Breaking News
light_mode
Trending Tags

Di Balik WTP: Ketika Akuntabilitas Berhenti Di Kertas

  • account_circle Khoirul Umam Mubarok
  • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
  • visibility 190
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pisau bedah yang paling tepat untuk menguji klaim “belanja berkualitas” adalah prinsip value for money dengan tiga dimensinya. Pertama, ekonomi — apakah input diperoleh dengan harga wajar? Isu pembengkakan anggaran proyek pemerintah yang terus berulang di pemberitaan media menjadi tanda tanya serius di sini. Kedua, efisiensi — apakah output yang dihasilkan sepadan dengan sumber daya yang dikeluarkan? Evaluasi dana transfer daerah yang dinilai belum optimal mengindikasikan bahwa rupiah yang keluar dari APBN tidak selalu menghasilkan layanan publik yang setara di ujung penerimaan. Ketiga, efektivitas — apakah program mencapai tujuan yang ditetapkan? Ketika subsidi yang diklaim sudah “diarahkan lebih tepat sasaran” masih menuai kritik karena basis data penerima yang bermasalah, efektivitas itu perlu dipertanyakan ulang. Defisit APBN 2025 yang dijaga di kisaran 2,5% PDB memang mencerminkan disiplin fiskal yang patut diapresiasi — tetapi disiplin pada angka defisit dan disiplin pada kualitas belanja adalah dua hal yang tidak otomatis berjalan beriringan. Keseimbangan primer bisa terjaga sementara program strategis justru kehilangan daya dorongnya.

Lebih jauh, kerangka good governance menuntut akuntabilitas yang tidak hanya berjalan secara vertikal — dari pemerintah ke DPR dan BPK — tetapi juga secara horizontal, kepada publik sebagai pemegang kedaulatan anggaran. Di sinilah transparansi fiskal mengambil peran kritis. Saat ini, transparansi yang ada masih berhenti pada ketersediaan dokumen teknis yang tidak ramah publik. Informasi fiskal tersedia, tapi tidak accessible. Tersusun rapi, tapi tidak comprehensible bagi warga biasa. Sinergi DPR dan pemerintah dalam menjaga kredibilitas APBN memang penting — namun tanpa kanal partisipasi publik yang genuine, pengawasan tetap menjadi urusan elite, bukan urusan bersama. Transparansi yang tidak bisa dibaca rakyat awam bukanlah transparansi — ia adalah ilusi keterbukaan yang membungkus ketertutupan dengan bahasa formal.

Pada titik ini, implementasi sistem perpajakan baru yang memunculkan isu akuntabilitas fiskal, serta kritik terhadap alokasi belanja non-prioritas, memperkuat satu pola yang tidak bisa diabaikan: reformasi anggaran yang terus dicanangkan pemerintah belum menyentuh akar masalahnya. Bukan karena regulasinya tidak ada  perangkat hukumnya sudah tersedia. Masalahnya terletak pada konsistensi implementasi dan keberanian politik untuk membiarkan mekanisme pengawasan benar-benar bekerja tanpa kompromi kepentingan.

Dari diagnosis ini, solusi yang dibutuhkan bukan tambal sulam regulasi — melainkan pergeseran paradigma. Pertama, digitalisasi anggaran harus melampaui digitalisasi dokumen: data fiskal perlu dapat dipantau publik secara real-time dengan antarmuka yang dipahami warga awam, bukan hanya tersimpan rapi di portal yang tidak pernah dikunjungi. Kedua, sistem pelaporan berbasis kinerja (performance-based reporting) harus dijalankan secara konsisten —bukan hanya melaporkan berapa yang dibelanjakan, tetapi perubahan apa yang terjadi di masyarakat sebagai hasilnya. Ketiga, fungsi BPK perlu diperluas dari compliance audit menuju performance audit yang mengevaluasi efektivitas program secara substantif, dengan tindak lanjut konkret dan terukur atas setiap temuan — bukan sekadar rekomendasi yang menguap di laci kementerian. Keempat, reformasi subsidi harus didahului pembenahan basis data penerima — kebijakan tanpa fondasi data yang akurat hanya akan mengulang masalah yang sama dengan wajah yang berbeda.

WTP adalah syarat perlu — tapi bukan syarat cukup. Meminjam kerangka Sadr: selama negara masih memandang dirinya sebagai pemilik anggaran yang cukup mempertanggungjawabkan prosedur, bukan sebagai wali amanah yang bertanggung jawab atas dampak nyata, maka reformasi apapun akan berhenti di permukaan. Indonesia telah membangun arsitektur formal pengelolaan keuangan negara yang cukup solid. Yang belum terbangun adalah jembatan antara angka yang rapi di atas kertas dan dampak yang benar-benar dirasakan di lapangan. Good governance bukan sertifikat yang diraih sekali lalu dipajang — ia adalah komitmen yang diuji setiap kali anggaran dialokasikan, setiap kali program dijalankan, dan setiap kali rakyat bertanya: untuk siapa sebenarnya APBN ini bekerja?

