Utang Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
- visibility 126
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ramadhan selalu punya cara unik mengajarkan akuntansi kepada umat. Bedanya, ini bukan akuntansi laba-rugi perusahaan, melainkan laporan keuangan batin. Dalam bahasa sederhana: kita semua punya “Utang Langit”. Bedanya dengan utang bank, yang ini tidak ditagih debt collector, tapi oleh nurani.
Di bulan suci, manusia mendadak rajin menghitung. Menghitung pahala, menghitung takjil, menghitung THR, bahkan menghitung berapa kali sudah khatam Al-Qur’an. Tapi anehnya, kita jarang menghitung utang-utang spiritual kita. Padahal dalam perspektif akuntansi syariah, kewajiban (liabilities) itu harus diakui sebelum bicara aset. Kalau di neraca hidup, mungkin pos paling besar bukan “Harta Lancar”, melainkan “Kewajiban kepada Allah dan Sesama”.
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, agama tidak pernah dipisahkan dari realitas sosial. Ibadah bukan sekadar ritual vertikal, tetapi juga tanggung jawab horizontal. Maka “Utang Langit” bukan cuma soal shalat yang bolong atau puasa yang setengah hari, tetapi juga janji yang tak ditepati, amanah yang dilalaikan, dan hak orang lain yang tertunda.
Almarhum Abdurrahman Wahid atau yang akrab kita panggil Gus Dur, pernah berkata dengan gaya santainya, “Tuhan tidak perlu dibela.” Dalam akuntansi iman, Tuhan tidak butuh setoran pembelaan. Yang butuh diselamatkan itu justru laporan moral kita sendiri. Kadang kita terlalu sibuk membela Tuhan di media sosial, tetapi lupa membayar utang tetangga yang kita pinjam sebelum Ramadhan tahun lalu.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar