Akuntabilitas Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Senin, 16 Mar 2026
- visibility 222
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Maka, Ramadhan sebenarnya adalah sekolah akuntabilitas. Ia melatih manusia untuk menjadi “akuntan bagi dirinya sendiri”. Setiap malam kita bisa melakukan closing entry kehidupan: mengevaluasi apa yang sudah kita lakukan hari ini. Apakah aset kebaikan bertambah? Apakah liabilitas dosa berkurang?
Jika laporan itu masih defisit, masih ada waktu untuk melakukan koreksi. Dalam tradisi pesantren, sering ada guyonan begini: “Kalau laporan keuangan minus masih bisa direvisi. Tapi kalau laporan amal minus, revisinya lewat tobat.” Ramadhan memberi kesempatan revisi itu.
Pada akhirnya, akuntabilitas langit mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang keuntungan dunia, tetapi tentang keberlanjutan moral manusia. Karena laporan akhir kehidupan tidak disusun oleh manusia, tetapi oleh sistem pencatatan ilahi yang tidak pernah kehilangan data.
Dan seperti kata orang pesantren: “Kalau laporan keuangan bisa diaudit, maka hidup juga harus siap diaudit.” Bedanya hanya satu. Audit dunia selesai dalam beberapa minggu. Audit langit berlaku sepanjang hidup.
Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar