Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Menjelaskan “Makuta Ilmu” Tanpa Menyesatkan: Kritik atas Kritik Tarmizi Abbas

  • account_circle Donald Qomaidiasyah Tungkagi
  • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
  • visibility 1.140
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Contoh Dayango yang Tarmizi jadikan contoh, sebenarnya justru memperkuat argumen tentang “Makuta Ilmu”, bukan melemahkannya. Ia dengan tegas menunjukkan bahwa Dayango telah mengalami marginalisasi epistemik. Namun solusinya bukan mengganti paradigma berbasis kearifan lokal dengan dekolonial yang juga berbasis teori Barat, yang dibutuhkan seharusnya justru memperkuat paradigma yang mampu memberi ruang bagi praktik-praktik lokal seperti Dayango. Makuta Ilmu, dengan pilar adati-nya yang mewakili dimensi antroposentris lokal, justru menyediakan ruang epistemik tersebut.

Saya malah sependapat jika perspektif dekolonial digunakan saat mengkritisi bagaimana ketiga pilar (teosentris-kosmosentris-antroposentris) dalam paradigma “Makuta Ilmu” beroperasi. Seperti kata Mignolo dan Walsh (2018), dekolonial adalah soal keberpihakan. Maka keberpihakan paradigma “Makuta Ilmu” adalah pada Islam dan budaya Gorontalo, yang berarti: (a) Pilar teosentris tidak hanya berbasis teks klasik Arab, tetapi juga spiritualitas lokal Gorontalo; (b) Pilar kosmosentris tidak hanya mengadopsi sains Barat, tetapi juga pengetahuan ekologis lokal; (c) Pilar antroposentris memusatkan praktik-praktik budaya lokal seperti Dayango sebagai sumber pengetahuan yang sah.

Contoh implementasinya, ketika mahasiswa Prodi Sosiologi Agama meneliti Dayango, mereka tidak sebatas menggunakan kerangka antroposentrisme Barat yang cenderung eksploitatif terhadap alam. Sebaliknya, mereka bisa menggunakan kerangka kerja relasional yang dikembangkan dari praktik Dayango itu sendiri, di mana manusia dan entitas non-manusia (lati) serta keseluruhan alam semesta adalah satu kesatuan. Ini adalah contoh bagaimana perspektif dekolonial memperkaya pilar antroposentris dalam “Makuta Ilmu” dengan epistemologi indigenous yang nyata.

  • Penulis: Donald Qomaidiasyah Tungkagi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Harga Energi Naik, Pemerintah Tancap Gas Tingkatkan Produksi Batu Bara

    Harga Energi Naik, Pemerintah Tancap Gas Tingkatkan Produksi Batu Bara

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 287
    • 0Komentar

    Selain mendorong produksi, pemerintah juga tengah mengkaji kebijakan penyesuaian pajak ekspor batu bara. Skema ini diharapkan mampu mengoptimalkan pemasukan negara tanpa mengganggu daya saing industri. Di sisi lain, pemerintah tetap menyiapkan strategi jangka menengah melalui percepatan transisi energi. Salah satunya dengan mengonversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk menekan […]

  • Diduga Gunakan Material Tambang Ilegal, Proyek Perumahan Jingga Land di Maros Disorot, APH Diminta Usut Tuntas

    Diduga Gunakan Material Tambang Ilegal, Proyek Perumahan Jingga Land di Maros Disorot, APH Diminta Usut Tuntas

    • calendar_month Senin, 3 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 56
    • 0Komentar

    Nulondalo.Com, MAROS – Aktivitas penimbunan pada proyek pembangunan Perumahan Jingga Land yang berlokasi di Dusun Palisi, Desa Tellumpoccoe, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menjadi perhatian publik. Proyek tersebut diduga menggunakan material tanah uruk yang berasal dari aktivitas tambang galian C yang belum memiliki izin resmi. Dugaan tersebut mencuat setelah tim media melakukan investigasi langsung […]

  • Ramadhan dan Ilusi Stabilitas Demokrasi

    Ramadhan dan Ilusi Stabilitas Demokrasi

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Suko Wahyudi
    • visibility 281
    • 0Komentar

    Jika nilai nilai Ramadhan mampu meresap dalam tata kelola negara, maka politik simbolik dapat berubah menjadi politik pertanggungjawaban. Retorika amanah diikuti transparansi. Bahasa keberpihakan diikuti kebijakan yang berpihak. Komitmen keadilan diikuti penegakan hukum yang konsisten. Stabilitas memang penting. Namun stabilitas yang tidak ditopang kepercayaan hanya akan menjadi ketenangan di permukaan. Demokrasi yang matang menuntut lebih […]

  • Nilai Ekspor Mei Provinsi Gorontalo Capai US.433.761

    Nilai Ekspor Mei Provinsi Gorontalo Capai US$11.433.761

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Nilai ekspor Mei 2025 Provinsi Gorontalo sebesar US$11.433.761. Angka ini menunjukkan adanya peningkatan sebesar 123,25 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar US$5.121.461. “Ekspor melalui pelabuhan atau bandara di Provinsi Gorontalo pada Mei 2025 adalah sebesar US$2.901.823 dengan komoditas Gula/Kembang Gula (HS 17) dan komoditas Pelet Kayu (HS 44),” kata Dwi Alwi Astuti […]

  • Gus Aniq Nawawi Sayangkan Aksi Bela Palestina di Gorontalo Gunakan Simbol Hizbut Tahrir

    Gus Aniq Nawawi Sayangkan Aksi Bela Palestina di Gorontalo Gunakan Simbol Hizbut Tahrir

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 148
    • 0Komentar

    nulondalo.com  – Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Randangan, Gorontalo Gus Aniq Nawawi (KH. Abdullah Aniq Nawawi) menyayangkan munculnya simbol-simbol organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pada aksi damai bela palestina oleh ratusan orang yang mengatasnamakan Santri Peduli Palestina pada Ahad, (2/2/2025), kemarin. Ratusan massa aksi tersebut menggunakan atribut bertuliskan Khilafah dan juga bendera yang identik […]

  • Islam Nusantara dan Sisik Melik Halal bi Halal

    Islam Nusantara dan Sisik Melik Halal bi Halal

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 161
    • 0Komentar

    Suatu ketika, kala isu Islam Nusantara sedang hangat-hangatnya, salah seorang perundungnya menyerang dengan sengit wacana ini. Kalimatnya menyengat dan pertanyaan-pertanyaannya nyelekit.  Salah satu kalimat dari perundung itu bunyinya begini: “seharusnya para pendukung Islam Nusantara, memboikot Arab, kan Islamnya bukan Islam dari Arab, tetapi Islam Nusantara.” Tentu saja ini pernyataan serampangan, sebab Islam Nusantara sebagai sebuah diskursus […]

expand_less