Apa yang Tersisa dari Ied Al-Fitr untuk Kita Perjuangkan?
- account_circle Tarmizi Abbas
- calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
- visibility 191
- print Cetak

Ilustrasi/pixabay
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tradisi-tradisi yang demikian ini menunjukkan bahwa akhir Ramadan hingga menyambut 1 Syawal di Gorontalo itu memiliki watak yang selebratif. Kita bisa menyebut bahwa kegembiraan ini sebagai festival. Dalam penelusuran historis yang dilakukan oleh Mun’im Sirry di dalam Islam Revisionis (2018) memang, kata Id sendiri di dalam bahasa Arab bermakna “festival”. Kata ini sebenarnya merupakan lingua franca Aramain, lalu diadopsi oleh orang-orang Arab dengan arti yang sama. Nabi Muhammad, seturut penjelasan Sirry, pun tidak pernah melarang hal ini. Sebab beliau menyadari bahwa, di dalam masa-masa pembentukan Islam awal, kegembiraan menyambut hari-hari besar pada agama-agama sebelum Islam itu sudah ada dan tidak bermasalah.
Hal ini misalnya ditunjukkan ketika Aisyah R.A., istri Nabi Muhammad Saw, menyenandungkan nyanyian di rumah Nabi pada saat Idul Fitr. Meskipun sempat ditegur oleh Abu Bakar, ayahanda Aisyah, namun respons nabi mengejutkan karena beliau justru berkata bahwa “biarkanlah setiap masyarakat punya festival (id) sendiri, dan hari ini adalah hari festival kita” (Sirry, 2018). Ini menunjukkan bahwa Nabi, pemegang otoritas tertinggi dalam Islam bukan hanya memperbolehkan “kegembiraan” menyambut lebaran, melainkan juga turut melanjutkan tradisi yang telah ada sebelumnya, khususnya di dalam pada agama Abrahamik: Yahudi dan Kristen. Dengan demikian, watak selebratif yang diwujudkan oleh masyarakat Gorontalo, dengan cara apa pun juga untuk menyambut kegembiraan di 1 Syawal, adalah hal yang wajar.
- Penulis: Tarmizi Abbas

Saat ini belum ada komentar