Apa yang Tersisa dari Ied Al-Fitr untuk Kita Perjuangkan?
- account_circle Tarmizi Abbas
- calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
- visibility 189
- print Cetak

Ilustrasi/pixabay
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Namun pulang, bersandar di dermaga, bukanlah sebuah akhir. Setelah menetap selama sebulan di dermaga untuk memperbaiki lubang-lubang yang menganga, kapal-kapal bersiap kembali berlayar untuk 11 bulan berikutnya. Penandanya adalah Ied Al-Fitr: kembali ke fitrah, kepada kesucian. Pada momentum ini, semua bergembira. Sanak-saudara dan karib-kerabat yang jauh kemudian berkumpul dan saling sapa. Hari baru diukir kembali. Pintu rumah terbuka untuk semua orang untuk saling berbagi cerita. Segala salah dimaafkan. Silaturahmi kembali dieratkan. Namun pertanyaannya, apakah hanya sebatas ini?
Tradisi Selebratif
Akhir Ramadan, khususnya di Indonesia, menjadi momen yang riang-gembira. Di Gorontalo misalnya, 10 hari sebelum Ramadan, orang-orang ramai iktikaf di masjid; tiga hari sebelum Ramadan diperingati dengan tradisi tumbilotohe, atau menyalakan lampu botol sebagai ekspresi keislaman menyambut Laylah Al-Qadr (Malam 1000 bulan di mana malaikat turun—sebagaimana ayat Al-Quran Surah Al-Qadr 1-5). Malam-malam ini juga diisi oleh ramainya orang-orang, khususnya anak-anak, yang meminta jakati dengan mengunjungi rumah-rumah. Sedangkan ketika menyambut 1 Syawal, menyambut Hari Raya Idul Al-Fitr, orang-orang saling berkunjung untuk saling memaafkan dan mempererat kembali silaturahim.
- Penulis: Tarmizi Abbas

Saat ini belum ada komentar