accrued. Di sinilah letak keindahan sistem Ilahi: ia berbasis akrual niat, bukan kas semata.
Namun, jangan salah paham. Ramadhan bukan bulan “cari cashback surga”. Jika sedekah diniatkan seperti investor mengejar dividen, maka itu sudah masuk kategori spekulatif. Dalam istilah fiqh muamalah, terlalu transaksional bisa mengurangi keikhlasan. Maka NU mengajarkan keseimbangan: beramal dengan logika rasional, tetapi berhati sufistik.
Saya sering menyampaikan bahwa akuntansi modern mengenal istilah off balance sheet. Ada aset yang tidak tercatat secara formal, tetapi nyata manfaatnya. Dalam kehidupan beragama, banyak amal kita adalah aset tak berwujud—intangible asset—yang nilainya tidak terukur rupiah. Sabar saat macet menjelang buka puasa, menahan diri dari komentar pedas di media sosial, atau memaafkan tetangga yang parkir sembarangan—itulah goodwill spiritual.
Masalahnya, sebagian orang rajin mencatat sedekahnya di media sosial, tetapi lupa mencatat dosa lisannya. Ini seperti perusahaan yang gemar mempublikasikan laba, tapi menyembunyikan utang. Dalam audit akhirat, tidak ada opini Wajar Tanpa Pengecualian jika hati masih penuh riya.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar