Apa yang Tersisa dari Ied Al-Fitr untuk Kita Perjuangkan?
- account_circle Tarmizi Abbas
- calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
- visibility 197
- print Cetak

Ilustrasi/pixabay
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jika membacanya dengan konteks demikian, saya percaya Islam memiliki jalan masuk untuk mengkritisi segenap dampak potensial dari sahnya RUU TNI. Misalnya, dalam konteks eksploitasi, Islam menaruh perhatian agar manusia tidak membuat kerusakan di bumi (Qs. Al-A’raf: 56), menggunakan sumber daya alam secara bijak dan tidak melampaui batas (Qs. Al-A’raf: 31), memanfaatkan alam dengan seadil-adilnya (Qs. Ar-Rahman 78). Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nabi Muhammad bahkan menerangkan bahwa “Bumi itu seperti ibu kalian. Maka, jagalah dia dan jangan merusaknya.” Dalam pasase yang lain, Islam juga menjunjung tinggi martabat perempuan (Qs. Al-Ahzab: 35), membela perempuan dari segala bentuk pelecehan (Qs. Al-Qasas: 77), bahkan menaruh kepentingan bahwa perempuan berhak melawan ketidakadilan lewat berbagai hadist Nabi. Kita juga bisa melihat bagaimana Islam menaruh keistimewaan terhadap ilmu pengetahuan dengan membebaskan setiap orang untuk berpikir sebagai bagian dari pencarian kebenaran (Qs. Al-Baqarah: 256), memberikan ruang pada perdebatan akademik (Qs. An-Nahl: 125), hingga pencarian kebenaran yang berdasarkan bukti (Qs. Al-Baqarah: 111).
Saya pikir, beberapa doktrin Islam di atas yang telah dikemukakan itu dapat menjadi basis untuk membaca Islam pada kondisi saat ini melalui pre-text, teks dan konteks. Tiga hal ini adalah model pembacaan terhadap “totalitas pewahyuan” ala Ahmed. Apa tujuannya? Ya tentu saja dengan mendorong adanya payung hukum rekognisi hak-hak mereka yang rentan lewat Undang-Undang dan peraturan terkait. Hal-hal yang demikian itulah yang perlu dilakukan dan sangat mendesak. Saya pikir, seperti inilah Islam semestinya diterjemahkan pasca-Lebaran nanti. Kita tentu saja terlambat. Namun tetap saja, momentum syawalan ini menjadi penting karena “kapal-kapal baru akan berlabuh”. Jalan terjal yang bakal dilalui dengan hantaman ombak sana-sini baru akan dimulai. Bahkan meskipun kita berada di akhir sekalipun, tidak ada yang sia-sia. Sabab ujar Nabi Muhammad yang agung: “meskipun kiamat sebentar lagi dan kamu masih memegang tunas untuk ditanam, maka lanjutkanlah niatmu dan tanamlah!”. A luta continua!
Penulis : Tarmizi Abbas, MA – (Alumni CRCS UGM, Yoyakarta dan Peneliti di Inhides Gorontalo)
- Penulis: Tarmizi Abbas

Saat ini belum ada komentar