Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Apa yang Tersisa dari Ied Al-Fitr untuk Kita Perjuangkan?

  • account_circle Tarmizi Abbas
  • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
  • visibility 694
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Idul Fitr dan Momen Perjuangan Setelahnya

Pulang di dermaga, sekali lagi, bukanlah akhir. Di depan sana, setelah khatib turun dari mimbar pasca Salat Ied Al-Fitr, setelah bermaaf-maafan dan merayakan kegembiraan, kapal-kapal kembali bersiap untuk berlayar. Pertanyaannya, apakah momen-momen pelayaran kembali akan kita arungi dengan begitu-begitu saja? Maksud saya, apakah marginalitas, despotisme, kesalihan sosial yang terbenam, akan tetap kita biarkan terjadi? Tiga masalah ini begitu akut dan selalu kita hadapi setiap harinya. Saya pikir, hanya dengan membebaskan Islam dari sekadar urusan-urusan ibadah menuju aksi merupakan jawabannya.

Membebaskan Islam, sekali lagi, adalah term yang saya gunakan untuk memberi pandangan alternatif terhadap tafsir Islam yang kaku dan literal-atomistik, dengan mengajukan pandangan Islam yang lebih ramah dan akomodatif terhadap realitas “yang lain” di dalam kehidupan sehari-hari. Islam tidak sekadar urusan legal formal; mengurusi apa yang Islami dan tidak Islami. Lebih dari itu, Islam juga beririsan dengan persoalan HAM, egalitarianisme, filsafat, sosial dan budaya, Islam lokal vis a vis Islam universal. Pandangan semacam ini hanya bisa dilakukan dengan melakukan pembacaan secara terus menerus terhadap realitas kebudayaan yang ada.

Shahab Ahmed, di dalam What is Islam? (2015) memberikan pandangan yang sangat baik terkait hal ini. Baginya, korpus besar dalam Islam (Al-Quran dan Hadist) memang menjadi standar utama setiap Muslim mengambil kebenaran. Namun pada dasarnya, ada “pre-teks” atau sebuah fenomen yang tidak tertangkap oleh “teks” Al-Quran dan Hadist. Dua hal ini bagaikan gunung es: teks adalah gunung es yang terlihat di permukaan; dan “pre-text” merupakan gunung es yang tertutupi air laut. Selanjutnya, ada yang disebut “context” yang bagi Ahmed merupakan keseluruhan pemaknaan dari tafsir terhadap teks dan pre-teks yang dilakukan sepanjang sejarah. Bagi Ahmed, cara untuk keluar dan membebaskan Islam adalah dengan melakukan pembacaan secara totalitas terhadap wahyu kenabian: teks, pre-teks dan konteks.

  • Penulis: Tarmizi Abbas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemerkosaan terhadap Teks: Gus Aniq Kritik Pembelaan Kurban Presiden dengan Dana APBN

    Pemerkosaan terhadap Teks: Gus Aniq Kritik Pembelaan Kurban Presiden dengan Dana APBN

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 1.506
    • 1Komentar

    Menurut Gus Aniq, jika sejak awal kurban tersebut dinyatakan sebagai kurban negara atau atas nama rakyat Indonesia, maka persoalannya bisa berbeda. Namun ketika dana publik digunakan untuk kurban atas nama pribadi, maka teks tersebut justru tidak relevan dijadikan dasar pembelaan. “Di sinilah problemnya. Teks Al-Fiqhul Manhaji malah memberi isyarat bahwa kurban atas nama pribadi dengan […]

  • Anak Dibatasi Medsos, Tapi Konten Dewasa Tetap Bebas? Ini Kata Majelis Ulama Indonesia

    Anak Dibatasi Medsos, Tapi Konten Dewasa Tetap Bebas? Ini Kata Majelis Ulama Indonesia

    • calendar_month Minggu, 29 Mar 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 470
    • 0Komentar

    Aplikasi dengan fitur privasi tinggi memungkinkan pengguna mengakses konten secara tersembunyi tanpa pengawasan. Tak hanya faktor teknis, aspek psikologis juga turut memengaruhi. Dalam beberapa kasus, konsumsi konten dewasa digunakan sebagai pelarian dari stres, tekanan hidup, hingga rasa kesepian. Hal ini menjadikan konten tersebut sebagai bentuk hiburan instan bagi sebagian orang. Pengamat menilai, persoalan ini tidak […]

  • GP Ansor Kota Gorontalo Gelar Istighosah dan Doa Jaga Aspirasi Indonesia

    GP Ansor Kota Gorontalo Gelar Istighosah dan Doa Jaga Aspirasi Indonesia

    • calendar_month Selasa, 2 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 250
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pengurus Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Gorontalo menggelar istighosa dan Doa dengan tema “Jaga Aspirasi Jaga Indonesia“ dalam rangka melaksanakan instuksi pengurus pusat (PP)Ansor . kegiatan ini berlangsung pada Minggu (31 /8/2025), bertempat di Masjid At Takwa, Kel Bulotada Timur, Kec. Sipatana . Ketua PC GP Ansor Kota Gorontalo, Ustadz Yajib Alhabsi, […]

  • KNPI Bone Bolango Gelar Rembuk Pemuda : Dorong Kolaborasi Membangun Daerah

    KNPI Bone Bolango Gelar Rembuk Pemuda : Dorong Kolaborasi Membangun Daerah

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 263
    • 0Komentar

    Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bone Bolango menggelar Rembuk Pemuda bertema “Kolaborasi Pemuda dalam Membangun Daerah” pada Sabtu, (15/11/2025) , di Resto Onato by Swiss 18. Kegiatan ini menjadi ruang temu dan dialog bagi berbagai elemen pemuda untuk memperkuat peran strategis mereka dalam pembangunan daerah. Rembuk pemuda tersebut dihadiri oleh seluruh unsur kepemudaan, mulai […]

  • Gusnar Bongkar 3 Agenda Besar Gorontalo, HMI Diminta Jadi Motor Perjuangan

    Gusnar Bongkar 3 Agenda Besar Gorontalo, HMI Diminta Jadi Motor Perjuangan

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 307
    • 0Komentar

    “Kalau Aceh dikenal sebagai Serambi Mekah, maka Gorontalo sudah lama disebut Serambi Madinah. Bedanya, di Aceh ada masjid raya, sementara kita di Gorontalo belum,” tambahnya. Pada kesempatan tersebut, Gusnar juga memanfaatkan kehadiran Viva Yoga Mauladi yang juga merupakan mantan Ketua PB HMI periode 1995–1997 untuk mempromosikan penggalangan donasi pembangunan masjid raya. Video desain masjid serta […]

  • Kepemimpinan Ideal al-Ghazālī dan Refleksi PBNU: Belajar dari Keteladanan Gus Dur

    Kepemimpinan Ideal al-Ghazālī dan Refleksi PBNU: Belajar dari Keteladanan Gus Dur

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Nur Shollah Bek
    • visibility 394
    • 0Komentar

    Dalam khazanah pemikiran Islam klasik, Imam al-Ghazālī menempatkan kepemimpinan sebagai amanah agung yang tidak hanya diukur dari kecakapan administratif atau kekuasaan struktural, melainkan dari kesatuan antara intelektualitas, spiritualitas, dan akhlak. Seorang pemimpin, menurut al-Ghazālī, bukan sekadar pengatur urusan lahiriah, tetapi tabib sosial—yang mampu mengobati kerusakan moral, kegersangan spiritual, dan kehancuran nilai dalam tubuh masyarakat atau […]

expand_less