Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Anak Miskin Jadi Sarjana: Bukan Keajaiban, Tapi Tanda Gagalnya Sistem Pendidikan

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
  • visibility 185
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kisah-kisah tentang keluarga miskin yang  berhasil menyekolahkan anaknya hingga mencetak sarjana bahkan sampai meraih gelar doktor, selalu mengalirkan inspirasi.  Di media sosial ceritanya memantik perhatian yang tinggi. Narasinya dibagikan berulang-ulang. Orang menanggapinya dengan pujian dan rasa haru. Keberhasilan  orang-orang miskin itu menorehkan kesan yang kuat. Sebab mereka meraih sarjana dengan perjuangan yang berdarah-darah. Ada yang orang tuanya hanya buruh tani, payabo-yabo (pemulung), pembantu dan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang menunjukkan mereka dari kelas bawah.  Simaklah kisah Siti Soleha, siswa dari Indramayu yang orang tuanya hanya buruh tani, tetapi bisa tembus kulih S2 Northeast Normal University, China. Orang tuanya dan dia sendiri harus jungkir balik untuk bisa terus mengecap pendidikan. Di lain tempat ada cerita tentang Chanita, demi dia agar bisa merengkuh cita-cita merebut gelar sarjana, kakaknya memilih putus  sekolah.

Kisah-kisah itu memang menginspirasi, bahwa orang miskin pun tidak kalah dengan mereka yang sejak kecil bergelimang harta. Tidak ada bedanya anak yang sarapan pizza dengan bocah yang  makan seadanya. Jika punya tekad yang kuat, dan semangat juang yang tingi, anak dari kalangan miskin juga bisa bersaing tanpa henti.  Tetapi betulkah demikian? Saya rasa di sinilah tersembunyi satu persoalan besar. Anak-anak  miskin itu dipuji setelah lulus, tapi dilupakan saat berjuang. Keberhasilan anak miskin menjadi sarjana, seolah-olah menunjukkan bahwa di negeri ini siapa pun berhak mendapatkan pendidikan yang layak, padahal senyatanya tidak.  Yang miskin memang bisa menjadi sarjana, bahkan ada yang tembus bertitel doktor, tetapi mereka harus merebut itu.  Catat!  ‘Merebut’, kawan, bukan menerima. Artinya sistem belum memberikan ruang bagi anak miskin untuk secara mudah mendapatkan gelar sarjana. Mereka harus berjibaku. Akses mereka terhadap pendidikan yang layak tidak terbuka. Michael P. Todaro, seorang ekonom, menegaskan bahwa semakin rendah status ekonomi seseorang, semakin sulit baginya untuk mengakses fasilitas yang dapat meningkatkan kesejahteraan, termasuk pendidikan.

Kenyataan yang terjadi adalah ketimpangan dalam mengakses pendidikan yang berkualitas. Yang kaya bisa menempuh pendidikan di sekolah dengan fasilitas serba lengkap. Belajar dengan pendingin udara, alat pembelajaran berteknologi tinggi, serta diajar oleh guru lulusan universitas luar negeri. Sementara anak orang miskin hanya bisa duduk di bangku sekolah yang rapuh, gedung sekolahnya doyong, dan menulis di buku yang lecek.

Ketika anak-anak dari keluarga mapan melesat mulus dengan bimbingan belajar, sekolah internasional, dan beasiswa luar negeri sejak SMP, maka anak-anak keluarga miskin tidak hanya belajar, tapi juga bertahan hidup. Seturut kata Wai Poi (2016) persoalannya adalah titik berangkat antara anak-anak orang kaya dan orang miskin yang tidak sama. Kesempatan mendapatkan akses pendidikan yang baik, kesehatan dan gizi yang bagus  tidak mudah diperoleh oleh anak-anak miskin. Sementara anak-anak orang kaya  dengan mudah mendapatkan fasilitas itu.

Jika start-nya jelas tak sama,  lalu di mana letak keadilannya? Apa yang dibayangkan Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan sebagai alat pembebasan., rasanya semakin ke sini semakin kabur. Hari ini, pendidikan lebih mirip seleksi alam. Siapa kuat, bertahan dan terus melaju ke jenjang berikutnya. Yang tak punya cukup bekal, silahkan tersingkir, takdirmu bukan di dunia sekolah. Apalagi seperti diramalkan Piketty, masa depan ekonomi bisa saja bertumbuh, tetapi kesenjangan akan semakin menganga. Kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang setara bisa jadi semakin sulit.

Di saat kita memperingati Hari Pendidikan 2 Mei ini, diiringi kisah-kisah yang membanggakan dari anak-anak miskin yang berhasil meraih gelar sarjana atau melanjutkan kuliah di negeri seberang, kita harus kembali merenung: ‘ketika anak-anak miskin itu harus berjibaku sendiri agar bisa sekolah, berarti negara belum hadir untuk mereka. Seluruh anak Indonesia membutuhkan pendidikan yang layak dan akses yang setara. Untuk itu negara jangan tanggung-tanggung membiayai dunia pendidikan. Bukan sekadar berbagai makan bergizi untuk memenuhi janji kampanye. Jangan sampai adagium “Orang Miskin dilarang Sekolah” betul-betul nyata adanya.

Ijhal Thamaona memiliki nama lengkap Dr. Syamsurijal Adhan, S.Ag., M.Si adalah Peneliti Khazanah Agama dan Peradaban di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nasi Kuning

    Nasi Kuning

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Fadhil Hadju
    • visibility 339
    • 0Komentar

    Wanita cantik itu mondar mandir bak setrika. Kakinya terus menjinjit, menghasilkan suara decitan lembut saat bersentuhan lantai, dan dengan indah melewati tetamu. Tak lupa satu lengannya menjulur ke bawah, terdengar suara tabik lembut menyembul dari kedua bibirnya. Wanita itu pacarku, Nia. Disusunnya sepuluh piring putih di hadapanku. Piring itu motifnya bunga-bunga. Duduk manis mereka di […]

  • Japesda Kecam Kriminalisasi Warga Popayato, Desak PT IGL Realisasikan Plasma 20 Persen

    Japesda Kecam Kriminalisasi Warga Popayato, Desak PT IGL Realisasikan Plasma 20 Persen

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 289
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Jaring Advokasi Sumberdaya Alam (Japesda) Gorontalo menyatakan sikap tegas atas konflik agraria yang terjadi di Kecamatan Popayato dan Popayato Barat, Kabupaten Pohuwato. Dalam pernyataan resminya tertanggal 23 Mei 2026, Japesda mengecam tindakan kriminalisasi terhadap warga yang memperjuangkan hak plasma 20 persen dari perusahaan perkebunan PT Inti Global Laksana (IGL). Konflik tersebut mencuat setelah […]

  • Petuah yang Disangka Mantra

    Petuah yang Disangka Mantra

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Suaib Prawono
    • visibility 571
    • 0Komentar

    Saya masih ingat betul suasana Kongres Kedua Rakyat Mandar di Assamalebuang, Majene, sekitar tahun 2002 silam. Di tengah ruangan yang hening, budayawan Mandar; Muis Mandra yang kala itu tampil sebagai pembicara menyampaikan sebuah pasang (petuah). Dengan suara yang menggelegar, ia melafalkan petuah leluhur Mandar yang terdengar begitu sakral hingga membuat para peserta terpesona. Petuah itu […]

  • Masjid, Modal Kecil, dan Imajinasi Besar

    Masjid, Modal Kecil, dan Imajinasi Besar

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • account_circle  Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
    • visibility 636
    • 0Komentar

    Seringkali, perubahan tidak lahir dari ruang rapat. Melainkan Ia muncul dari percakapan yang tak direncanakan. Jumat siang itu (27/3/2026), di Cinere, kami hanya berniat melihat-lihat mobil. Saya dengan sahabat, K.H. Romdhoni Hamzah. Tidak lebih. Namun, seperti banyak hal dalam hidup, niat yang sederhana sering menjadi pintu bagi sesuatu yang lebih besar. Di sanalah kami bertemu […]

  • Antara BBM, Subsidi, dan Amanat Anggaran: Membaca Akuntabilitas APBN dari Kasus Defisit 2026

    Antara BBM, Subsidi, dan Amanat Anggaran: Membaca Akuntabilitas APBN dari Kasus Defisit 2026

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Haairunnisah
    • visibility 309
    • 0Komentar

    Defisit APBN 2026 yang diproyeksikan mendekati 2,9% dari PDB sering dianggap masih berada dalam batas aman. Secara aturan, angka tersebut memang belum melampaui ambang batas 3%. Namun, memandang kondisi fiskal hanya dari batas angka adalah cara berpikir yang terlalu sempit. Di balik kesan “aman” itu, tersimpan persoalan yang lebih serius: tekanan fiskal yang bersifat struktural, […]

  • Abdul Kadir Diko/FOTO: Istimewa Play Button photo_camera 14

    Gorontalo Green School: Langkah Kecil Menahan Krisis Lingkungan

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Abdullah K. Diko
    • visibility 338
    • 0Komentar

    Kerusakan lingkungan tidak pernah hadir sebagai peristiwa tunggal. Ia tumbuh perlahan—dari tanah yang kehilangan kesuburan, sungai yang kian tercemar, hingga bencana alam yang makin sering dan sulit diprediksi. Dalam banyak kasus, respons kita justru terjebak pada solusi jangka pendek: proyek cepat, jargon hijau, dan seremoni tanam pohon. Padahal, di balik krisis itu terdapat persoalan yang […]

expand_less