Breaking News
light_mode
Trending Tags

Tumbilotohe: Cahaya Tradisi Gorontalo Menyambut Idulfitri

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
  • visibility 196
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Setiap daerah di Indonesia memiliki cara tersendiri dalam menyambut Hari Raya Idulfitri. Di Gorontalo, ada sebuah tradisi yang sarat dengan nilai adat dan spiritualitas Islam, yakni tumbilotohe. Tradisi ini digelar setiap malam ke-27 Ramadan dan dikenal sebagai malam pemasangan lampu oleh masyarakat di berbagai sudut kota dan desa.

Konon, tradisi tumbilotohe telah ada sejak abad ke-15 Masehi. Pada masa itu, warga yang hendak menuju masjid untuk melaksanakan salat tarawih dan membayar zakat membutuhkan penerangan di sepanjang jalan. Karena belum ada listrik, masyarakat menggunakan lampu yang dibuat dari getah damar sebagai sumber cahaya. Lampu tradisional tersebut mampu menyala cukup lama dan menjadi penunjuk jalan bagi masyarakat yang menuju masjid.

Seiring perkembangan zaman, lampu dari getah damar kemudian digantikan dengan lampu padamala, yaitu lampu tradisional berbahan minyak kelapa, air, dan sumbu kapas. Biasanya lampu ini ditempatkan dalam cangkir kecil yang diberi warna sehingga terlihat indah saat disusun dan dinyalakan.

Tumbilotohe sebagai Tradisi Penghargaan

Bagi masyarakat Gorontalo, tumbilotohe bukan sekadar tradisi adat, melainkan simbol penghargaan bagi umat Islam yang telah menjalani ibadah puasa selama hampir sebulan penuh. Tradisi ini menjadi penanda bahwa bulan Ramadan akan segera berakhir, sekaligus momentum untuk menyambut malam-malam penuh kemuliaan.

Di kalangan Nahdliyin Gorontalo, tumbilotohe juga dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap para sahabat Nabi yang dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Pada malam ke-27 Ramadan, ketika lampu-lampu dinyalakan, masyarakat biasanya menyebut nama keempat sahabat tersebut secara berurutan sambil membaca Surah Al-Qadr.

Lampu-lampu tradisional itu dipasang di depan rumah, di pinggir jalan, bahkan di tanah lapang. Jumlah lampu yang dipasang biasanya disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga yang tinggal di rumah tersebut.

Selain itu, masyarakat Gorontalo juga memasang alikusu di pintu gerbang rumah. Alikusu merupakan kerangka hias yang mengikuti bentuk gerbang rumah dan dihiasi patodu (batang tebu) serta lambi (pohon pisang yang berbuah). Dalam tradisi ini, alikusu memiliki makna simbolik sebagai tempat hidup atau tempat tinggal. Lampu-lampu yang dinyalakan di dalamnya menjadi penerang agar manusia tidak tersesat dalam perjalanan hidup.

Secara filosofis, alikusu juga dimaknai sebagai tempat berkumpulnya roh dan jasad para leluhur. Lampu melambangkan jasad, sedangkan cahaya lampu melambangkan ruh.

Tradisi yang Sarat Harapan Keberkahan

Masyarakat Gorontalo meyakini bahwa Tumbilotohe adalah tradisi yang sarat harapan untuk memperoleh keberkahan pada malam Lailatul Qadr, yang diyakini terjadi pada sepuluh malam terakhir Ramadan.

Pada malam Tumbilotohe, biasanya ada anak-anak atau remaja yang berkeliling dari rumah ke rumah untuk meminta zakati (uang sedekah). Tradisi ini dipercaya sebagai bagian dari upaya mencari keberkahan di malam yang mulia tersebut.

Selain lampu damar dan padamala, masyarakat juga menggunakan moronggo, yaitu obor yang terbuat dari bambu kuning dengan sumbu kain atau sabut kelapa yang direndam minyak tanah. Ada pula tonggolo’opo, semacam lampion bambu yang dibuat dari bambu besar yang dibelah pada bagian ujungnya, lalu dihiasi kertas warna-warni dengan lampu di dalamnya.

Ketika malam Tumbilotohe tiba, suasana Kota Gorontalo berubah menjadi lautan cahaya. Ribuan bahkan jutaan tohetutu (lampu botol berisi minyak tanah) dipasang di sepanjang jalan, halaman rumah, hingga tanah lapang. Jalanan menjadi ramai oleh warga yang ingin menyaksikan keindahan lampu-lampu tersebut, sehingga kemacetan sering kali tak terhindarkan.

Momentum Muhasabah di Penghujung Ramadan

Tumbilotohe tidak hanya menjadi perayaan yang meriah, tetapi juga momentum muhasabah atau refleksi diri di penghujung Ramadan. Tradisi ini mengajak masyarakat untuk merenungkan perjalanan spiritual selama sebulan berpuasa.

