Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Menjelaskan “Makuta Ilmu” Tanpa Menyesatkan: Kritik atas Kritik Tarmizi Abbas

  • account_circle Donald Qomaidiasyah Tungkagi
  • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
  • visibility 1.052
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Upaya saya menjadikan simbolisasi budaya dalam paradigma “Makuta Ilmu” bisa dibilang berangkat dari perspektif dekolonial juga. Jika sedikit saja Tarmizi mau memahami, maksud simbolisasi tiga pilar dalam “Makuta Ilmu” itu sebenarnya manifestasi dari tiga dimensi dalam falsafah Adati hulo-hulo to sara’a, sara’a hula-hula to Qur’ani dan Buatulo Toulongo (ulama, umara, dan pemuka adat) dengan mendialektikakanya dengan perspektif theo-anthropo-cosmocentris. Meski masih bisa diperdebatkan, saya sedang mencoba melakukan apa yang disebut Ndlovu-Gatsheni (2013), sebagai “epistemological decolonization”, sebagai upaya mengatasi “asymmetrical global intellectual division of labor” yang mana Eropa dan Amerika Utara bertindak sebagai pusat produksi teori. Barangkali dari sini bisa dimulai pencarian teori baru yang lahir dari fenomena lokal Gorontalo.

Lebih problematik lagi, yang menjadi kelemahan lain dari kritik Tarmizi adalah ketika menyatakan bahwa paradigma dekolonial “tidak pusing soal apakah ia harus masuk di logo atau tidak” dan “tidak juga penting menyebutnya autentik.” Pernyataan ini justru membuat tawarannya menjadi konsep yang mengambang, tanpa pijakan konkret. Sebuah paradigma epistemologi yang efektif harus memiliki representasi konkret dan dapat dikomunikasikan kepada seluruh civitas academica (Abdullah, 2007). Bagaimana sebuah paradigma bisa dioperasionalisasikan dan mengakar dalam identitas institusi jika ia tidak perlu memiliki representasi visual atau klaim autentisitas? Paradigma ini bukan semata soal estetika, melainkan fungsi pedagogis dan institusional.

Ketika UIN Sunan Kalijaga menggunakan Jaring Laba-Laba, UIN Surakarta menggunakan Gunungan, atau UIN Sunan Ampel menggunakan Integrated Twin Towers, mereka semua memiliki wujud simbolik yang memfasilitasi pemahaman dan internalisasi paradigma. Jika paradigma dekolonial tidak butuh simbol, justru perspektif bisa digunakan untuk memperkuat argumentasi paradigma “Makuta Ilmu” atau “Mahkota Ilmu” dengan segala simbolisasinya, sehingga dapat diartikulasikan dalam praktik akademik sehari-hari.

  • Penulis: Donald Qomaidiasyah Tungkagi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Willy Aditya Apresiasi Pengesahan UU PPRT, Disebut Terobosan Lindungi Hak Pekerja Rumah Tangga

    Willy Aditya Apresiasi Pengesahan UU PPRT, Disebut Terobosan Lindungi Hak Pekerja Rumah Tangga

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 194
    • 0Komentar

    Ia menambahkan, regulasi ini juga menjamin hak-hak dasar PRT sebagai bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM), termasuk perlindungan yang selama ini belum optimal. Willy menyoroti bahwa selama ini UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan belum secara eksplisit memasukkan pekerja rumah tangga sebagai bagian dari kategori pekerja, sehingga menyulitkan perlindungan hukum bagi mereka. “Hilangnya pengakuan […]

  • Pagula: Ulama Pesisir dan Penemu Pukat Cincin dari Gorontalo

    Pagula: Ulama Pesisir dan Penemu Pukat Cincin dari Gorontalo

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Abdul Kadir Lawero
    • visibility 195
    • 0Komentar

    Di tengah riak ombak pesisir Kota Gorontalo, sejarah mencatat nama seorang ulama yang hidupnya sederhana, namun penuh pengaruh. Sosok itu adalah KH. Nahar Akadji, yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Pagula—sebuah panggilan penuh makna yang mencerminkan kelembutan, kearifan, dan manisnya akhlak beliau. Di Gorontalo, penyebutan ulama memang berbeda. Tak ada istilah “Kiai” seperti di Jawa […]

  • Pemerkosaan terhadap Teks: Gus Aniq Kritik Pembelaan Kurban Presiden dengan Dana APBN

    Pemerkosaan terhadap Teks: Gus Aniq Kritik Pembelaan Kurban Presiden dengan Dana APBN

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 1.340
    • 1Komentar

    Menurut Gus Aniq, jika sejak awal kurban tersebut dinyatakan sebagai kurban negara atau atas nama rakyat Indonesia, maka persoalannya bisa berbeda. Namun ketika dana publik digunakan untuk kurban atas nama pribadi, maka teks tersebut justru tidak relevan dijadikan dasar pembelaan. “Di sinilah problemnya. Teks Al-Fiqhul Manhaji malah memberi isyarat bahwa kurban atas nama pribadi dengan […]

  • Bappeda Gorontalo Gelar Kajian Dampak Sistem Usaha Tani Konservasi Jagung di Lahan Miring

    Bappeda Gorontalo Gelar Kajian Dampak Sistem Usaha Tani Konservasi Jagung di Lahan Miring

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo Wahyudin A. Katili membuka kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Kajian dan Dampak Sistem Usaha Tani Konservasi Jagung di Lahan Miring”, Selasa (4/11/2025). Kegiatan ini menghadirkan sejumlah peneliti, di antaranya Zulham Sirajudin, Ph.D, Ferdiansyah Hasan, SP, M.Si, Ivana Butolo, SE, MP, serta Gema Putra Baculu, ST, M.PA. Turut diundang pula Staf […]

  • Ekonom NU Soroti Dampak Penunjukan Deputi Gubernur BI terhadap Kepercayaan Pasar

    Ekonom NU Soroti Dampak Penunjukan Deputi Gubernur BI terhadap Kepercayaan Pasar

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 223
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Penunjukan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) menuai beragam tanggapan dari kalangan akademisi dan pelaku pasar. Salah satu kritik datang dari intelektual Nahdlatul Ulama sekaligus ekonom, Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak, yang menilai dinamika tersebut memunculkan kekhawatiran terkait independensi lembaga moneter. Dalam tulisan opininya yang berjudul; “Pasar Masuk Angin” tayang di […]

  • Dampak Kerusakan Ekologis Batang Toru, Direktur APPRI: Bencana Ini Bukan Kebetulan

    Dampak Kerusakan Ekologis Batang Toru, Direktur APPRI: Bencana Ini Bukan Kebetulan

    • calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 255
    • 0Komentar

    Banjir bandang dan longsor kembali meluluhlantakkan Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Selatan. Sungai Batang Toru — nadi kehidupan masyarakat Tapanuli dan habitat terakhir orangutan Tapanuli — meluap luar biasa, membawa batu-batu besar dan gelondongan kayu raksasa dari hulu. Hal tersebut mendapat perhatian khusus dengan perspektif yang berbeda oleh Direktur Aliansi Pemuda Peduli Rakyat Indonesia […]

expand_less