Penulis : Mahasiswa Akuntansi UNUSIA Semester 4

  • Penulis: Khoirul Umam Mubarok

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jejak Gus Dur di Pambusuang

    Jejak Gus Dur di Pambusuang

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 215
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Polewali Mandar — Ketua Lesbumi NU Sulbar, Ahmad Zaki, mengatakan bahwa jejak Gus Dur di Pambusuang dapat ditelusuri melalui program Bina Desa. Gus Dur tidak hanya menjalin persahabatan dengan tokoh agama, pemuda, dan masyarakat di Pambusuang, tetapi juga aktif mendorong pendampingan bagi warga setempat. Sejumlah nama yang dikenal akrab dengan Gus Dur antara lain […]

  • HUT ke-13 Kolaka Timur, Gubernur Sultra Ajak Jadikan Momentum Refleksi dan Percepatan Pembangunan

    HUT ke-13 Kolaka Timur, Gubernur Sultra Ajak Jadikan Momentum Refleksi dan Percepatan Pembangunan

    • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 141
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, mengajak seluruh elemen pemerintah dan masyarakat menjadikan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-13 Kabupaten Kolaka Timur sebagai momentum refleksi, evaluasi, serta penguatan komitmen dalam mempercepat pembangunan daerah. Hal tersebut disampaikan Gubernur dalam sambutan tertulis pada Upacara Peringatan HUT Kabupaten Kolaka Timur yang dibacakan oleh Sekretaris […]

  • Kolaborasi LSI dan Fakultas Kehutanan Sukses Gelar Pelatihan GeoInsight 2026

    Kolaborasi LSI dan Fakultas Kehutanan Sukses Gelar Pelatihan GeoInsight 2026

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 127
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAKASSAR — Learning Space Indonesia (LSI) bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan sukses menyelenggarakan kegiatan pelatihan bertajuk “GeoInsight 2026: Pelatihan Geotagging dan Pemetaan Digital” pada Minggu, 18 Mei 2025. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 15.00 WITA hingga selesai ini menjadi ruang pembelajaran interaktif bagi peserta dalam memahami pemanfaatan teknologi geotagging dan pemetaan digital berbasis data […]

  • Bukan Spons, Cuma Es Kue: Laboratorium Meluruskan Dugaan Aparat

    Bukan Spons, Cuma Es Kue: Laboratorium Meluruskan Dugaan Aparat

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 292
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tuduhan bahwa jajanan es kue jadul di wilayah Kemayoran terbuat dari bahan spons akhirnya dipatahkan oleh hasil pemeriksaan laboratorium. Setelah sempat menimbulkan kegaduhan publik akibat video viral, aparat TNI-Polri yang terlibat pun menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat. Permohonan maaf tersebut disampaikan oleh Bhabinkamtibmas dan Babinsa, sebagaimana diunggah akun Instagram @fakta.indo dan […]

  • SK Presiden Diserahkan, 11 Pimpinan Baznas Siap Jalankan Tugas Lima Tahun ke Depan

    SK Presiden Diserahkan, 11 Pimpinan Baznas Siap Jalankan Tugas Lima Tahun ke Depan

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 195
    • 0Komentar

    nulondalo.com– Menteri Agama Nasaruddin Umar secara resmi menyerahkan Surat Keputusan (SK) Presiden kepada jajaran pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) masa jabatan 2026–2031. Penyerahan SK dari Presiden Prabowo Subianto tersebut berlangsung di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Momentum ini menandai dimulainya masa bakti 11 pimpinan Baznas yang akan menjalankan tugas selama lima tahun ke […]

  • SAKTI Sentil Banyak Mahasiswa di Majannang: Pintar di Luar, Membisu di Kampung Sendiri 

    SAKTI Sentil Banyak Mahasiswa di Majannang: Pintar di Luar, Membisu di Kampung Sendiri 

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS – Desa Majannang kembali menjadi sorotan setelah salah satu tokoh pemuda desa, Sakti, melontarkan kritik keras terhadap kondisi sebagian pemuda di Dusun Taipa, Desa Majannang, yang dinilai mulai kehilangan kepedulian terhadap masa depan desanya sendiri. Menurut Sakti, banyak pemuda saat ini lebih memilih diam dan acuh terhadap berbagai persoalan sosial di desa. Bahkan, […]

expand_less