Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Menjelaskan “Makuta Ilmu” Tanpa Menyesatkan: Kritik atas Kritik Tarmizi Abbas

  • account_circle Donald Qomaidiasyah Tungkagi
  • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
  • visibility 1.271
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Upaya saya menjadikan simbolisasi budaya dalam paradigma “Makuta Ilmu” bisa dibilang berangkat dari perspektif dekolonial juga. Jika sedikit saja Tarmizi mau memahami, maksud simbolisasi tiga pilar dalam “Makuta Ilmu” itu sebenarnya manifestasi dari tiga dimensi dalam falsafah Adati hulo-hulo to sara’a, sara’a hula-hula to Qur’ani dan Buatulo Toulongo (ulama, umara, dan pemuka adat) dengan mendialektikakanya dengan perspektif theo-anthropo-cosmocentris. Meski masih bisa diperdebatkan, saya sedang mencoba melakukan apa yang disebut Ndlovu-Gatsheni (2013), sebagai “epistemological decolonization”, sebagai upaya mengatasi “asymmetrical global intellectual division of labor” yang mana Eropa dan Amerika Utara bertindak sebagai pusat produksi teori. Barangkali dari sini bisa dimulai pencarian teori baru yang lahir dari fenomena lokal Gorontalo.

Lebih problematik lagi, yang menjadi kelemahan lain dari kritik Tarmizi adalah ketika menyatakan bahwa paradigma dekolonial “tidak pusing soal apakah ia harus masuk di logo atau tidak” dan “tidak juga penting menyebutnya autentik.” Pernyataan ini justru membuat tawarannya menjadi konsep yang mengambang, tanpa pijakan konkret. Sebuah paradigma epistemologi yang efektif harus memiliki representasi konkret dan dapat dikomunikasikan kepada seluruh civitas academica (Abdullah, 2007). Bagaimana sebuah paradigma bisa dioperasionalisasikan dan mengakar dalam identitas institusi jika ia tidak perlu memiliki representasi visual atau klaim autentisitas? Paradigma ini bukan semata soal estetika, melainkan fungsi pedagogis dan institusional.

Ketika UIN Sunan Kalijaga menggunakan Jaring Laba-Laba, UIN Surakarta menggunakan Gunungan, atau UIN Sunan Ampel menggunakan Integrated Twin Towers, mereka semua memiliki wujud simbolik yang memfasilitasi pemahaman dan internalisasi paradigma. Jika paradigma dekolonial tidak butuh simbol, justru perspektif bisa digunakan untuk memperkuat argumentasi paradigma “Makuta Ilmu” atau “Mahkota Ilmu” dengan segala simbolisasinya, sehingga dapat diartikulasikan dalam praktik akademik sehari-hari.

  • Penulis: Donald Qomaidiasyah Tungkagi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perdagangan Gas Dunia Terhenti, Asia Terancam Krisis Energi

    Perdagangan Gas Dunia Terhenti, Asia Terancam Krisis Energi

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 265
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Perdagangan gas alam cair (LNG) global mengalami gangguan serius menyusul meningkatnya konflik di Timur Tengah, dengan jalur vital Selat Hormuz praktis terhenti. Situasi ini memicu kekhawatiran krisis energi baru, terutama di kawasan Asia yang sangat bergantung pada pasokan dari Teluk. Data pelacakan kapal menunjukkan sejumlah tanker LNG menghentikan perjalanan dari dan menuju Qatar […]

  • Neo-Tarbiyah : Apa Yang Dipertaruhkan Agama?

    Neo-Tarbiyah : Apa Yang Dipertaruhkan Agama?

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle Almunauwar Bin Rusli
    • visibility 431
    • 0Komentar

    Kedua, pragmatisme adalah kondisi dimana manusia diajarkan untuk selalu beradaptasi dengan teknologi, berorientasi pada materi, terintegrasi dengan moral dan memelihara pola komunikasi dengan nilai deliberatif. Kurang lebih, inilah kerangka Parsonian. Ketiga, kepercayaan merupakan penekanan terhadap keteraturan, kejujuran dan perilaku kooperatif antar-manusia berdasarkan norma yang mereka anut bersama. Pendidikan yang mendapat tingkat kepercayaan (trust) tertinggi warga […]

  • Pembangunan Kopdes Merah Putih di Bonto Matene Resmi Dimulai, Menteri Yandri: “Ekosistem Ekonomi Desa Harus Terbentuk”

    Pembangunan Kopdes Merah Putih di Bonto Matene Resmi Dimulai, Menteri Yandri: “Ekosistem Ekonomi Desa Harus Terbentuk”

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 165
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros– Pembangunan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di Desa Bonto Matene, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, resmi dimulai setelah dilakukan peletakan batu pertama oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) RI, Yandri Susanto, bersama Wakil Menteri Koperasi dan UKM RI, Farida Farichah, Selasa (2/12/2025). Kopdes ini dibangun di atas lahan hibah dari […]

  • Pemkot Gorontalo Musnahkan 19.754 Miras di Lapangan Padebuolo

    Pemkot Gorontalo Musnahkan 19.754 Miras di Lapangan Padebuolo

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 289
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Pemerintah Kota Gorontalo memusnahkan sebanyak 19.754 minuman keras (miras) berbagai jenis, Senin (29/12/2025). Pemusnahan dilakukan di Lapangan Padebuolo, Kecamatan Kota Timur. Ribuan miras tersebut merupakan hasil penegakan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2017 tentang pengendalian dan pengawasan minuman beralkohol oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Gorontalo, serta hasil razia Polresta […]

  • Ramadhan, Sutra, dan Kesabaran: Belajar dari Lipa’ Sa’be Bugis

    Ramadhan, Sutra, dan Kesabaran: Belajar dari Lipa’ Sa’be Bugis

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle Afidatul Asmar
    • visibility 500
    • 0Komentar

    Namun di balik kemewahan itu, ada kerja panjang para penenun yang sering kali tidak terlihat. Ramadhan juga mengajarkan hal yang sama. Di balik ibadah yang tampak sederhana, ada proses panjang pembentukan diri yang sering tidak disadari oleh manusia. Ironisnya, di zaman modern, kesabaran seperti ini semakin langka. Kita hidup dalam dunia yang serba cepat. Makanan […]

  • KH Abdul Ghofir Nawawi Wafat, Warga NU Gorontalo Berduka

    KH Abdul Ghofir Nawawi Wafat, Warga NU Gorontalo Berduka

    • calendar_month Senin, 20 Mei 2019
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 175
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Warga Nahdlatul Ulama Provinsi Gorontalo berduka atas wafatnya KH Abdul Ghofir Nawawi, Rais Syuriyah PWNU Gorontalo. Kabar wafatnya almarhum beredar luas di sejumlah grup WhatsApp dan pesan singkat yang diterima redaksi nulondalo online. Dalam pesan tersebut disampaikan bahwa KH Abdul Ghofir Nawawi mengembuskan napas terakhir pada pukul 13.25 […]

expand_less