Breaking News
light_mode
Trending Tags

Membunuh ‘tuhan’ dengan Puasa

  • account_circle Redaksi Nulondalo
  • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
  • visibility 56
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Secara tidak sadar, manusia telah merancang ‘tuhan’ di altar persembahannya, memuja ilusi yang lahir dari tangannya sendiri, dan puasa hadir untuk membunuhnya. Puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah ritual penyucian jiwa yang mendalam. Di balik setiap detik penantian dan keheningan, tersimpan makna esoterik memerangi dan memusnahkan segala bentuk penyembahan terhadap duniawi yang telah mengaburkan pandangan spiritual seorang hamba.

Dalam ontoligi sufistik, puasa menjadi sarana perenungan hakikat diri dan melepaskan belenggu hawa nafsu, selain itu puasa merupakan sebuah benteng bagi iman seorang muslim (as-saum junnah). Dengan menahan diri dari kenikmatan yang bersifat fana, seseorang dapat menemukan jalan menuju kekayaan yang sesungguhnya, bukan berindikator materi semata tetapi pada batin,  kata Nabi SAW ‘bukanlah kekayaan itu diukur dari banyaknya harta, melainkan kekayaan yang sejati adalah kekayaan jiwa’.

Hadis di atas menyisipkan pesan bahwa kekayaan sejati bukan terletak pada akumulasi harta benda, melainkan pada ketenangan dan kedamaian batin. Dengan memahami hal ini, melalui puasa seseorang dapat membebaskan diri dari belenggu keinginan duniawi dan menemukan kebebasan batin yang hakiki. Proses inilah yang merupakan upaya untuk ‘membunuh’ segala bentuk kebergantungan pada anasir-anasir nisbi yang selama ini dianggap sebagai Tuhan dalam kehidupan.

Kebergantungan pada hal nisbi itu dibuktikan dengan realita bahwa banyak manusia lebih memilih menundukkan diri pada keinginan duniawi; harta, ambisi, dan kedudukan sering kali dijadikan sebagai tujuan utama, seolah-olah hal itu adalah pemegang kunci kebahagiaan dan kesuksesan. Ironisnya, dalam pencarian tersebut, mereka justru kehilangan esensi kehidupan yang sesungguhnya, manusia menggantungkan hidupnya pada hal-hal yang sifatnya temporal dan menjauh dari Tuhan yang sesungguhnya, ‘wahai manusia! Kamulah yang membutuhkan Allah, dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji (QS. Fatir: 15).

Puasa, sebagai praktik spiritual, menawarkan alternatif dengan memfokuskan kembali manusia pada nilai-nilai batin dan hubungan yang lebih intim dengan Sang Pencipta ‘Ishq Ilahi’. Melalui kesederhanaan dan disiplin diri, individu dapat merasakan kehadiran yang lebih hakiki, tanpa harus bergantung pada harta dan kekuasaan dunia. Ini merupakan bentuk perlawanan terhadap kecenderungan menuhankan hawa nafsu dalam kehidupan modern.

Dalam lensa esoterik, penyembahan terhadap keinginan duniawi merupakan sebuah ilusi yang menjerumuskan manusia ke dalam kebingungan eksistensial. Dengan berpuasa, setiap individu diajak untuk menyadari bahwa kehidupan tidak semata-mata tentang akumulasi materi, melainkan tentang pencarian makna yang lebih mendalam dan abadi.

Proses ini tidak mudah, mengingat tekanan sosial dan godaan yang terus hadir dalam setiap aspek kehidupan. Namun, dengan niat yang tulus dan tekad yang kuat, puasa dapat menjadi senjata ampuh untuk menghancurkan ‘tuhan-tuhan’ palsu yang selama ini menghimpit jiwa. Setiap langkah kecil menuju penyucian diri adalah bentuk revolusi batin yang mampu mengubah pandangan hidup seseorang.

Akhirnya, melalui praktik puasa, manusia diajak untuk melepaskan diri dari belenggu materialisme dan mengejar kebahagiaan sejati. Dengan ‘membunuh’ segala bentuk penyembahan terhadap ‘tuhan-tuhan’ yang sifatnya fana dan nisbi, manusia akan menemukan keindahan dari kehidupan yang harmonis, di mana kebebasan batin dan cinta kasih menjadi landasan yang mengarahkan setiap langkah menuju pencerahan epistemik-teologis. Manusia kembali kepada pada keyakinan tentang Tuhannya; Tuhan yang transenden dan imanen. Esensi proses ‘kembali’ itu ditandai dengan pemaknaan substantif tentang tujuan utama puasa yakni ‘bertakwa’.

“Hai orang-orang yang beriman

diwajibkan atas kamu berpuasa

sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu,

agar kamu bertakwa”.

-Yogyakarta, 25 Ramadhan 1446 Hijriyah

Oleh: Fanridhal Engo(Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

  • Penulis: Redaksi Nulondalo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • WALHI Tolak Perpanjangan MoU Pemerintah–Freeport, Dinilai Perpanjang Krisis Ekologis di Papua

    WALHI Tolak Perpanjangan MoU Pemerintah–Freeport, Dinilai Perpanjang Krisis Ekologis di Papua

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 102
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menilai perpanjangan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Indonesia dan Freeport-McMoRan Inc terkait kelanjutan operasi PT Freeport Indonesia (PTFI) hingga seumur cadangan tembaga dan emas di Papua sebagai kebijakan yang berpotensi melanjutkan krisis ekologis dan kemanusiaan di Tanah Papua. Penilaian tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Nasional WALHI, Boy Jerry Even […]

  • Dinas PPPA Provinsi Gorontalo Dipertahankan di Tengah Wacana Peleburan

    Dinas PPPA Provinsi Gorontalo Dipertahankan di Tengah Wacana Peleburan

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 61
    • 0Komentar

    Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie, menegaskan pentingnya mempertahankan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) sebagai lembaga mandiri, menyusul wacana peleburan dengan Dinas Sosial. Penegasan ini disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan FGD percepatan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Pengarusutamaan Gender (PUG) di Kantor Dinas PPPA Provinsi Gorontalo, Selasa (1/6/2025). Dalam sambutannya, Wagub Idah […]

  • Dari Biluhu ke Bolsel: Kisah Pemburu Tuna

    Dari Biluhu ke Bolsel: Kisah Pemburu Tuna

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle Apriyanto Rajak
    • visibility 90
    • 0Komentar

    Dua orang nelayan tradisional menempuh lebih dari 200 kilometer pada pertengahan Februari 2025 melalui jalur laut. Mereka berangkat dari kampung halamannya Desa Biluhu Barat, Kecamatan Biluhu, Kabupaten Gorontalo menuju Desa Tolondadu, Kecamatan Bolaang Uki, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Sulawesi Utara, untuk berburu ikan tuna. Dua nelayan tradisional tersebut bernama Aten Rauf 53 tahun dan […]

  • Mengapa Amerika Serikat Enggan Menandatangani UNCLOS? Ini Alasan Strategisnya

    Mengapa Amerika Serikat Enggan Menandatangani UNCLOS? Ini Alasan Strategisnya

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 107
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Amerika Serikat hingga kini belum menandatangani United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), meskipun konvensi tersebut telah menjadi rezim hukum internasional utama yang mengatur tata kelola laut global. Keputusan ini didorong oleh sejumlah pertimbangan strategis, ekonomi, dan politik luar negeri. Salah satu alasan utama penolakan Amerika Serikat terhadap UNCLOS adalah […]

  • Rahmatan Lil Alamin, Bukan Laknatan Lil Alamin

    Rahmatan Lil Alamin, Bukan Laknatan Lil Alamin

    • calendar_month Minggu, 30 Nov 2025
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 129
    • 0Komentar

    (Kader PMII dan Pembina GUSDURian Ternate). Fenomena alam harus dikaji secara mendalam karena memiliki asbab (akibat) dari terjadinya sesuatu, konstruksi makna menggunakan pendekatan hermeneutika memiliki banyak perspektif. Pertama, Ada yang menilai bahwa bencana alam adalah sebuah realitas yang alami dan merupakan hukum alam. Kedua, ada juga yang berpandangan bahwa tidak semua kejadian alam (bencana alam) […]

  • Membangun Dunia Baru: Prospek Dunia Pasca-Amerika di Tengah Kebangkitan China

    Membangun Dunia Baru: Prospek Dunia Pasca-Amerika di Tengah Kebangkitan China

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Muhammad Suryadi R
    • visibility 231
    • 0Komentar

    Dunia di abad ke-21 bergerak kian cepat daripada kemampuan manusia untuk merenungkannya. Inovasi teknologi, kecerdasan buatan, dan konektivitas global menciptakan kesan bahwa umat manusia telah melampaui batas-batas lama sejarah. Tapi di balik kemajuan itu, dunia justru menampakkan kerapuhannya dengan telanjang bulat bahwa perang kembali menjadi bahasa politik, krisis kemanusiaan diperlakukan sebagai gangguan statistik, dan lembaga […]

expand_less