Breaking News
light_mode
Trending Tags

Di Balik WTP: Ketika Akuntabilitas Berhenti Di Kertas

  • account_circle Khoirul Umam Mubarok
  • calendar_month 20 jam yang lalu
  • visibility 85
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pisau bedah yang paling tepat untuk menguji klaim “belanja berkualitas” adalah prinsip value for money dengan tiga dimensinya. Pertama, ekonomi — apakah input diperoleh dengan harga wajar? Isu pembengkakan anggaran proyek pemerintah yang terus berulang di pemberitaan media menjadi tanda tanya serius di sini. Kedua, efisiensi — apakah output yang dihasilkan sepadan dengan sumber daya yang dikeluarkan? Evaluasi dana transfer daerah yang dinilai belum optimal mengindikasikan bahwa rupiah yang keluar dari APBN tidak selalu menghasilkan layanan publik yang setara di ujung penerimaan. Ketiga, efektivitas — apakah program mencapai tujuan yang ditetapkan? Ketika subsidi yang diklaim sudah “diarahkan lebih tepat sasaran” masih menuai kritik karena basis data penerima yang bermasalah, efektivitas itu perlu dipertanyakan ulang. Defisit APBN 2025 yang dijaga di kisaran 2,5% PDB memang mencerminkan disiplin fiskal yang patut diapresiasi — tetapi disiplin pada angka defisit dan disiplin pada kualitas belanja adalah dua hal yang tidak otomatis berjalan beriringan. Keseimbangan primer bisa terjaga sementara program strategis justru kehilangan daya dorongnya.

Lebih jauh, kerangka good governance menuntut akuntabilitas yang tidak hanya berjalan secara vertikal — dari pemerintah ke DPR dan BPK — tetapi juga secara horizontal, kepada publik sebagai pemegang kedaulatan anggaran. Di sinilah transparansi fiskal mengambil peran kritis. Saat ini, transparansi yang ada masih berhenti pada ketersediaan dokumen teknis yang tidak ramah publik. Informasi fiskal tersedia, tapi tidak accessible. Tersusun rapi, tapi tidak comprehensible bagi warga biasa. Sinergi DPR dan pemerintah dalam menjaga kredibilitas APBN memang penting — namun tanpa kanal partisipasi publik yang genuine, pengawasan tetap menjadi urusan elite, bukan urusan bersama. Transparansi yang tidak bisa dibaca rakyat awam bukanlah transparansi — ia adalah ilusi keterbukaan yang membungkus ketertutupan dengan bahasa formal.

Pada titik ini, implementasi sistem perpajakan baru yang memunculkan isu akuntabilitas fiskal, serta kritik terhadap alokasi belanja non-prioritas, memperkuat satu pola yang tidak bisa diabaikan: reformasi anggaran yang terus dicanangkan pemerintah belum menyentuh akar masalahnya. Bukan karena regulasinya tidak ada  perangkat hukumnya sudah tersedia. Masalahnya terletak pada konsistensi implementasi dan keberanian politik untuk membiarkan mekanisme pengawasan benar-benar bekerja tanpa kompromi kepentingan.

Dari diagnosis ini, solusi yang dibutuhkan bukan tambal sulam regulasi — melainkan pergeseran paradigma. Pertama, digitalisasi anggaran harus melampaui digitalisasi dokumen: data fiskal perlu dapat dipantau publik secara real-time dengan antarmuka yang dipahami warga awam, bukan hanya tersimpan rapi di portal yang tidak pernah dikunjungi. Kedua, sistem pelaporan berbasis kinerja (performance-based reporting) harus dijalankan secara konsisten —bukan hanya melaporkan berapa yang dibelanjakan, tetapi perubahan apa yang terjadi di masyarakat sebagai hasilnya. Ketiga, fungsi BPK perlu diperluas dari compliance audit menuju performance audit yang mengevaluasi efektivitas program secara substantif, dengan tindak lanjut konkret dan terukur atas setiap temuan — bukan sekadar rekomendasi yang menguap di laci kementerian. Keempat, reformasi subsidi harus didahului pembenahan basis data penerima — kebijakan tanpa fondasi data yang akurat hanya akan mengulang masalah yang sama dengan wajah yang berbeda.

WTP adalah syarat perlu — tapi bukan syarat cukup. Meminjam kerangka Sadr: selama negara masih memandang dirinya sebagai pemilik anggaran yang cukup mempertanggungjawabkan prosedur, bukan sebagai wali amanah yang bertanggung jawab atas dampak nyata, maka reformasi apapun akan berhenti di permukaan. Indonesia telah membangun arsitektur formal pengelolaan keuangan negara yang cukup solid. Yang belum terbangun adalah jembatan antara angka yang rapi di atas kertas dan dampak yang benar-benar dirasakan di lapangan. Good governance bukan sertifikat yang diraih sekali lalu dipajang — ia adalah komitmen yang diuji setiap kali anggaran dialokasikan, setiap kali program dijalankan, dan setiap kali rakyat bertanya: untuk siapa sebenarnya APBN ini bekerja?

