Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Di Balik WTP: Ketika Akuntabilitas Berhenti Di Kertas

  • account_circle Khoirul Umam Mubarok
  • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
  • visibility 262
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pisau bedah yang paling tepat untuk menguji klaim “belanja berkualitas” adalah prinsip value for money dengan tiga dimensinya. Pertama, ekonomi — apakah input diperoleh dengan harga wajar? Isu pembengkakan anggaran proyek pemerintah yang terus berulang di pemberitaan media menjadi tanda tanya serius di sini. Kedua, efisiensi — apakah output yang dihasilkan sepadan dengan sumber daya yang dikeluarkan? Evaluasi dana transfer daerah yang dinilai belum optimal mengindikasikan bahwa rupiah yang keluar dari APBN tidak selalu menghasilkan layanan publik yang setara di ujung penerimaan. Ketiga, efektivitas — apakah program mencapai tujuan yang ditetapkan? Ketika subsidi yang diklaim sudah “diarahkan lebih tepat sasaran” masih menuai kritik karena basis data penerima yang bermasalah, efektivitas itu perlu dipertanyakan ulang. Defisit APBN 2025 yang dijaga di kisaran 2,5% PDB memang mencerminkan disiplin fiskal yang patut diapresiasi — tetapi disiplin pada angka defisit dan disiplin pada kualitas belanja adalah dua hal yang tidak otomatis berjalan beriringan. Keseimbangan primer bisa terjaga sementara program strategis justru kehilangan daya dorongnya.

Lebih jauh, kerangka good governance menuntut akuntabilitas yang tidak hanya berjalan secara vertikal — dari pemerintah ke DPR dan BPK — tetapi juga secara horizontal, kepada publik sebagai pemegang kedaulatan anggaran. Di sinilah transparansi fiskal mengambil peran kritis. Saat ini, transparansi yang ada masih berhenti pada ketersediaan dokumen teknis yang tidak ramah publik. Informasi fiskal tersedia, tapi tidak accessible. Tersusun rapi, tapi tidak comprehensible bagi warga biasa. Sinergi DPR dan pemerintah dalam menjaga kredibilitas APBN memang penting — namun tanpa kanal partisipasi publik yang genuine, pengawasan tetap menjadi urusan elite, bukan urusan bersama. Transparansi yang tidak bisa dibaca rakyat awam bukanlah transparansi — ia adalah ilusi keterbukaan yang membungkus ketertutupan dengan bahasa formal.

Pada titik ini, implementasi sistem perpajakan baru yang memunculkan isu akuntabilitas fiskal, serta kritik terhadap alokasi belanja non-prioritas, memperkuat satu pola yang tidak bisa diabaikan: reformasi anggaran yang terus dicanangkan pemerintah belum menyentuh akar masalahnya. Bukan karena regulasinya tidak ada  perangkat hukumnya sudah tersedia. Masalahnya terletak pada konsistensi implementasi dan keberanian politik untuk membiarkan mekanisme pengawasan benar-benar bekerja tanpa kompromi kepentingan.

Dari diagnosis ini, solusi yang dibutuhkan bukan tambal sulam regulasi — melainkan pergeseran paradigma. Pertama, digitalisasi anggaran harus melampaui digitalisasi dokumen: data fiskal perlu dapat dipantau publik secara real-time dengan antarmuka yang dipahami warga awam, bukan hanya tersimpan rapi di portal yang tidak pernah dikunjungi. Kedua, sistem pelaporan berbasis kinerja (performance-based reporting) harus dijalankan secara konsisten —bukan hanya melaporkan berapa yang dibelanjakan, tetapi perubahan apa yang terjadi di masyarakat sebagai hasilnya. Ketiga, fungsi BPK perlu diperluas dari compliance audit menuju performance audit yang mengevaluasi efektivitas program secara substantif, dengan tindak lanjut konkret dan terukur atas setiap temuan — bukan sekadar rekomendasi yang menguap di laci kementerian. Keempat, reformasi subsidi harus didahului pembenahan basis data penerima — kebijakan tanpa fondasi data yang akurat hanya akan mengulang masalah yang sama dengan wajah yang berbeda.

WTP adalah syarat perlu — tapi bukan syarat cukup. Meminjam kerangka Sadr: selama negara masih memandang dirinya sebagai pemilik anggaran yang cukup mempertanggungjawabkan prosedur, bukan sebagai wali amanah yang bertanggung jawab atas dampak nyata, maka reformasi apapun akan berhenti di permukaan. Indonesia telah membangun arsitektur formal pengelolaan keuangan negara yang cukup solid. Yang belum terbangun adalah jembatan antara angka yang rapi di atas kertas dan dampak yang benar-benar dirasakan di lapangan. Good governance bukan sertifikat yang diraih sekali lalu dipajang — ia adalah komitmen yang diuji setiap kali anggaran dialokasikan, setiap kali program dijalankan, dan setiap kali rakyat bertanya: untuk siapa sebenarnya APBN ini bekerja?

