Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Menulis Ulang Sejarah; Pentingkah?

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
  • visibility 184
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

(catatan reflektif untuk gagasan penulisan ulang sejarah Indonesia)

Sejarah, pada hakikatnya, tidak pernah beku. Ia adalah aliran waktu yang terus bergerak, terus diinterpretasi ulang. Gagasan untuk menulis ulang sejarah, dalam kondisi tertentu, bukanlah hal yang tabu—bahkan sebaliknya, bisa menjadi langkah penting untuk menyembuhkan luka kolektif, membetulkan narasi yang timpang, dan membuka ruang bagi suara-suara yang selama ini dibungkam. Menulis ulang sejarah dalam konteks ini menjadi sangat penting.

Karena itu, penulisan ulang ini harus menyertakan partisipasi publik yang luas. Bukan sekadar memberi ruang untuk bicara, tapi juga menyiapkan ruang untuk bersilang pendapat. Koreksi antar data, ketegangan tafsir, dan debat terbuka yang konstruktif bukan hambatan, melainkan fondasi. Sebab sejarah yang ditulis bersama tidak lahir dari keheningan, tetapi dari pertemuan tafsir yang bersedia saling menguji. Dari situlah spektrum sejarah yang luas dan inklusif bisa tumbuh—tidak seragam, tapi saling menyilang dan saling jaga.

Tapi proyek penulisan ulang sejarah ini akan problematik apabila dijalankan bukan dalam semangat keterbukaan, melainkan sebagai cara baru untuk menutup fakta, menghapus tragedi, dan menggantikan kebenaran dengan narasi kuasa. Ketika Fadly Zon, sebagai Menteri Kebudayaan, meragukan “fakta” pemerkosaan massal pada Mei 1998, kecurigaan publik pun muncul. Jangan-jangan keinginan untuk menulis ulang sejarah Indonesia untuk kepentingan politis, bukan kepentingan sejarah itu sendiri.

Dengan begitu, sejarah akan kehilangan peran sentrumnya sebagai cermin kebenaran. Ia berubah menjadi tembok: membatasi, menyaring, dan menolak yang tak sesuai dengan arah kekuasaan. Dalam logika semacam itu, yang dibungkam bukan hanya suara penyintas, tetapi juga kemungkinan bagi bangsa ini untuk menyusun ulang ingatannya secara jujur.

Fanon, dalam The Wretched of the Earth, mengajarkan bahwa sejarah bukan sekadar kronik. Ia adalah alat penjajahan—atau pembebasan. Sejarah bisa menciptakan rakyat yang tunduk atau membangkitkan kesadaran yang melawan. Maka, ketika sebuah otoritas mencoba menyusun ulang sejarah tanpa partisipasi korban, tanpa mendengar kesaksian yang getir, tanpa pengakuan akan luka, maka ia sedang menghapus eksistensi manusia itu sendiri.

Di sinilah bahayanya.

Sejarah, jika disulap menjadi versi steril dan menyenangkan bagi penguasa, akan menjelma menjadi mitos. Ia akan mengubah pelaku kekerasan menjadi pahlawan, dan para penyintas menjadi gangguan naratif. Padahal sejarah bukan tentang kenyamanan, melainkan tentang keberanian menghadapi fakta, sepahit apapun itu. Jika luka itu disangkal, bukan hanya para korban yang dihianati—tetapi bangsa ini sedang menegasikan dirinya sendiri.

Penulisan ulang sejarah baru akan bermakna jika dilakukan dengan prinsip keberpihakan pada kejujuran. Ia harus membuka ruang arsip dan kesaksian. Harus menyediakan wadah bagi mereka yang selama ini tidak dianggap “layak dicatat.” Ia bukan tentang versi tunggal, tetapi tentang percakapan antar-versi—tentang mempersilakan NU menulis sejarah NU, Muhammadiyah menulis sejarah Muhammadiyah, perempuan menulis sejarah tubuh mereka, Tionghoa menulis tentang diskriminasi yang mereka hadapi, dan penyintas 98 menulis tentang malam-malam ketika hidup mereka tak lagi sama.

Semua itu ditulis bukan untuk saling mengalahkan narasi. Tetapi untuk mengakui bahwa sejarah Indonesia bukan satu sungai, tapi delta—bercabang, berliku, dan menyatu di hilir yang disebut bangsa.

Fanon menyebut bahwa untuk membebaskan diri, rakyat harus merebut kembali sejarahnya. “The colonized subject is always presumed to have no history; liberation begins when they begin to narrate.”

Kita sudah merdeka dari kolonialisme formal. Tapi kita belum sepenuhnya merdeka dari kolonialisme narasi—dari sejarah yang ditulis dari atas menara kekuasaan. Maka, menulis ulang sejarah bisa menjadi momentum pembebasan, asal bukan untuk membungkam, melainkan untuk menyuarakan.

Yang kita butuhkan bukan “versi baru” dari sejarah yang disusun ulang demi kenyamanan politik. Bukan narasi bersih yang menghapus bagian-bagian yang dianggap mengganggu. Yang kita butuhkan adalah ruang bagi kebenaran yang beragam, bagi kisah yang selama ini terabaikan, dan bagi rakyat yang selama ini hanya menjadi objek wacana untuk mulai berbicara atas nama dirinya sendiri.