Penulis : Mahasiswa Akuntansi UNUSIA Semester 4

  • Penulis: Khoirul Umam Mubarok

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kolonialisme Digital

    Kolonialisme Digital

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Sonny Madjid
    • visibility 268
    • 0Komentar

    Tentu kita masih ingat kesepakatan dengan Bill Gate yang mengelontorkan hibah dengan jaminan Indonesia menjadi sampel uji coba vaksin. Indonesia bisa saja menjadi salah satu negara yang tidak berdaulat atas infrastrukturnya. Akibat hegemoni global tadi, dihisap dengan kekuatan militer, finansial serta standarisasi absurd- semu. Sistem global mengindustrilisasi kecemasan berujung krisis. Hal itu menjelaskan bahwa sistem […]

  • Kasus Dugaan Kekerasan Oknum Polisi di Maros Naik ke Penyidikan, Publik Desak Segera Tetapkan Tersangka

    Kasus Dugaan Kekerasan Oknum Polisi di Maros Naik ke Penyidikan, Publik Desak Segera Tetapkan Tersangka

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Keputusan Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Maros menaikkan status perkara dugaan tindakan represif oknum anggotanya dari tahap penyelidikan ke penyidikan menuai sorotan tajam dari publik. Meski langkah ini diklaim sebagai bentuk keseriusan institusi, hingga kini belum adanya penetapan tersangka justru memicu kekhawatiran akan adanya upaya perlindungan terhadap pelaku serta pengabaian prinsip Hak […]

  • (Korupsi) Bisnis Paling Rasional

    (Korupsi) Bisnis Paling Rasional

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 222
    • 0Komentar

    Di negeri ini, senjata api diawasi ketat. Mau punya pistol saja izinnya panjang, bisa lebih panjang dari antrean sembako. Tapi laporan keuangan? Bebas berkeliaran, rapi, wangi, dan sering dielu-elukan, padahal isinya bisa bikin rakyat miskin seumur hidup. Gus Dur mungkin akan bilang, “Senjata itu membunuh orang. Laporan keuangan bisa membunuh akal sehat.” Korupsi pejabat publik […]

  • Kadis Pendidikan Maros Resmikan SDN 215 Inpres Taipa, Sekolah Berbasis Karakter dan Life Skill

    Kadis Pendidikan Maros Resmikan SDN 215 Inpres Taipa, Sekolah Berbasis Karakter dan Life Skill

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 162
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Suasana haru dan kebanggaan menyelimuti SDN 215 Inpres Taipa, Dusun Taipa, Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, saat bangunan sekolah yang telah lama dinantikan akhirnya diresmikan, baru-baru ini. Peresmian tersebut langsung dilakukan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Maros, Andi Wandi Bangsawan Putra Patabai, S.STP., MM, disaksikan para guru se-Kecamatan Maros Baru, jajaran Dinas […]

  • Dinas PPPA Provinsi Gorontalo Dipertahankan di Tengah Wacana Peleburan

    Dinas PPPA Provinsi Gorontalo Dipertahankan di Tengah Wacana Peleburan

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie, menegaskan pentingnya mempertahankan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) sebagai lembaga mandiri, menyusul wacana peleburan dengan Dinas Sosial. Penegasan ini disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan FGD percepatan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Pengarusutamaan Gender (PUG) di Kantor Dinas PPPA Provinsi Gorontalo, Selasa (1/6/2025). Dalam sambutannya, Wagub Idah […]

  • Isra Mi’raj, Air, dan Passili: Kesucian Perjalanan Nabi dalam Ritual Budaya Lokal

    Isra Mi’raj, Air, dan Passili: Kesucian Perjalanan Nabi dalam Ritual Budaya Lokal

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Afidatul Asmar
    • visibility 238
    • 0Komentar

    Isra Mi’raj adalah peristiwa langit yang selalu diperingati dengan suara lantang. Namun sering kali kita lupa pada bagian yang paling sunyi: penyucian. Sebelum Nabi Muhammad SAW “naik” menembus lapis-lapis langit, beliau lebih dulu “dibersihkan”. Dada beliau dibelah, hatinya dicuci dengan air zamzam, lalu diisi hikmah dan iman. Tidak ada Mi’raj tanpa pembersihan. Tidak ada kenaikan […]

expand_less