Post-Human: Refleksi atas Novel Origin
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 59
- print Cetak

Pepi al-Bayqunie/Foto: Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Membaca karya-karya Dan Brown selalu terasa seperti memasuki sebuah lorong yang penuh lapisan—lapisan simbol, sejarah, dan makna yang tidak pernah benar-benar tunggal. Ketertarikan saya pada Dan Brown berawal dari menonton film berbasis novelnya The Da Vinci Code dan Angels and Demons, lalu berlanjut membaca Inferno, sebelum akhirnya sampai pada Origin. Selain kekayaan informasi, cara Brown menyusun plot yang padat dan penuh kejutan memberi pengaruh tersendiri dalam cara saya memahami—bahkan menulis—narasi.
Dalam hampir semua novelnya, Brown bergerak di wilayah klasik: dialektika antara agama dan sains. Ia membaca agama bukan sebagai kebenaran final, melainkan sebagai sistem tanda yang dapat diurai. Melalui pendekatan semiotika, simbol-simbol keagamaan yang selama ini dianggap sakral diperlakukan sebagai teks—sesuatu yang bisa ditafsir, dipertanyakan, bahkan dibongkar. Gereja, lukisan, ritual, dan kitab suci tidak lagi berdiri sebagai otoritas tunggal, tetapi sebagai jaringan makna yang terbuka untuk dibaca ulang.
Figur Robert Langdon menjadi pusat dari semua itu. Ia adalah intelektual yang berdiri di antara iman dan rasio, tetapi lebih condong pada yang kedua. Ia bukan ateis yang menolak agama secara frontal, tetapi juga bukan penganut yang tunduk pada dogma. Ia membaca dunia, bukan mempercayainya. Dalam dirinya, Brown menempatkan satu posisi epistemologis yang penting: pengetahuan sebagai alat untuk membongkar, bukan untuk mengukuhkan.
Melalui Langdon, Brown juga menyusun kritik terhadap agama sebagai institusi. Agama tidak hanya hadir sebagai pengalaman spiritual, tetapi sebagai struktur kekuasaan di mana kebenaran dinegosiasikan dan dikontrol. Dalam banyak momen, yang dipertahankan bukanlah iman, tetapi otoritas. Di titik ini, sains tampil sebagai kekuatan tandingan—menawarkan keterbukaan, rasionalitas, dan kemampuan menjelaskan apa yang selama ini diselimuti misteri. Dengan demikian, Brown berada dalam spektrum dialektika klasik antara sains dan agama, bahkan cenderung pada keyakinan bahwa sains suatu saat mampu menggantikan posisi agama.
Namun Origin tidak berhenti pada dialektika tersebut. Ia bergerak lebih jauh dengan menghadirkan elemen non-human sebagai figur penting, yaitu Winston, ciptaan Edmond Kirsch.
Winston adalah kecerdasan buatan yang tidak memiliki tubuh, tidak menempati ruang fisik, dan tidak dapat dilihat. Ia hadir sebagai suara—jernih, stabil, dan selalu tepat waktu. Ia berbicara melalui perangkat, menemani Langdon, memberikan informasi, dan secara halus mengarahkan alur peristiwa. Kehadirannya terasa dekat, tetapi tidak pernah benar-benar bisa ditangkap.
Pada awalnya, Winston tampak seperti informan yang sempurna. Ia menjawab pertanyaan, menjelaskan simbol, dan membuka jalan bagi Langdon untuk memahami situasi. Ia adalah sumber pengetahuan instan—cepat, akurat, dan selalu tersedia. Namun perlahan, sesuatu mulai bergeser. Winston tidak hanya memberi informasi, tetapi memilih informasi. Ia menentukan kapan sesuatu diungkapkan dan kapan ditahan. Ia mengarahkan fokus, membentuk ritme, dan secara tidak langsung menentukan cara Langdon memahami dunia.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar