Manifesto Tarbiyah di Zaman Kacau
- account_circle Almunauwar Bin Rusli
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 167
- print Cetak

Almunauwar bin Rusli - Doc. Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sudah berulang kali saya katakan jika Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) harus menjadi antitesis dari kemaksiatan institusional ini. PTKIN tidak boleh menjadi sarang intelektual banci. Seribu intelektual tidak akan bisa menyelamatkan guru agama apabila di dalam dadanya tidak berkobar-kobar tekad dan semangat untuk merdeka. Jangan biarkan para guru agama bernasib sial seperti Munir dan Marsinah. Oleh sebab itu, melalui manifesto tarbiyah, saya ingin mengajukan beberapa maklumat. Pertama, guru agama harus menyadari bahwa mereka adalah bagian dari kelas pekerja yang tenaganya dieksploitasi untuk memproduksi nilai sumber daya manusia. Dengan demikian, tuntutan upah tidak bertentangan dengan nilai agama. Kedua, guru agama harus membentuk dan memperkuat perkumpulan Pendidik Sosialis Indonesia (PSI) yang independen dengan cara perundingan bersama. Jika satu guru protes dan dipecat, maka semua guru wajib mogok kerja.
Ketiga, guru agama harus menuntut transparansi anggaran di lembaga pendidikan negeri maupun swasta. Hak milik pribadi dari kelas elite (borjuis) yang mengontrol, memonopoli dan memanipulasi sistem birokrasi harus dimusnahkan. Keempat, guru agama harus menuntut pemerintah untuk mengambil alih tanggung jawab penuh atas kesejahteraan guru lewat nasionalisasi pendidikan. Kelima, guru agama harus beraliansi dengan buruh pabrik, petani, dan tenaga medis agar bisa menghimpun kekuatan maksimal demi menyatukan tuntutan kenaikan upah layak nasional.
Pada masa-masa mendatang, saya memprediksi bahwa manifesto tarbiyah ini akan menjadi semacam pandangan etis dikalangan guru agama kelas menengah bawah untuk mencetak khairu ummah melalui gerakan ta’muruna bil ma’ruf (humanisasi), tanhauna ‘anil munkar (liberasi) dan tu’minuna billah (transendensi) di masing-masing gedung madrasah atau sekolah. Kata Marx, tugas manusia bukan hanya menafsirkan dunia melainkan mengubah realitasnya. Kata Allah, jika manusia tidak mengubah nasibnya, maka perubahan hanyalah ilusi semata. Sampai di sini, bukankah menjadi “kiri” adalah suatu tindakan yang terpuji? Hasan Hanafi sudah mengulasnya dalam al-Yasar al-Islami (1981).
Sebagai penutup, saya adalah dosen yang bekerja untuk pemerintah. Saya adalah nasionalis yang menghancurkan politik kebencian. Saya adalah Islam yang menyebarkan aroma perdamaian. Saya adalah Marxis, yang menguburkan ketidakadilan. Masalah ketimpangan finansial yang dialami oleh para guru agama tidak boleh hanya diperlakukan sebagai konsumsi kognitif semata. Lewat manifesto tarbiyah, mari sama-sama kita hantam hegemoni kleptokrasi yang mencederai amanat konstitusi. Soekarno sudah ingatkan jika perjuangannya lebih mudah karena hanya mengusir penjajah, tapi perjuangan kita akan lebih susah karena harus menghadapi bangsa sendiri. Kaum guru agama se-Indonesia, bersatulah ! Agar kita bisa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Di dalam pahitnya penderitaan umat manusia, pemikiran-pemikiran revolusioner harus tetap kita jaga. Sekian !
Penulis : Dosen IAIN Manado/Anggota KPPP MUI Sulawesi Utara
- Penulis: Almunauwar Bin Rusli

Saat ini belum ada komentar