Akuntabilitas Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Senin, 16 Mar 2026
- visibility 220
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dalam perspektif Gus Dur, agama yang terlalu kaku sering kehilangan ruh kemanusiaannya. Karena itu, beliau sering menyampaikan pesan moral dengan cerita jenaka.
Bayangkan kalau Gus Dur menjelaskan konsep akuntabilitas langit kepada para akuntan. Mungkin beliau akan berkata: “Akuntan itu profesi yang sangat religius. Bedanya cuma satu. Akuntan dunia takut salah hitung karena takut pada klien. Akuntan langit tidak pernah salah hitung karena takutnya hanya kepada Tuhan.” Kalimat ini terdengar seperti guyonan, tetapi sebenarnya mengandung kritik sosial yang tajam.
Dalam realitas modern, akuntansi sering terjebak pada formalitas laporan. Laporan keuangan terlihat rapi, tetapi praktik bisnisnya belum tentu etis. Banyak skandal korporasi menunjukkan bahwa transparansi angka tidak selalu berarti transparansi moral.
Karena itu, Ramadhan mengajarkan bahwa akuntabilitas tidak boleh berhenti pada laporan formal. Ia harus menyentuh dimensi spiritual dan kemanusiaan.
Puasa melatih manusia untuk jujur bahkan ketika tidak ada yang melihat. Ketika seseorang tidak minum air padahal sangat haus, itu bukan karena tidak ada air, tetapi karena ada kesadaran bahwa dirinya sedang berada dalam sistem pengawasan ilahi. Dalam bahasa akuntansi, ini seperti internal control yang paling sempurna: pengawasan yang datang dari dalam diri.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar