Breaking News
light_mode
Trending Tags

Pagula: Ulama Pesisir dan Penemu Pukat Cincin dari Gorontalo

  • account_circle Abdul Kadir Lawero
  • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
  • visibility 104
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di tengah riak ombak pesisir Kota Gorontalo, sejarah mencatat nama seorang ulama yang hidupnya sederhana, namun penuh pengaruh. Sosok itu adalah KH. Nahar Akadji, yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Pagula—sebuah panggilan penuh makna yang mencerminkan kelembutan, kearifan, dan manisnya akhlak beliau.

Di Gorontalo, penyebutan ulama memang berbeda. Tak ada istilah “Kiai” seperti di Jawa atau “Tuan Guru” seperti di Lombok. Masyarakat lebih akrab dengan sebutan lokal seperti Ti Guru, Ti Kali, Ti Bapu, Ti Paci, Ti Aba, Ti Ka’i, atau Ti Danggu, Ti Katinggi, Ti Kapende, Ti Ka’i—panggilan yang berasal dari ciri sosial dan fisik seseorang. Namun, meski tidak membawa gelar kiai dalam sebutannya, KH. Nahar Akadji diakui sebagai salah satu ulama besar di pesisir Gorontalo.

Lahir dari Kesederhanaan, Hidup dalam Keberkahan

KH. Nahar Akadji lahir pada 17 Agustus 1926 di Kelurahan Pohe, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Ia tumbuh di tengah keluarga nelayan yang hidup bersahaja. Ayahnya melaut, ibunya menjaga rumah tangga. Tapi dari rumah sederhana itulah tumbuh semangat belajar dan cinta terhadap agama yang luar biasa.

Sejak muda, Pagula sudah terbiasa tidur di rumah guru atau kerabat hanya demi menghadiri majelis ilmu. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di Sekolah Rakyat (SR) Kayubulan dan kemudian melanjutkan pendidikan agama di Madrasah Al-Fatah (PP Al-Huda). Di sinilah ia berguru kepada ulama besar KH. Abas Rauf dan mulai menyelami kitab-kitab klasik seperti Ihya Ulumuddin dan Irsyadul Ibad.

Mengajar Sejak Usia Muda, Merangkul Semua Kalangan

Pada usia 23 tahun, Pagula sudah mengajar kitab kuning. Ia tidak menetap di satu tempat, tapi berpindah-pindah dari kampung ke kampung, menggelar pengajian di rumah-rumah warga. Murid-muridnya datang dari berbagai usia dan lapisan masyarakat.

Yang membuat beliau istimewa bukan hanya ilmunya, tapi juga caranya mendidik. Ia dikenal sabar, tidak keras, dan sangat ngemong. Bagi murid-muridnya, ia bukan hanya guru agama, tetapi juga pembimbing spiritual yang penuh kasih.

Membangun Masjid Lewat Arisan: Solusi dari Rakyat untuk Rakyat

Ketika masyarakat pesisir kesulitan beribadah karena masjid yang jauh, Pagula menggagas solusi sederhana namun revolusioner: arisan warga. Melalui sistem gotong royong ini, setiap warga menyisihkan sedikit dari hasil arisan untuk membangun masjid. Tidak ada paksaan, tidak ada iuran besar, hanya semangat kolektif yang disemai dari hati.

Hasilnya luar biasa. Masjid akhirnya berdiri kokoh. Guru beliau, KH. Abas Rauf, bahkan diberi kehormatan meletakkan batu pertama. Ini bukan hanya pembangunan fisik, tapi juga kebangkitan spiritual dan sosial masyarakat.

Penemu Pukat Cincin: Ketika Ulama Jadi Inovator

Pagula juga dikenal sebagai penemu pukat cincin, sebuah alat tangkap ikan yang menjadi berkah bagi para nelayan. Desainnya sederhana tapi sangat efektif. Berkat alat ini, hasil tangkapan masyarakat pesisir meningkat drastis.

Menurut Irfan Akadji, salah satu putranya, pukat buatan Pagula terkenal hingga luar Gorontalo. Nelayan dari Poso, Sulawesi Tengah, bahkan datang langsung untuk belajar dan memesan. Inovasi ini menjadikan beliau bukan sekadar ulama, tapi juga tokoh pemberdaya masyarakat.

Nahar Akadji wafat pada tahun 2010 dan dimakamkan di tanah kelahirannya, Pohe. Makamnya kini menjadi tempat ziarah yang tak pernah sepi. Letaknya hanya sekitar 20 menit dari pusat kota, melewati pemandangan laut dan perbukitan yang tenang—seolah menggambarkan kehidupan beliau yang sejuk, bersahaja, namun dalam maknanya.

Warisan Manis Seorang “Pagula”

Pagula bukan tokoh besar yang mengejar panggung. Ia tidak dikenal lewat panggung ke panggung atau jabatan. Tapi masyarakatlah yang mengangkat dan mengenangnya sebagai sosok yang manis dalam laku, dalam tutur, dan dalam hati.

Di tengah dunia yang makin gaduh, kisah hidup Pagula menjadi oase. Ia membuktikan bahwa ulama sejati tak perlu banyak gelar—cukup hidup dalam pelayanan dan keikhlasan.

Ia bukan hanya “Ti Guru”, bukan hanya “Kiai”. Ia adalah Pagula—pemanis kehidupan umat dari pesisir Gorontalo.

Penulis aktiv di Perkumpulan Kajian Keagaman dan Budaya (Association for Religious  and Culture Studies, ARCS)

  • Penulis: Abdul Kadir Lawero
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Camat Maros baru Rudi: Bersih Masjid adalah Tanggung Jawab Bersama Menyambut Ramadhan

    Camat Maros baru Rudi: Bersih Masjid adalah Tanggung Jawab Bersama Menyambut Ramadhan

    • calendar_month Senin, 16 Feb 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 47
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah, Camat Maros Baru Rudi, S.IP., M.M. mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh jajaran Pemerintah Desa dan Kelurahan agar menggerakkan aksi kebersihan masjid di wilayah masing-masing. Seruan ini bukan sekedar rutinitas tahunan. Camat Rudi menegaskan bahwa kebersihan rumah ibadah merupakan bagian penting dalam membangun kekhusyukan dan kenyamanan […]

  • Dosa karena Sombong Sulit Diampuni, KH. Muhyidin Zeni Ungkap Perbedaannya Play Button

    Dosa karena Sombong Sulit Diampuni, KH. Muhyidin Zeni Ungkap Perbedaannya

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 153
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wakil Rais Syuriyah PWNU Gorontalo, KH. Muhyidin Zeni, menegaskan bahwa dosa yang bersumber dari kesombongan memiliki dampak spiritual yang jauh lebih berbahaya dibanding dosa yang lahir dari dorongan syahwat. Hal ini disampaikan dalam pengajian rutin yang tayang di Nutizen TV, yang disadur dari Kitab Nashoihul Ibad karya Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani yang berisi […]

  • Pendidikan Kunci Utama untuk Memutus Rantai Kemiskinan

    Pendidikan Kunci Utama untuk Memutus Rantai Kemiskinan

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Akses terhadap pendidikan adalah hak mendasar dan kunci utama dalam memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi. Namun di Gorontalo, tantangan anak putus sekolah masih nyata. Faktor sosial-ekonomi keluarga menjadi penyebab utama anak putus sekolah. Masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dari sisi pendidikan semata, tetapi juga harus menyentuh aspek kesejahteraan, pengentasan kemiskinan, dan pemberdayaan sosial. Hal […]

  • ‎PMII Soroti Kebijakan Pemerintah Pangandaran Terkait Roadmap Kesehatan Fiskal

    ‎PMII Soroti Kebijakan Pemerintah Pangandaran Terkait Roadmap Kesehatan Fiskal

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 60
    • 0Komentar

    Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Pangandaran menyoroti pemerintah daerah terkait roadmap kesehatan fiskal yang dinilai belum jelas dan transparan. Pasalnya, penurunan utang daerah sebesar Rp 134 miliar dalam waktu singkat menimbulkan pertanyaan tentang logika fiskal dan kemungkinan adanya sihir anggaran atau akrobat keuangan. Selasa, 8 Juli 2025. ‎Ridwan Fauzi, salah satu aktivis […]

  • Natal, Toleransi, dan Warisan Gus Dur 

    Natal, Toleransi, dan Warisan Gus Dur 

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Perayaan Natal bagi umat Kristiani dan Katolik di Indonesia yang jatuh pada 25 Desember 2025 merupakan momentum sarat nilai spiritual. Ia bukan sekadar peringatan kelahiran Yesus Kristus, melainkan ruang refleksi tentang kasih, perdamaian, dan kemanusiaan. Namun, Natal juga hadir dalam lanskap sosial Indonesia yang lebih luas–sebuah negeri yang tidak pernah kekurangan perayaan. Dari harlah organisasi, […]

  • Catatan Kecil Seorang Anak PNS

    Catatan Kecil Seorang Anak PNS

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Husin Ali
    • visibility 396
    • 0Komentar

    Opini ini saya tulis di sela perjalanan panjang, di ruang tunggu Bandara Cengkareng, Jakarta. Waktu seakan berhenti sejenak di antara pengumuman keberangkatan dan langkah-langkah penumpang yang tergesa. Saya dan seorang sahabat—sesama PNS, sama-sama dipercaya mengemban amanah pada penugasan kali ini mendampingi Wakil Walikota Gorontalo Bapak Indra Gobel — sedang bersiap menunggu penerbangan menuju Aceh Tamiang, […]

expand_less