Karena bangsa yang besar bukan bangsa yang menyimpan sejarah yang rapi dan indah. Tetapi bangsa yang berani menulis sejarahnya sendiri—dengan kesediaan untuk jujur, keberanian untuk menghadapi kenyataan, dan komitmen untuk tidak mengulang kesalahan masa lalu.

Oleh : Pepy Albayqunie (Seorang pecinta kebudayaan lokal dan Jamaah Gusdurian di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Elite Dorong Pilkada Lewat DPRD, Kritik Soal Penyempitan Hak Rakyat Menguat

    Elite Dorong Pilkada Lewat DPRD, Kritik Soal Penyempitan Hak Rakyat Menguat

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 262
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wacana mengembalikan mekanisme pemilihan kepala daerah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kembali menguat di kalangan elite politik nasional. Usulan ini memantik perdebatan luas karena dinilai berpotensi menyempitkan hak politik rakyat dan menandai kemunduran demokrasi pasca-Reformasi. Lebih dari dua dekade setelah Reformasi 1998 dan hampir 20 tahun sejak pilkada langsung pertama kali digelar […]

  • DPW Tani Merdeka Indonesia Gorontalo Siap Hadiri RAPIMNAS di Jakarta, Tegaskan Dukungan terhadap Program Presiden Prabowo

    DPW Tani Merdeka Indonesia Gorontalo Siap Hadiri RAPIMNAS di Jakarta, Tegaskan Dukungan terhadap Program Presiden Prabowo

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 203
    • 0Komentar

    Menjelang pelaksanaan Rapat Pimpinan Nasional (RAPIMNAS) Tani Merdeka Indonesia di Jakarta, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Tani Merdeka Indonesia Gorontalo menyatakan dukungan penuh dan memastikan kehadiran dalam agenda nasional tersebut. RAPIMNAS Tani Merdeka Indonesia akan digelar di Gedung Kementerian, Jakarta, pada 27–28 Agustus 2025. Forum ini menjadi ajang strategis konsolidasi nasional untuk memperkuat peran petani dalam […]

  • Anggaran BLP3G Rp2,5 M, 80 Persen Sudah Disalurkan

    Anggaran BLP3G Rp2,5 M, 80 Persen Sudah Disalurkan

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 180
    • 0Komentar

    Dalam rangka memberikan perlindungan sosial dan kebutuhan dasar masyarakat, Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Dinas Sosial pada tahun anggaran 2025 memprogramkan bantuan sosial barang yang diberikan kepada keluarga dalam bentuk Bantuan Langsung Pangan Pemerintah Provinsi Gorontalo (BLP3G). Pemberian bantuan bahan pangan yang telah memasuki tahun ke-4 sejak 2021 silam ini, menjangkau 76 kecamatan, 652 desa dan kelurahan di 5 Kabupaten […]

  • Kemenag Buka Bantuan Penyelesaian Studi S2 dan S3, Mahasiswa Bisa Dapat Hingga Rp25 Juta

    Kemenag Buka Bantuan Penyelesaian Studi S2 dan S3, Mahasiswa Bisa Dapat Hingga Rp25 Juta

    • calendar_month Selasa, 6 Okt 2026
    • account_circle -
    • visibility 398
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Jakarta – Kabar baik bagi mahasiswa program magister (S2) dan doktor (S3) yang sedang berada pada tahap akhir penyelesaian studi. Kementerian Agama Republik Indonesia kembali membuka pendaftaran Bantuan Penyelesaian Pendidikan (BPP) bagi mahasiswa pascasarjana dalam negeri dengan nilai bantuan mencapai Rp20 juta untuk jenjang S2 dan Rp25 juta untuk jenjang S3. Program yang dikelola […]

  • Kapal Rute Raha–Maligano Tenggelam di Perairan Muna, 32 Orang Selamat

    Kapal Rute Raha–Maligano Tenggelam di Perairan Muna, 32 Orang Selamat

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 409
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kapal penumpang rute Raha–Maligano tenggelam di Perairan Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra), Minggu (1/2/2026), setelah mengalami mati mesin dan diterjang gelombang saat mendekati Pelabuhan Maligano. Seluruh penumpang dan awak kapal berhasil diselamatkan. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) melalui Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Kota Kendari mengevakuasi total 32 orang yang berada di atas […]

  • Gus Men Kami: Kau Kecam, Kami Bela

    Gus Men Kami: Kau Kecam, Kami Bela

    • calendar_month Sabtu, 26 Mar 2022
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 186
    • 0Komentar

    Sahabat, karena kau berada di pihak pengecam, maka biarlah ku panggil kau dengan panggilan “Cam”. Assalamu ‘Alaikum Sahabat Cam, Begini Sahabat, Kementerian Agama itu adalah rumah besar bagi kami warga Kementerian Agama. Aku adalah bagian darinya. Di rumah ini aku mengabdi, berbakti sekaligus mengais rezki. He he. Oh ya Cam, perlu kau tahu bahwa kami […]

expand_less