Menjelaskan “Makuta Ilmu” Tanpa Menyesatkan: Kritik atas Kritik Tarmizi Abbas
- account_circle Donald Qomaidiasyah Tungkagi
- calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
- visibility 689
- print Cetak

Keterangan Gambar : Simbol "Makuta" berwarna hijau dari Dr. Andries Kango, yang diperkaya konseptualisasi dari penulis.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pertama, mengkritisi dan memperbaiki bagaimana ketiga pilar beroperasi agar tidak sekadar mengadopsi paradigma Barat dengan label lokal. Kedua, mengoperasionalisasikan ruang epistemik bagi pengetahuan lokal seperti Dayango melalui metodologi penelitian partisipatif, untuk ini saya setuju dengan kritik Tarmizi atas sikap seorang dosen yang menolak mahasiswa meneliti tentang Dayango. Ketiga, perspektif kolonial juga bermanfaat dalam membangun mekanisme institusional yang konkret untuk mengintegrasikan pengetahuan lokal dalam kurikulum, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
Dengan demikian, paradigma “Makuta Ilmu” ketika diperkaya dengan perspektif dekolonial justru menjadi paradigma yang: (1) berakar pada kearifan lokal Gorontalo dengan representasi simbolik yang nyata bukan abstrak; (2) kritis terhadap kolonialitas pengetahuan, sehingga tidak mudah terjebak dalam dependensi epistemik terhadap teori Barat; (3) operasional dan dapat dikomunikasikan kepada seluruh civitas academica; dan (4) memberikan ruang nyata bagi praktik-praktik pengetahuan lokal.
Inilah sintesis yang saya tawarkan dalam tulisan ini. Bukan “Mahkota Ilmu” versus dekolonial, melainkan “Makuta Ilmu” yang diperkaya oleh perspektif dekolonial. Paradigma yang kuat memerlukan representasi simbolik (yang dimiliki Makuta Ilmu) maupun kesadaran kritis terhadap kolonialitas (dari perspektif dekolonial). Keduanya bukan saling menegasikan, melainkan saling memperkuat untuk membangun UIN Sultan Amai Gorontalo sebagai ruang epistemik yang adil bagi semua bentuk pengetahuan. Tabe! (*)
Penulis adalah Dosen Prodi Sosiologi Agama IAIN Gorontalo
- Penulis: Donald Qomaidiasyah Tungkagi

Saat ini belum ada komentar