Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Menjelaskan “Makuta Ilmu” Tanpa Menyesatkan: Kritik atas Kritik Tarmizi Abbas

  • account_circle Donald Qomaidiasyah Tungkagi
  • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
  • visibility 1.270
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Yang Luput dari Kritik

Sebenarnya, ada beberapa aspek fundamental yang saya tulis dari artikel tersebut yang sama sekali tidak disentuh, padahal sebenarnya justru itulah jantung dari argumen paradigma “Makuta Ilmu”:

Pertama, tidak ada kritik atas argumen keselarasan paradigma “Makuta Ilmu” dengan visi UIN Smart yang secara eksplisit memiliki tiga dimeni juga dengan menyatakan “unggul dan berdaya saing global dalam studi Islam, sains, dan budaya berbasis peradaban.” Visi ini memuat tiga domain keilmuan yang persis sama dengan tiga pilar dalam “Makuta Ilmu”: studi Islam (teosentris), sains (kosmosentris), dan budaya (antroposentris).

Kedua, kritik tidak menyentuh sama sekali argumen saya tentang bagaimana paradigma “Makuta Ilmu” selaras dengan falsafah Adati hulo-hulo to sara’a, sara’a hula-hula to Qur’ani. Padahal ini adalah fondasi epistemik Gorontalo yang meski masih diperdebatkan namun lebih kontekstual dari teori dekolonial Quijano atau Mignolo. Mengabaikan argumen ini menunjukkan bahwa kritik sekadar bersifat selektif dan juga tidak komprehensif.

Ketiga, tidak mengkritisi sama sekali bahwa paradigma “Makuta Ilmu” sebagai upaya untuk memberikan trademark akademik yang membedakan UIN Sultan Amai Gorontalo dari UIN-UIN lain di Indonesia. Saya telah menunjukkan bahwa setiap UIN memiliki paradigma khas mereka. Saya masih bisa memahami jika yang luput tersebut dianggap tidak penting dikritisi, semoga tidak demikian bagi institusi.

Penutup

Kritik Tarmizi Abbas patut diapreasiasi, sebab telah membuka ruang dialog penting dalam memperkaya paradigma keilmuan UIN Sultan Amai Gorontalo. Beberapa kritik sudah saya tanggapi, saya tetap akan mengapresiasi jika ada kritik lanjutan atas tulisan ini. Saya sependapat dengan penggunaan paradigma dekolonial, hanya saja belum cukup kuat untuk mengganti paradigma “Makuta Ilmu”, karena masih abstrak dan tanpa representasi konkret. Sebaliknya, bagi saya perspektif dekolonial justru dapat memperkaya dan memperkuat “Makuta Ilmu” dengan memberikan kerangka untuk:

  • Penulis: Donald Qomaidiasyah Tungkagi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • RSUD Camba Resmi Beroperasi, Janji Politik Bupati Maros Mulai Terwujud

    RSUD Camba Resmi Beroperasi, Janji Politik Bupati Maros Mulai Terwujud

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 194
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Setelah melalui proses pembangunan sejak 2021, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Camba di Kabupaten Maros akhirnya resmi beroperasi penuh mulai 29 Desember 2025. Kehadiran fasilitas kesehatan ini menjadi salah satu realisasi janji politik Bupati Maros, Chaidir Syam, sekaligus menjawab kebutuhan layanan kesehatan masyarakat di wilayah dataran tinggi. Peresmian operasional RSUD Camba disambut […]

  • Tamim al-Dari dan Lampu Pertama di Masjid Madinah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #22)

    Tamim al-Dari dan Lampu Pertama di Masjid Madinah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #22)

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 393
    • 0Komentar

    Nabi Muhammad SAW melihat perubahan itu dan menyambutnya dengan baik. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi memuji tindakan Tamim karena telah membuat masjid lebih nyaman bagi orang-orang yang beribadah pada malam hari. Sejak saat itu penggunaan lampu di masjid menjadi sesuatu yang dikenal di Madinah. Peristiwa ini mungkin terlihat kecil dibandingkan kisah-kisah besar dalam sejarah […]

  • Gelar Pengukuhan, Indonesia Menuju Pusat Ulama Dunia melalui PKUMI

    Gelar Pengukuhan, Indonesia Menuju Pusat Ulama Dunia melalui PKUMI

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 178
    • 0Komentar

    Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) kembali mencatat sejarah penting dalam mencetak generasi ulama berwawasan global. Pada momentum penuh khidmat ini, PKUMI secara resmi mengukuhkan para kader ulama yang terdiri dari 18 mahasiswa program S3, 32 mahasiswa program S2, serta 32 mahasiswa program S2 PKUP. Para peserta berasal dari berbagai penjuru Nusantara, mencerminkan kekayaan budaya, […]

  • Fatherless: Ayah Hilang di Neraca

    Fatherless: Ayah Hilang di Neraca

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
    • visibility 436
    • 0Komentar

    Di banyak keluarga Indonesia, ayah itu ibarat “aset tetap”. Kalau ada, sering tidak disadari nilainya. Kalau tidak ada, barulah neraca keuangan keluarga terasa jomplang. Fenomena fatherless, baik ayah pergi secara fisik, emosional, maupun spiritual, bukan cuma soal anak kehilangan figur panutan, tetapi juga soal neraca keluarga yang tiba-tiba timpang sebelah. Dalam bahasa akuntansi NU: ini […]

  • Pemkab Bone Bolango Tegaskan Pengawalan Ketat Amdal Tambang Emas PT Gorontalo Minerals

    Pemkab Bone Bolango Tegaskan Pengawalan Ketat Amdal Tambang Emas PT Gorontalo Minerals

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 190
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kabupaten Bone Bolango menegaskan komitmennya untuk mengawal secara ketat rencana kegiatan pertambangan emas PT Gorontalo Minerals agar berjalan seimbang antara kepentingan investasi, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat. Penegasan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Bone Bolango, Iwan Mustapa, saat menghadiri Rapat Komisi Pembahasan Amdal RKL-RPL rencana kegiatan pertambangan emas DMP PT Gorontalo Minerals yang […]

  • Catatan Dari Konferensi Indigenous Religions Di Yogyakarta

    Catatan Dari Konferensi Indigenous Religions Di Yogyakarta

    • calendar_month Jumat, 5 Jul 2019
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 163
    • 0Komentar

    Untuk pertama kalinya, International Conference on Indigenous Religions resmi dihelat. Sejak pukul 08.00WIB pagi, terlihat pemandangan manusia berkerumun memenuhi barisan antre di University Club (UC) Hotel Universitas Gadjah Mada (UGM), untuk melakukan registrasi. Uniknya, para partisipan tidak hanya berlatar belakang peneliti atau speakers dalam konferensi, melainkan juga “sang Liyan”—mereka yang seringkali kita sebut sebagai “yang […]

expand_less