Deviden Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 60
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./ Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di bulan Ramadhan, banyak orang tiba-tiba menjadi “akuntan langit dadakan”. Mereka mulai rajin menghitung: berapa kali tarawih, berapa juz yang dibaca, berapa rupiah yang disedekahkan. Kalau di dunia korporasi kita mengenal laporan laba rugi, di bulan suci ini umat Islam seperti sedang menyusun “laporan laba langit”. Bedanya, auditor kita bukan kantor akuntan publik, tapi langsung Yang Maha Kuasa—yang tidak bisa diajak negosiasi, apalagi “diskon opini”.
Dalam logika akuntansi modern, deviden adalah pembagian keuntungan kepada pemegang saham. Namun dalam logika Ramadhan, ada konsep yang lebih unik: deviden langit. Ini bukan dibagikan oleh direksi, melainkan oleh Tuhan, dan tidak masuk rekening bank, melainkan rekening amal. Bedanya lagi, deviden ini tidak pernah rugi, tidak tergerus inflasi, dan tidak kena pajak final.
Humor ala Nahdlatul Ulama sering mengajarkan bahwa hidup ini jangan terlalu serius, nanti stres sendiri. Gus Dur pernah menyindir, “Tuhan saja Maha Pengampun, masa manusia lebih galak dari Tuhan?” Dalam konteks akuntansi Ramadhan, kita sering terlalu sibuk menghitung angka, tapi lupa menghitung makna. Kita rajin mencatat sedekah, tapi lupa mencatat niat. Padahal dalam “standar akuntansi langit”, niat itu seperti fair value—menentukan nilai sebenarnya dari setiap transaksi ibadah.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar