Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Menjelaskan “Makuta Ilmu” Tanpa Menyesatkan: Kritik atas Kritik Tarmizi Abbas

  • account_circle Donald Qomaidiasyah Tungkagi
  • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
  • visibility 1.266
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Contoh Dayango yang Tarmizi jadikan contoh, sebenarnya justru memperkuat argumen tentang “Makuta Ilmu”, bukan melemahkannya. Ia dengan tegas menunjukkan bahwa Dayango telah mengalami marginalisasi epistemik. Namun solusinya bukan mengganti paradigma berbasis kearifan lokal dengan dekolonial yang juga berbasis teori Barat, yang dibutuhkan seharusnya justru memperkuat paradigma yang mampu memberi ruang bagi praktik-praktik lokal seperti Dayango. Makuta Ilmu, dengan pilar adati-nya yang mewakili dimensi antroposentris lokal, justru menyediakan ruang epistemik tersebut.

Saya malah sependapat jika perspektif dekolonial digunakan saat mengkritisi bagaimana ketiga pilar (teosentris-kosmosentris-antroposentris) dalam paradigma “Makuta Ilmu” beroperasi. Seperti kata Mignolo dan Walsh (2018), dekolonial adalah soal keberpihakan. Maka keberpihakan paradigma “Makuta Ilmu” adalah pada Islam dan budaya Gorontalo, yang berarti: (a) Pilar teosentris tidak hanya berbasis teks klasik Arab, tetapi juga spiritualitas lokal Gorontalo; (b) Pilar kosmosentris tidak hanya mengadopsi sains Barat, tetapi juga pengetahuan ekologis lokal; (c) Pilar antroposentris memusatkan praktik-praktik budaya lokal seperti Dayango sebagai sumber pengetahuan yang sah.

Contoh implementasinya, ketika mahasiswa Prodi Sosiologi Agama meneliti Dayango, mereka tidak sebatas menggunakan kerangka antroposentrisme Barat yang cenderung eksploitatif terhadap alam. Sebaliknya, mereka bisa menggunakan kerangka kerja relasional yang dikembangkan dari praktik Dayango itu sendiri, di mana manusia dan entitas non-manusia (lati) serta keseluruhan alam semesta adalah satu kesatuan. Ini adalah contoh bagaimana perspektif dekolonial memperkaya pilar antroposentris dalam “Makuta Ilmu” dengan epistemologi indigenous yang nyata.

  • Penulis: Donald Qomaidiasyah Tungkagi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dana Peliputan Media MTQ Maros Disorot, Diduga Ada Ketidaksesuaian Pembayaran dan Nama ASN dalam Daftar Penerima

    Dana Peliputan Media MTQ Maros Disorot, Diduga Ada Ketidaksesuaian Pembayaran dan Nama ASN dalam Daftar Penerima

    • calendar_month Selasa, 4 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Nulondalo.Com, MAROS — Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Kabupaten Maros telah berlalu. Namun, penggunaan anggaran untuk peliputan media dalam kegiatan tersebut kini menjadi sorotan dan memunculkan pertanyaan terkait transparansi realisasi anggaran serta laporan pertanggungjawaban (LPJ). Informasi yang dihimpun menyebutkan, anggaran peliputan media dalam kegiatan MTQ diduga mencapai sekitar Rp30 juta, dengan keterlibatan kurang lebih 30 […]

  • Lapar Menguji Likuiditas Iman

    Lapar Menguji Likuiditas Iman

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 348
    • 0Komentar

    Akhirnya, Ramadhan adalah laboratorium likuiditas. Lapar menguji apakah iman kita cukup cair untuk mengalir menjadi kasih sayang. Jika setiap magrib kita hanya sibuk menutup defisit perut, tapi lupa menambah surplus amal, maka laporan tahunan kita akan penuh catatan koreksi. Semoga setelah sebulan, kita tidak hanya lulus ujian lapar, tetapi juga memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian […]

  • MUI Gorontalo Bersilaturahmi dengan Gubernur Gusnar Ismail, Bahas Penguatan Kemitraan dan Dukungan Pembangunan

    MUI Gorontalo Bersilaturahmi dengan Gubernur Gusnar Ismail, Bahas Penguatan Kemitraan dan Dukungan Pembangunan

    • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 150
    • 0Komentar

    Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Gorontalo, Prof. Dr. Zulkarnain Suleman, M.H.I., bersama jajaran pengurus baru masa khidmat 2025–2030 melakukan kunjungan silaturahmi kepada Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, di Rumah Dinas Gubernur, Rabu (13/8/2025). Dalam pertemuan tersebut, Prof. Zulkarnain memperkenalkan susunan kepengurusan baru MUI Gorontalo sekaligus menyampaikan sejumlah agenda penting organisasi, termasuk rencana pengukuhan pengurus […]

  • Sebanyak Delapan RS di Gorontalo Ikuti Reasesment Reviu

    Sebanyak Delapan RS di Gorontalo Ikuti Reasesment Reviu

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo bersama Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Wilayah Gorontalo melakukan re-assesment reviu kelas terhadap delapan rumah sakit yang tersebar di wilayah provinsi tersebut. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari permohonan delapan direktur rumah sakit terkait penyesuaian kelas rumah sakit tahun 2025. Pelaksanaan re-assesment ini disampaikan oleh Kepala […]

  • Reformasi Polri Jalan di Tempat? Mahfud MD Akui Pesimis Implementasi

    Reformasi Polri Jalan di Tempat? Mahfud MD Akui Pesimis Implementasi

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 248
    • 0Komentar

    Mahfud melihat pidato itu sebagai sinyal bahwa Presiden mulai membuka diri terhadap kritik masyarakat. Ia mengaku melihat adanya perubahan gaya kepemimpinan Prabowo dibanding sebelumnya. “Dulu lebih satu arah. Sekarang mau mendengar, mau berdiskusi, bahkan mau dibantah,” katanya. Ia juga menceritakan pengalamannya saat berdiskusi selama hampir tiga jam bersama Prabowo dalam agenda pembahasan reformasi Polri. Menurut […]

  • Pendapatan Langit

    Pendapatan Langit

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
    • visibility 477
    • 0Komentar

    Ramadhan mengajarkan bahwa laba sejati bukan yang dibagikan dalam RUPS, tetapi yang dirasakan dalam sujud panjang di sepertiga malam. Itulah saat di mana neraca menjadi seimbang—antara dunia dan akhirat, antara angka dan doa, antara usaha dan tawakal. Maka mari kita raih pendapatan langit. Bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk disyukuri. Bukan untuk dihitung orang, tetapi untuk […]

expand_less