Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Apa yang Tersisa dari Ied Al-Fitr untuk Kita Perjuangkan?

  • account_circle Tarmizi Abbas
  • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
  • visibility 537
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Idul Fitr dan Momen Perjuangan Setelahnya

Pulang di dermaga, sekali lagi, bukanlah akhir. Di depan sana, setelah khatib turun dari mimbar pasca Salat Ied Al-Fitr, setelah bermaaf-maafan dan merayakan kegembiraan, kapal-kapal kembali bersiap untuk berlayar. Pertanyaannya, apakah momen-momen pelayaran kembali akan kita arungi dengan begitu-begitu saja? Maksud saya, apakah marginalitas, despotisme, kesalihan sosial yang terbenam, akan tetap kita biarkan terjadi? Tiga masalah ini begitu akut dan selalu kita hadapi setiap harinya. Saya pikir, hanya dengan membebaskan Islam dari sekadar urusan-urusan ibadah menuju aksi merupakan jawabannya.

Membebaskan Islam, sekali lagi, adalah term yang saya gunakan untuk memberi pandangan alternatif terhadap tafsir Islam yang kaku dan literal-atomistik, dengan mengajukan pandangan Islam yang lebih ramah dan akomodatif terhadap realitas “yang lain” di dalam kehidupan sehari-hari. Islam tidak sekadar urusan legal formal; mengurusi apa yang Islami dan tidak Islami. Lebih dari itu, Islam juga beririsan dengan persoalan HAM, egalitarianisme, filsafat, sosial dan budaya, Islam lokal vis a vis Islam universal. Pandangan semacam ini hanya bisa dilakukan dengan melakukan pembacaan secara terus menerus terhadap realitas kebudayaan yang ada.

Shahab Ahmed, di dalam What is Islam? (2015) memberikan pandangan yang sangat baik terkait hal ini. Baginya, korpus besar dalam Islam (Al-Quran dan Hadist) memang menjadi standar utama setiap Muslim mengambil kebenaran. Namun pada dasarnya, ada “pre-teks” atau sebuah fenomen yang tidak tertangkap oleh “teks” Al-Quran dan Hadist. Dua hal ini bagaikan gunung es: teks adalah gunung es yang terlihat di permukaan; dan “pre-text” merupakan gunung es yang tertutupi air laut. Selanjutnya, ada yang disebut “context” yang bagi Ahmed merupakan keseluruhan pemaknaan dari tafsir terhadap teks dan pre-teks yang dilakukan sepanjang sejarah. Bagi Ahmed, cara untuk keluar dan membebaskan Islam adalah dengan melakukan pembacaan secara totalitas terhadap wahyu kenabian: teks, pre-teks dan konteks.

  • Penulis: Tarmizi Abbas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kuasa Hukum Latif Mangan, Fakhrurrozi Arrusady Tegaskan Putusan NO Bukan Kemenangan Salah Satu Pihak

    Kuasa Hukum Latif Mangan, Fakhrurrozi Arrusady Tegaskan Putusan NO Bukan Kemenangan Salah Satu Pihak

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 285
    • 0Komentar

    Nulondalo.com – Putusan perkara perdata Nomor 19/Pdt.G/2025/PN Lbt yang diputus oleh Pengadilan Negeri Lembata pada 19 Februari 2026 memicu polemik di tengah masyarakat. Sengketa hak kepemilikan tanah antara Latif Mangan dan Mahmudin Tukang tersebut menuai beragam tafsir, khususnya terkait amar putusan yang menyatakan gugatan “niet ontvankelijke verklaard” (NO) atau tidak dapat diterima. Kuasa hukum Latif […]

  • DPRD Sulteng Desak Gubernur Hentikan Aktivitas PT Pantas Indomining

    DPRD Sulteng Desak Gubernur Hentikan Aktivitas PT Pantas Indomining

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 466
    • 0Komentar

    DPRD menilai langkah cepat dan tegas dari pemerintah provinsi merupakan bentuk tanggung jawab konstitusional dalam menegakkan hukum dan melindungi masyarakat. Keterlambatan penanganan dikhawatirkan akan memperluas dampak sosial, lingkungan, maupun politik. Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Dandy Adhi Prabowo, menegaskan bahwa pihaknya masih menunggu sikap Gubernur. “Kami menunggu sikap Bapak Gubernur Sulawesi […]

  • Goodwill Langit

    Goodwill Langit

    • calendar_month Minggu, 8 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 262
    • 0Komentar

    Selama sebelas bulan sebelumnya, mungkin kita terlalu sibuk mengejar laba dunia: target kerja, kenaikan jabatan, investasi, dan berbagai proyek kehidupan. Tidak ada yang salah dengan itu. Akuntansi juga tidak melarang orang mencari keuntungan. Namun Ramadhan mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak hanya memiliki laporan laba rugi, tetapi juga laporan nilai kemanusiaan. Di sinilah konsep Goodwill Langit […]

  • Ismail Fahmi: Platform Digital Sudah Bisa Deteksi Usia Tanpa KTP, Indonesia Perlu Adaptasi Teknologi AI

    Ismail Fahmi: Platform Digital Sudah Bisa Deteksi Usia Tanpa KTP, Indonesia Perlu Adaptasi Teknologi AI

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 376
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pakar analisis media sosial sekaligus Founder Drone Emprit, Ismail Fahmi, menilai platform digital saat ini sebenarnya sudah memiliki kemampuan untuk mendeteksi usia pengguna tanpa harus bergantung pada verifikasi identitas seperti KTP. Hal tersebut disampaikan Fahmi merespons rencana pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia yang akan menerapkan pembatasan akses anak di bawah […]

  • PWNU Gorontalo Gelar Pekan Ekonomi Syariah, Dorong Kemandirian Umat Lewat Ekonomi Syariah

    PWNU Gorontalo Gelar Pekan Ekonomi Syariah, Dorong Kemandirian Umat Lewat Ekonomi Syariah

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 138
    • 0Komentar

    Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo secara resmi menggelar Pekan Ekonomi Syariah (PES) di Kantor PWNU Gorontalo, Selasa (28/10/2025). Kegiatan ini menjadi ajang penting dalam upaya mendorong kemandirian ekonomi umat melalui penguatan ekosistem ekonomi syariah di daerah. Acara pembukaan turut dihadiri oleh berbagai lembaga dan instansi strategis, antara lain Bursa Efek Indonesia (BEI), Pintraco, Otoritas […]

  • NU Gorontalo dan Kotak Macis

    NU Gorontalo dan Kotak Macis

    • calendar_month Senin, 13 Sep 2021
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 98
    • 0Komentar

    NU memang terlalu seksi bagi kalangan internal maupun eksternal atau bagi siapa saja yang memandangnya. Apalagi jika dipandang dari luar bangunan ke-NU-an dengan menggunakan frame subjektif, sosial dan politik. Dalam konteks ini, NU tidak hanya sekedar seksi tapi ternyata juga begitu mempesona. Maka tidak heran jika perebutan tampuk kepemimpinan di NU menjadi sesuatu yang sangat […]

expand_less