Penulis : Mahasiswa Akuntansi UNUSIA Semester 4

  • Penulis: Khoirul Umam Mubarok

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mengulik “Haji Bawakaraeng”: Cerita dari Kaki Langit

    Mengulik “Haji Bawakaraeng”: Cerita dari Kaki Langit

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 166
    • 0Komentar

    “Panggilan haji Telah tiba lagi Menunaikan ibadah Panggilan Baitullah Tanah Suci Makkah Ya Makkatul Mukarramah” Lagu “Panggilan Haji”, dari grup Kasidah ‘Nasida Ria’ mengalun lembut dari pita kaset radio yang sudah terlihat kucar-kacir tersebut. Jangan heran, di tempat lain, kasidah bolehlah ditelan waktu, digilas masa dan ditinggalkan zaman, tetapi di kampungku, kasidahan, apalagi punya Nasida […]

  • Belasan Chromebook ANBK SMP PGRI 2 Maros Digondol Maling, Kerugian Capai Rp90 Juta

    Belasan Chromebook ANBK SMP PGRI 2 Maros Digondol Maling, Kerugian Capai Rp90 Juta

    • calendar_month Senin, 15 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros — SMP PGRI 2 Maros menjadi sasaran aksi pencurian pada Senin (15/12/2025) pagi. Belasan perangkat Chromebook milik sekolah raib digondol pelaku, dengan total kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah. Guru PJOK SMP PGRI 2 Maros, Suhardi, mengungkapkan sebanyak 15 unit Chromebook dan satu unit speaker hilang dari ruang kantor sekolah. Aksi pencurian itu […]

  • Agenda Kolaboratif SANTRIPRENEUR Talk, Wakil Ketua Komisi X : Kami Dari DPR-RI Akan Tetap Berusaha Agar Pendidikan Menjadi Prioritas

    Agenda Kolaboratif SANTRIPRENEUR Talk, Wakil Ketua Komisi X : Kami Dari DPR-RI Akan Tetap Berusaha Agar Pendidikan Menjadi Prioritas

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 163
    • 0Komentar

    Agenda SANTRIPRENEUR TALKS dengan Tema “Peradaban santri: Berpendidian, Berdaya, Berkhidmat Membangun Negeri” merupakan kegiatan kolaboratif antara Dewan Pengurus Pusat Gerakan SantriPreuner Nusantara (DPP GENINUSA) dan LPDP PKUMI (Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal) yang diselenggarakan di Aula Masjid Istiqlal pada Jum’at, 14 Maret 2025. Kegiatan SANTRIPRENEUR TALKS Dibuka secara resmi oleh ketua umum DPP GENINUSA, Zikal […]

  • Peringati Maulid Nabi 1447 H, Pesantren Salafiyah Syafiiyah Angkat Tema Pembelaan Kaum Mustadh’afin

    Peringati Maulid Nabi 1447 H, Pesantren Salafiyah Syafiiyah Angkat Tema Pembelaan Kaum Mustadh’afin

    • calendar_month Kamis, 4 Sep 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 147
    • 0Komentar

    Ribuan santri dan warga Nahdlatul Ulama dari berbagai wilayah di Kabupaten Pohuwato bakal memadati Aula Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Desa Banuroja, Kecamatan Randangan, Kamis malam (4/9/2025), dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H. Mengusung tema “Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam Membela Kaum Mustadh’afin dan Menjaga Stabilitas Sosial”, kegiatan ini tak hanya menjadi ajang […]

  • Dari Maros ke Provinsi, Mahasiswa IAI DDI Maros, Raih Juara1 Dai Mitra Polri Sulsel 2026

    Dari Maros ke Provinsi, Mahasiswa IAI DDI Maros, Raih Juara1 Dai Mitra Polri Sulsel 2026

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 241
    • 0Komentar

    Keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga mengharumkan nama IAI DDI Maros dan Polres Maros di tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa mampu menunjukkan kualitas, daya saing, dan kontribusi positif melalui pengembangan kompetensi di bidang keagamaan. “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt. atas amanah ini. Saya mengucapkan terima kasih […]

  • DPP GENINUSA Menginisiasi Diskusi Publik Reformasi Hukum Soal Tarik-Menarik RUU KUHAP 

    DPP GENINUSA Menginisiasi Diskusi Publik Reformasi Hukum Soal Tarik-Menarik RUU KUHAP 

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Dewan Pimpinan Pusat Gerakan SantriPreuner Nusantara (DPP GENINUSA) Melalui Biro Hukum dan Hak Asasi Manusia – Biro Pendidikan dan Ekonomi Mengagendakan Diskusi Publik, Santunan Anak Yatim serta dibarengi dengan Buka Puasa Bersama yang berlokasi di Pondok Ranggi, Jakarta Pusat, 20 Maret 2025. Agenda diskusi dengan teman “RUU KUHAP: Reformasi hukum atau pelemahan pemberantasan korupsi”, dihadiri […]

expand_less