Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Menjelaskan “Makuta Ilmu” Tanpa Menyesatkan: Kritik atas Kritik Tarmizi Abbas

  • account_circle Donald Qomaidiasyah Tungkagi
  • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
  • visibility 1.146
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pertama, mengkritisi dan memperbaiki bagaimana ketiga pilar beroperasi agar tidak sekadar mengadopsi paradigma Barat dengan label lokal. Kedua, mengoperasionalisasikan ruang epistemik bagi pengetahuan lokal seperti Dayango melalui metodologi penelitian partisipatif, untuk ini saya setuju dengan kritik Tarmizi atas sikap seorang dosen yang menolak mahasiswa meneliti tentang Dayango. Ketiga, perspektif kolonial juga bermanfaat dalam membangun mekanisme institusional yang konkret untuk mengintegrasikan pengetahuan lokal dalam kurikulum, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Dengan demikian, paradigma “Makuta Ilmu” ketika diperkaya dengan perspektif dekolonial justru menjadi paradigma yang: (1) berakar pada kearifan lokal Gorontalo dengan representasi simbolik yang nyata bukan abstrak; (2) kritis terhadap kolonialitas pengetahuan, sehingga tidak mudah terjebak dalam dependensi epistemik terhadap teori Barat; (3) operasional dan dapat dikomunikasikan kepada seluruh civitas academica; dan (4) memberikan ruang nyata bagi praktik-praktik pengetahuan lokal.

Inilah sintesis yang saya tawarkan dalam tulisan ini. Bukan “Mahkota Ilmu” versus dekolonial, melainkan “Makuta Ilmu” yang diperkaya oleh perspektif dekolonial. Paradigma yang kuat memerlukan representasi simbolik (yang dimiliki Makuta Ilmu) maupun kesadaran kritis terhadap kolonialitas (dari perspektif dekolonial). Keduanya bukan saling menegasikan, melainkan saling memperkuat untuk membangun UIN Sultan Amai Gorontalo sebagai ruang epistemik yang adil bagi semua bentuk pengetahuan. Tabe! (*)

Penulis adalah Dosen Prodi Sosiologi Agama IAIN Gorontalo

  • Penulis: Donald Qomaidiasyah Tungkagi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Vatikan Tolak Bergabung dalam Board of Peace, Berbeda Sikap dengan Indonesia

    Vatikan Tolak Bergabung dalam Board of Peace, Berbeda Sikap dengan Indonesia

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 208
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Vatikan secara resmi menolak tawaran untuk bergabung dalam Board of Peace (BoP) guna menjaga netralitas diplomatik Takhta Suci di tengah berbagai konflik global yang sedang berlangsung. Keputusan ini menandai perbedaan sikap yang cukup mencolok dengan Indonesia yang sebelumnya telah menyatakan kesiapan untuk berpartisipasi aktif dalam inisiatif tersebut. Penolakan itu ditegaskan melalui pernyataan resmi […]

  • Misteri Emas Molalahu dan Keserakahan yang Terus Berulang (Bagian 2)

    Misteri Emas Molalahu dan Keserakahan yang Terus Berulang (Bagian 2)

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle Momy Hunowu
    • visibility 387
    • 0Komentar

    Tak percaya pada berbagai cerita dan pantangan yang berkembang di tengah masyarakat, kaum penjajah Belanda tidak ambil pusing. Mereka justru semakin tergiur untuk memiliki bongkahan emas raksasa itu. Maklum, kedatangan penjajah ke negeri ini tak lain adalah untuk mengeruk kekayaan alam yang tersimpan di perut bumi pertiwi dan membawanya pulang demi kemakmuran negeri Kincir Angin. […]

  • Akhirnya Anjing Masuk Surga

    Akhirnya Anjing Masuk Surga

    • calendar_month Sabtu, 26 Feb 2022
    • account_circle Dr. Hi. Mansur Basie
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Kalau ada hewan atau binatang yang berterima kasih (numpang viral) karena hiruk pikuk social media dua hari terakhir ini, maka binatang itu adalah anjing. Betapa tidak, tanpa diminta “persetujuannya”, ia disebut dan diviralkan oleh mungkin dari lebih separuh penduduk negeri +62. Berdasarkan laporan We Are Social dari situs dataIndonesia.com, jumlah pengguna aktif media sosial di […]

  • Di Balik WTP: Ketika Akuntabilitas Berhenti Di Kertas

    Di Balik WTP: Ketika Akuntabilitas Berhenti Di Kertas

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Khoirul Umam Mubarok
    • visibility 244
    • 0Komentar

    Pisau bedah yang paling tepat untuk menguji klaim “belanja berkualitas” adalah prinsip value for money dengan tiga dimensinya. Pertama, ekonomi — apakah input diperoleh dengan harga wajar? Isu pembengkakan anggaran proyek pemerintah yang terus berulang di pemberitaan media menjadi tanda tanya serius di sini. Kedua, efisiensi — apakah output yang dihasilkan sepadan dengan sumber daya […]

  • Tabungan Emas Nasabah mencapai 1,4 Ton, Pegadaian Kanwil IX Jakarta Menjamin Keamanan Investasi Layanan Bank Emas

    Tabungan Emas Nasabah mencapai 1,4 Ton, Pegadaian Kanwil IX Jakarta Menjamin Keamanan Investasi Layanan Bank Emas

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Emas telah lama menjadi instrumen investasi yang aman dan menguntungkan. Seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap emas, Pegadaian menghadirkan Layanan Bank Emas yaitu sebuah layanan yang memungkinkan masyarakat melakukan transaksi dan investasi emas dengan lebih mudah, aman, dan terpercaya. Bank Emas merupakan salah satu inisiatif pemerintah yang terhimpun dalam Asta Cita Prabowo-Gibran dengan tujuan hilirisasi […]

  • Dosen Unusia Raih Gelar Doktor Akuntansi, Angkat Kearifan Lokal Bugis dalam Disertasi

    Dosen Unusia Raih Gelar Doktor Akuntansi, Angkat Kearifan Lokal Bugis dalam Disertasi

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 213
    • 0Komentar

    Menurut Aras, penelitian tersebut memiliki keterhubungan kuat dengan tradisi intelektual Nahdlatul Ulama yang selama ini membangun kehidupan sosial berbasis budaya, etika pesantren, dan kolektivitas masyarakat. Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi pesantren terdapat kaidah al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah, yakni memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. […]

expand_less