Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Belanja Negara dan Ilusi Kinerja: Apakah Realisasi Anggaran Mencerminkan Keberhasilan?

  • account_circle Muhammad Dzaky Alfarisi
  • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
  • visibility 244
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Lebih jauh lagi, ketergantungan pada indikator penyerapan anggaran juga mengabaikan perbedaan mendasar antara output dan outcome. Dalam laporan kinerja, pembangunan infrastruktur, penyelenggaraan pelatihan, atau pelaksanaan program sosial sering kali dianggap sebagai bukti keberhasilan karena anggaran telah terserap. Namun, output tersebut belum tentu menghasilkan outcome yang diharapkan. Sebuah gedung sekolah yang dibangun dengan anggaran besar, misalnya, tidak serta-merta meningkatkan kualitas pendidikan jika tidak didukung oleh tenaga pengajar yang kompeten, akses yang memadai, dan pengelolaan yang baik.

Di sinilah letak paradoksnya: anggaran dapat terserap secara maksimal, tetapi dampak terhadap masyarakat tetap minimal. Realisasi anggaran hanya mencerminkan besarnya input yang dikeluarkan, bukan kualitas hasil yang dicapai. Akibatnya, pemerintah dapat terlihat berhasil di atas kertas, sementara masyarakat tidak merasakan perubahan yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pelaporan kinerja dan realitas di lapangan.

Masalah lain yang tidak kalah penting adalah terpinggirkannya prinsip efisiensi dalam belanja negara. Dalam teori ekonomi dan manajemen, efisiensi berarti mencapai hasil optimal dengan biaya seminimal mungkin. Namun dalam praktik birokrasi, logika ini sering kali terbalik. Menghabiskan anggaran sesuai pagu justru dianggap sebagai indikator keberhasilan, sementara penghematan dipandang sebagai potensi masalah. Banyak birokrat khawatir bahwa jika anggaran tidak habis, maka alokasi pada tahun berikutnya akan dikurangi.

Ketakutan ini menciptakan perilaku yang kontraproduktif. Instansi menjadi kurang termotivasi untuk mencari solusi yang hemat biaya atau inovatif, karena efisiensi tidak memberikan insentif yang jelas. Sebaliknya, penggunaan anggaran yang besar justru dianggap aman secara administratif. Akibatnya, pemborosan menjadi sesuatu yang terstruktur dan sistemik. Belanja negara yang seharusnya menjadi instrumen strategis untuk mendorong pembangunan justru berpotensi menjadi beban fiskal yang tidak optimal.

Selain itu, tingginya realisasi anggaran juga sering menutupi persoalan terkait kualitas struktur belanja. Tidak semua jenis belanja memiliki dampak yang sama bagi masyarakat. Belanja pegawai dan operasional birokrasi, misalnya, cenderung mendominasi anggaran di banyak instansi.

  • Penulis: Muhammad Dzaky Alfarisi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Adhan Ultimatum Warga: 3 Hari Kosongkan Lahan Eks Terminal, Jika Tidak Dibongkar!

    Adhan Ultimatum Warga: 3 Hari Kosongkan Lahan Eks Terminal, Jika Tidak Dibongkar!

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 288
    • 0Komentar

    Diketahui, kawasan eks Terminal 42 Andalas telah ditetapkan sebagai lokasi pembangunan Kantor Wali Kota yang baru. Proyek ini menjadi prioritas utama Pemkot dalam upaya meningkatkan kualitas layanan pemerintahan. Meski demikian, di lokasi tersebut masih terdapat sekitar 14 petak lahan milik warga yang saat ini sedang dalam proses administrasi di pertanahan. Pemerintah daerah masih menunggu hasil […]

  • Work From Home sebagai Gerakan Nasionalisme

    Work From Home sebagai Gerakan Nasionalisme

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 341
    • 0Komentar

    Namun dunia pasca pandemi tidak pernah benar-benar stabil. Ia hanya berganti bentuk krisis. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah—khususnya antara Iran dan poros Amerika Serikat–Israel—menghadirkan kembali persoalan klasik: energi. Gangguan distribusi minyak, termasuk di jalur strategis seperti Selat Hormuz, memicu ketidakpastian global. Harga BBM pun melonjak cepat. Beberapa negara, termasuk negara ASEAN melakukan penyesuaian harga yang […]

  • Anak Dibatasi Medsos, Tapi Konten Dewasa Tetap Bebas? Ini Kata Majelis Ulama Indonesia

    Anak Dibatasi Medsos, Tapi Konten Dewasa Tetap Bebas? Ini Kata Majelis Ulama Indonesia

    • calendar_month Minggu, 29 Mar 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 376
    • 0Komentar

    “Perlindungan anak di ruang digital bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Orang tua, guru, dan masyarakat juga harus aktif mengawasi serta membimbing anak dalam menggunakan teknologi,” tambahnya. Selain itu, MUI juga terus melakukan berbagai inisiatif untuk memperkuat literasi digital berbasis nilai keagamaan. Salah satunya melalui kerja sama dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam pengawasan siaran, serta […]

  • Metode Tahfidz As’adiyah Disorot Nasional, Tradisi “Maddarasa Patappulo” Dinilai Konsisten Lahirkan Hafidz Berkualitas

    Metode Tahfidz As’adiyah Disorot Nasional, Tradisi “Maddarasa Patappulo” Dinilai Konsisten Lahirkan Hafidz Berkualitas

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 535
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Metode tahfidz yang dikembangkan di lingkungan Pondok Pesantren As’adiyah kembali mendapat sorotan publik nasional. Dalam sebuah program TV nasional yang tayang baru-baru ini, pendekatan khas As’adiyah dalam menghafal Al-Qur’an disebut sebagai salah satu metode yang konsisten melahirkan para hafidz berkualitas, dengan kekuatan pada tradisi, disiplin, dan kesinambungan sanad keilmuan. Metode Tahfidz As’adiyah bertumpu […]

  • Ketika Guru PAI SD Tak Fasih Baca Al-Qur’an, Ke Mana Arah Pendidikan Agama?

    Ketika Guru PAI SD Tak Fasih Baca Al-Qur’an, Ke Mana Arah Pendidikan Agama?

    • calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
    • account_circle Turmuji Jafar
    • visibility 533
    • 0Komentar

    Oleh: Turmuji Jafar, Mahasiswa Pascasarjana UAC Mojokerto Mengawali tahun baru kita di suguhi dengan catatan merah oleh Kementerian Agama (Kemenang) dari hasil asesmen Pendidikan Agama Islam (PAI) akhir tahun 2025, menunjukkan data sebanyak 58,26 persen guru agama Islam tingkatan sekolah dasar (SD) di Indonesia belum fasih dalam membaca Al-Qur’an. Temuan ini berdasarkan asesmen terhadap 160.143 […]

  • Ceramah Ramadan di Al Markaz: Kakanwil Sulsel Tekankan Akhlak Bertetangga

    Ceramah Ramadan di Al Markaz: Kakanwil Sulsel Tekankan Akhlak Bertetangga

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 188
    • 0Komentar

    Nulondalo-Makassar. Memasuki pertengahan bulan suci Ramadan, Rabu 4 Maret 2026 atau 15 Ramadhan 1447 H, masjid Al Markaz Al Islami Makassar kembali dipadati ribuan jamaah Tarawih. Malam itu terasa istimewa, sebab Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulsel, H. Ali Yafid, didaulat menyampaikan tauziah bertema “Akhlak Bertetangga” sebuah pesan sederhana namun menjadi fondasi kerukunan hidup […]

expand_less