Dalam beberapa hal, tradisi ini sering dibandingkan dengan Diwali di India yang juga dikenal sebagai festival cahaya. Namun perbedaannya, tumbilotohe memiliki konteks keagamaan Islam yang kuat karena dilaksanakan pada malam-malam terakhir Ramadan.

Keunikan tradisi ini juga mendapat pengakuan nasional. Pada tahun 2007, tumbilotohe tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) ketika masyarakat Gorontalo berhasil menyalakan sekitar lima juta lampu secara serentak.

Bagi warga Gorontalo yang berada di perantauan, Tumbilotohe menjadi magnet tersendiri untuk pulang kampung. Banyak yang tidak ingin melewatkan momen istimewa ini, karena bagi mereka tumbilotohe bukan sekadar tradisi, melainkan cahaya kebersamaan, spiritualitas, dan identitas budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.

  • Penulis: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Malimbong dan Madzilalang: Merunut Cahaya di Balik Tumpukan Ilmu

    Malimbong dan Madzilalang: Merunut Cahaya di Balik Tumpukan Ilmu

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 241
    • 0Komentar

    Di zaman ketika ilmu melimpah dan akses pengetahuan terbuka lebar sepertinya makin Ada jarak yang antara mengetahui dan menjadi—jarak yang tak selalu bisa dijembatani oleh kecerdasan. Ternyata tidak semua Ilmu menjadi jalan kebijaksanaan, ilmu yang tidak meneduhkan, sering kali hanya menjadi beban kesombongan. Dalam tradisi lisan masyarakat Mandar, ada satu kata yang diucapkan dengan penuh […]

  • Cerita Gus Dur yang Berpulang Bersama Jenderal Salim

    Cerita Gus Dur yang Berpulang Bersama Jenderal Salim

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 699
    • 0Komentar

    Ada sebuah kisah yang sejatinya akan terdengar pada peringatan Haul ke-16 Gus Dur, yang diselenggarakan di Masjid At-Taqwa, Pambusuang, Polewali Mandar, 12 Februari 2026. Kisah itu semula hendak disampaikan oleh Mayjen TNI (Purn.) Salim S. Mengga. Namun, cerita sejarah tersebut tampaknya tidak akan pernah terucap, sebab Puang Salim, sapaan akrab beliau telah berpulang ke hadirat […]

  • Kontroversi Abah Aos dan Ujian Akidah Umat di Era Media Sosial

    Kontroversi Abah Aos dan Ujian Akidah Umat di Era Media Sosial

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle Nur Shollah Bek
    • visibility 388
    • 0Komentar

    “Menimbang Klaim Spiritual dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan Akal Sehat” Nama Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul—yang dikenal luas sebagai Abah Aos—kembali menjadi pusat perhatian publik. Tokoh spiritual Tarekat Qodiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) asal Ciamis, Jawa Barat ini menuai gelombang kritik dari berbagai kalangan umat Islam akibat sejumlah pernyataan yang beredar luas di media sosial dan dinilai […]

  • Wali Kota Adhan Dambea Ubah Jam Kerja Guru, Mulai Berlaku 1 April 2026

    Wali Kota Adhan Dambea Ubah Jam Kerja Guru, Mulai Berlaku 1 April 2026

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 481
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kota Gorontalo kembali menunjukkan komitmennya dalam menghargai dedikasi para pahlawan tanpa tanda jasa. Sebagai bentuk apresiasi terhadap pengabdian guru, Wali Kota Adhan Dambea resmi menetapkan kebijakan perubahan jam kerja khusus bagi guru dan tenaga kependidikan. Kebijakan strategis ini dijadwalkan mulai berlaku efektif pada 1 April 2026 dan menyasar seluruh tenaga pendidik berstatus […]

  • Ilmu yang Masuk Angin

    Ilmu yang Masuk Angin

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak
    • visibility 212
    • 0Komentar

    Di pesantren, ada petuah sederhana: “Ilmu iku kudu manfaat, nek mung pinter tok yo mblenger.” Ilmu itu harus bermanfaat, kalau cuma pintar saja bisa bikin kembung. Sayangnya, sebagian akademisi hari ini tampak bukan kembung karena terlalu banyak makan, tetapi karena terlalu lama tinggal di menara gading, ruang tinggi, dingin, dan jauh dari sawah, laut, serta […]

  • Mengapresiasi Transparansi, Sulawesi Tengah Anugerahkan Keterbukaan Informasi Publik 2025

    Mengapresiasi Transparansi, Sulawesi Tengah Anugerahkan Keterbukaan Informasi Publik 2025

    • calendar_month Senin, 15 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 153
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Komitmen menghadirkan pemerintahan yang terbuka dan melayani kembali ditegaskan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui Penganugerahan Keterbukaan Informasi Publik Tahun 2025. Kegiatan yang digelar oleh Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Diskominfosantik) Provinsi Sulawesi Tengah bekerja sama dengan Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Tengah ini berlangsung di Ruang Polibu, Senin (15/12/2025). Acara tersebut menjadi ruang […]

expand_less