Breaking News
light_mode
Trending Tags

Menjelaskan “Makuta Ilmu” Tanpa Menyesatkan: Kritik atas Kritik Tarmizi Abbas

  • account_circle Donald Qomaidiasyah Tungkagi
  • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
  • visibility 688
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kembali ke topik, setelah membaca tulisan Tarmizi, saya menemukan sejumlah kelemahan mendasar dalam cara pandang memahami konstruksi epistemologi paradigma “Makuta Ilmu”. Setidaknya, terdapat tiga kelemahan fundamental dalam kritik tersebut: pertama, problematik dalam mengkritisi kontruksi epistemologi dengan historiografi; kedua, gagal memahami integrasi epistemologi-paradigmatik; dan ketiga, ironi menawarkan epistemologi kolonial. Tulisan ini akan membongkar tiga kelemahan fundamental tersebut.

Historiografi yang Problematik

Tarmizi cukup panjang mengulas asal-usul makuta, bahkan hampir menghabiskan sepertiga porsi tulisannya. Ulasannya terkait, apakah makuta itu tradisional atau kolonial, lebih otentik makuta atau paluwala, dan lain sebagainya. Meskit tidak bisa dinafikan juga “makuta” kini dengan segala adaptasinya justru telah menjadi bagian dari budaya Gorontalo. Kelemahan kritik Tarmizi di bagian ini, karena tidak cukup menunjukkan relevansi dari argumen historis tersebut terhadap validasi gagasan simbolisasi “makuta” dalam paradigma epistemologi “Makuta Ilmu”.

Saya ingin memberi tekanan bahwa paradigma keilmuan dalam konteks ini bukanlah arkeologi budaya atau historis. Thomas Kuhn (1962), si empu paradigma, setidaknya memberi pemahaman bahwa fungsi paradigma sebagai teropong untuk mengamati dan memahami masalah-masalah ilmiah, bukan sebatas representasi historis yang kaku. Makanya, ketika UIN Sunan Kalijaga mengusulkan simbolisasi paradigma “Jaring Laba-Laba”, tidak ada perdebatan tentang apakah asal-usul laba-laba itu hewan asli Yogyakarta atau kapan konsep jaring pertama kali dikenal masyarakat Jawa?. Pun demikian, ketika UIN Sunan Ampel Surabaya merumuskan paradigma “Integrated Twin Towers”, tidak ada yang bertanya tentang keberadaan menara kembar di Surabaya.

Begitu juga dengan beberapa PTKIN yang punya rumusan paradigma keilmuan khas: UIN Walisongo dengan “Kesatuan Ilmu”,  UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan “Wahyu Memandu Ilmu”, UIN Raden Intan Lampung dengan “Model Bahtera Ilmu”, UIN Mataram dengan “Horizon Ilmu”, UIN Sultan Syarif Kasim Riau dengan “Spiral Andromeda”, UIN Imam Bonjol Padang dengan “Heksagonal”, UIN Palembang dengan “Rumah Ilmu”, UIN Alauddin Makassar dengan konsep “Sel-Cemara Keilmuan”, dan lain sebagainya. Urgensi dari keberadaan paradigma sejatinya justru ada pada daya eksplanatoris dan kemampuan paradigma mengorganisir pengetahuan.

Terus, apa ada PTKIN yang pakai simbol budaya sebagai paradigma keilmuan? Jawabnya ada. UIN Surakarta dengan paradigma “Gunungan Ilmu”. Kata “Gunungan” diambil dari nama tokoh wayang berbentuk seperti segitiga runcing ke atas, penuh ukiran dedaunan, hewan, dan simbol-simbol alam semesta. Paradigma ini filosofinya mengambarkan makrokosmos, alam semesta yang saling terhubung. Paradigma “Makuta Ilmu” atau “Mahkota Ilmu” terinspirasi dari paradigma “Gunungan Ilmu” ini, tulisan awal saya juga mengutip pandangan penggagas paradigma ini, Prof. Toto Suharto, kini Rektor UIN Surakarta.

  • Penulis: Donald Qomaidiasyah Tungkagi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • ISNU Talent Pool Academy Gelar Kelas Proposal Penelitian, Dorong Lahirnya Intelektual Menuju Indonesia Emas 2045

    ISNU Talent Pool Academy Gelar Kelas Proposal Penelitian, Dorong Lahirnya Intelektual Menuju Indonesia Emas 2045

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 73
    • 0Komentar

    “Pastikan Anda memahami kriteria, timeline, dan fokus program. Ini fondasi awal sebelum menulis,” tegasnya. Lebih lanjut, Dr. Aras menyoroti pentingnya keterkaitan antara program studi, rencana penelitian, dan tujuan karier. Ia menegaskan bahwa esai yang kuat selalu memiliki benang merah yang jelas antara latar belakang, rencana studi, serta kontribusi masa depan. Dalam sesi teknis, ia membagikan […]

  • Aliansi Mahasiswa Peduli Lingkungan Gelar Aksi Desak Penindakan PETI di Botudulang

    Aliansi Mahasiswa Peduli Lingkungan Gelar Aksi Desak Penindakan PETI di Botudulang

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 74
    • 0Komentar

    Aliansi Mahasiswa Peduli Lingkungan (AMPL) kembali menggelar aksi demonstrasi di depan Mako Polda Gorontalo pada Kamis, 11 September 2025. Aksi tersebut mengangkat isu maraknya praktik pertambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah Botudulanga, Kabupaten Pohuwato. Dalam aksinya, AMPL menyampaikan sejumlah tuntutan utama, salah satunya mendesak Kapolda Gorontalo untuk segera menangkap Daeng Baba dan Daeng Arif […]

  • Idul Fitri 1447 Hijriah & Pensucian Hati: Jalan Spiritual Kemanusiaan

    Idul Fitri 1447 Hijriah & Pensucian Hati: Jalan Spiritual Kemanusiaan

    • calendar_month Sabtu, 21 Mar 2026
    • account_circle Amsar A. Dulmanan
    • visibility 264
    • 0Komentar

    Disinilah konsep fitrah dalam Islam memiliki makna yang sangat mendalam. Fitrah adalah kondisi asal manusia yang suci, bersih, dan cenderung kepada kebenaran. Dalam perjalanan hidup, fitrah ini sering kali tertutup oleh berbagai kepentingan duniawi, ambisi, dan konflik batin yang membuat manusia menjauh dari nilai-nilai kemanusiaan yang sejati. Ramadhan hadir sebagai ruang asketik untuk membersihkan lapisan […]

  • Keluarga Berisiko Stunting Dapat Bantuan Internasional

    Keluarga Berisiko Stunting Dapat Bantuan Internasional

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Pemerintah Provinsi Gorontalo menyampaikan apresiasi atas dukungan internasional dalam upaya percepatan penurunan stunting. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, yang mewakili Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, dalam acara penyerahan bantuan oleh Branch Singapore Aid kepada 150 keluarga berisiko stunting di Kota Gorontalo. Kegiatan ini merupakan bagian dari […]

  • Muhammad Dzikyan: Kebijakan Harus Utamakan Kemaslahatan Umat

    Muhammad Dzikyan: Kebijakan Harus Utamakan Kemaslahatan Umat

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 347
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kebijakan penutupan aktivitas pembelian emas dari penambang rakyat di Provinsi Gorontalo, khususnya Kabupaten Pohuwato, terus menuai sorotan. Langkah penegakan hukum yang menutup seluruh jalur pembelian emas, baik di tingkat lokal maupun luar daerah, dinilai berdampak langsung pada kondisi ekonomi masyarakat. Anggota DPRD Provinsi Gorontalo daerah pemilihan Boalemo–Pohuwato, Muhammad Dzikyan Nawawi, Rabu (4/3/2026), menyampaikan […]

  • Layanan Imigrasi Menunjang Terbentuknya Embarkasi Haji Gorontalo

    Layanan Imigrasi Menunjang Terbentuknya Embarkasi Haji Gorontalo

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 75
    • 0Komentar

    Kota Gorontalo, – Sekretaris Daerah Provinsi Gorontalo, Sofian Ibrahim, menyatakan dukungan penuh terhadap penguatan layanan imigrasi dan pemasyarakatan di daerah. Hal ini disampaikannya saat mendampingi kunjungan kerja Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan di Kantor Imigrasi Kelas I Gorontalo, Senin (30/6/2025). Kehadirannya menjadi momentum penting dalam mempercepat reformasi kelembagaan dan pelayanan publik, khususnya di sektor keimigrasian […]

expand_less