Menjelaskan “Makuta Ilmu” Tanpa Menyesatkan: Kritik atas Kritik Tarmizi Abbas
- account_circle Donald Qomaidiasyah Tungkagi
- calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
- visibility 684
- print Cetak

Keterangan Gambar : Simbol "Makuta" berwarna hijau dari Dr. Andries Kango, yang diperkaya konseptualisasi dari penulis.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Upaya saya menjadikan simbolisasi budaya dalam paradigma “Makuta Ilmu” bisa dibilang berangkat dari perspektif dekolonial juga. Jika sedikit saja Tarmizi mau memahami, maksud simbolisasi tiga pilar dalam “Makuta Ilmu” itu sebenarnya manifestasi dari tiga dimensi dalam falsafah Adati hulo-hulo to sara’a, sara’a hula-hula to Qur’ani dan Buatulo Toulongo (ulama, umara, dan pemuka adat) dengan mendialektikakanya dengan perspektif theo-anthropo-cosmocentris. Meski masih bisa diperdebatkan, saya sedang mencoba melakukan apa yang disebut Ndlovu-Gatsheni (2013), sebagai “epistemological decolonization”, sebagai upaya mengatasi “asymmetrical global intellectual division of labor” yang mana Eropa dan Amerika Utara bertindak sebagai pusat produksi teori. Barangkali dari sini bisa dimulai pencarian teori baru yang lahir dari fenomena lokal Gorontalo.
Lebih problematik lagi, yang menjadi kelemahan lain dari kritik Tarmizi adalah ketika menyatakan bahwa paradigma dekolonial “tidak pusing soal apakah ia harus masuk di logo atau tidak” dan “tidak juga penting menyebutnya autentik.” Pernyataan ini justru membuat tawarannya menjadi konsep yang mengambang, tanpa pijakan konkret. Sebuah paradigma epistemologi yang efektif harus memiliki representasi konkret dan dapat dikomunikasikan kepada seluruh civitas academica (Abdullah, 2007). Bagaimana sebuah paradigma bisa dioperasionalisasikan dan mengakar dalam identitas institusi jika ia tidak perlu memiliki representasi visual atau klaim autentisitas? Paradigma ini bukan semata soal estetika, melainkan fungsi pedagogis dan institusional.
Ketika UIN Sunan Kalijaga menggunakan Jaring Laba-Laba, UIN Surakarta menggunakan Gunungan, atau UIN Sunan Ampel menggunakan Integrated Twin Towers, mereka semua memiliki wujud simbolik yang memfasilitasi pemahaman dan internalisasi paradigma. Jika paradigma dekolonial tidak butuh simbol, justru perspektif bisa digunakan untuk memperkuat argumentasi paradigma “Makuta Ilmu” atau “Mahkota Ilmu” dengan segala simbolisasinya, sehingga dapat diartikulasikan dalam praktik akademik sehari-hari.
- Penulis: Donald Qomaidiasyah Tungkagi

Saat ini belum ada komentar