Menjaga Kemudi di Tengah Ketidakpastian: Optimisme dan Realitas Ketahanan Ekonomi Indonesia
- account_circle Zulia Rahmawati
- calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
- visibility 100
- print Cetak

Zulia Rahmawati, mahasiswi Program Studi Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) semester 4, penulis artikel tentang ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dari sisi pendapatan, reformasi perpajakan dan bea cukai tetap menjadi tulang punggung yang harus diperkuat. Di tengah tren digitalisasi ekonomi, tantangan pemungutan pajak menjadi semakin kompleks. Pemerintah harus mampu menyeimbangkan antara intensifikasi penerimaan dengan iklim investasi yang kondusif. Pengakuan dari lembaga internasional dan investor terhadap fundamental fiskal Indonesia adalah modal kepercayaan (trust) yang sangat mahal harganya. Kepercayaan ini harus dijaga dengan transparansi dan akuntabilitas dalam setiap rupiah yang dibelanjakan.
Selain itu, ketergantungan ekonomi Indonesia pada permintaan domestik sebesar 90 persen merupakan pedang bermata dua. Di satu sisi, ini adalah perisai yang melindungi kita dari perlambatan ekspor akibat resesi di negara-negara mitra dagang. Di sisi lain, hal ini menuntut daya beli masyarakat tetap terjaga. Jika inflasi tidak terkendali atau jika penciptaan lapangan kerja melambat, maka motor utama pertumbuhan ekonomi kita akan tersendat. Oleh karena itu, stimulus pemerintah untuk triwulan II dan seterusnya harus difokuskan pada sektor-sektor yang memiliki efek pengganda (multiplier effect) besar, seperti infrastruktur padat karya dan penguatan UMKM.
Optimisme pemerintah menghadapi ketidakpastian global harus dibarengi dengan kewaspadaan tinggi terhadap volatilitas nilai tukar dan harga komoditas global. APBN memang kuat, tetapi ia tidak bersifat tak terbatas. Disiplin fiskal yang telah dibangun harus tetap dijaga agar defisit anggaran tetap dalam batas aman, tanpa mengorbankan belanja prioritas untuk, pendidikan dan kesehatan.
Sebagai penutup, kondisi ekonomi yang terjaga saat ini adalah hasil dari sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter yang harmonis. Tantangan ke depan bukan lahi hanya tentang bertahan hidup di tengah ketidakpastian, tetapi bagaimana memanfaatkan momentum stabilitas ini untuk melakukan lompatan besar. Masyarakat perlu melihat bahwa APBN bukan hanya dokumen teknis akuntansi pemerintah, melainkan instrumen nyata yang hadir melalui subsidi yang tepat, pasar yang stabil, dan peluang ekonomi yang terbuka lebar. Dengan manajemen yang transparan dan kebijakan yang berpihak pada rakyat, optimisme yang disampaikan oleh pemerintah dapat menjadi kenyataan yang dirasakan di setiap lapisan masyarakat Indonesia.
Penulis : Mahasiswa Semester 4 Prodi Akuntansi, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia
- Penulis: Zulia Rahmawati

Saat ini belum ada komentar