Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Menjelaskan “Makuta Ilmu” Tanpa Menyesatkan: Kritik atas Kritik Tarmizi Abbas

  • account_circle Donald Qomaidiasyah Tungkagi
  • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
  • visibility 1.264
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kembali ke topik, setelah membaca tulisan Tarmizi, saya menemukan sejumlah kelemahan mendasar dalam cara pandang memahami konstruksi epistemologi paradigma “Makuta Ilmu”. Setidaknya, terdapat tiga kelemahan fundamental dalam kritik tersebut: pertama, problematik dalam mengkritisi kontruksi epistemologi dengan historiografi; kedua, gagal memahami integrasi epistemologi-paradigmatik; dan ketiga, ironi menawarkan epistemologi kolonial. Tulisan ini akan membongkar tiga kelemahan fundamental tersebut.

Historiografi yang Problematik

Tarmizi cukup panjang mengulas asal-usul makuta, bahkan hampir menghabiskan sepertiga porsi tulisannya. Ulasannya terkait, apakah makuta itu tradisional atau kolonial, lebih otentik makuta atau paluwala, dan lain sebagainya. Meskit tidak bisa dinafikan juga “makuta” kini dengan segala adaptasinya justru telah menjadi bagian dari budaya Gorontalo. Kelemahan kritik Tarmizi di bagian ini, karena tidak cukup menunjukkan relevansi dari argumen historis tersebut terhadap validasi gagasan simbolisasi “makuta” dalam paradigma epistemologi “Makuta Ilmu”.

Saya ingin memberi tekanan bahwa paradigma keilmuan dalam konteks ini bukanlah arkeologi budaya atau historis. Thomas Kuhn (1962), si empu paradigma, setidaknya memberi pemahaman bahwa fungsi paradigma sebagai teropong untuk mengamati dan memahami masalah-masalah ilmiah, bukan sebatas representasi historis yang kaku. Makanya, ketika UIN Sunan Kalijaga mengusulkan simbolisasi paradigma “Jaring Laba-Laba”, tidak ada perdebatan tentang apakah asal-usul laba-laba itu hewan asli Yogyakarta atau kapan konsep jaring pertama kali dikenal masyarakat Jawa?. Pun demikian, ketika UIN Sunan Ampel Surabaya merumuskan paradigma “Integrated Twin Towers”, tidak ada yang bertanya tentang keberadaan menara kembar di Surabaya.

Begitu juga dengan beberapa PTKIN yang punya rumusan paradigma keilmuan khas: UIN Walisongo dengan “Kesatuan Ilmu”,  UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan “Wahyu Memandu Ilmu”, UIN Raden Intan Lampung dengan “Model Bahtera Ilmu”, UIN Mataram dengan “Horizon Ilmu”, UIN Sultan Syarif Kasim Riau dengan “Spiral Andromeda”, UIN Imam Bonjol Padang dengan “Heksagonal”, UIN Palembang dengan “Rumah Ilmu”, UIN Alauddin Makassar dengan konsep “Sel-Cemara Keilmuan”, dan lain sebagainya. Urgensi dari keberadaan paradigma sejatinya justru ada pada daya eksplanatoris dan kemampuan paradigma mengorganisir pengetahuan.

Terus, apa ada PTKIN yang pakai simbol budaya sebagai paradigma keilmuan? Jawabnya ada. UIN Surakarta dengan paradigma “Gunungan Ilmu”. Kata “Gunungan” diambil dari nama tokoh wayang berbentuk seperti segitiga runcing ke atas, penuh ukiran dedaunan, hewan, dan simbol-simbol alam semesta. Paradigma ini filosofinya mengambarkan makrokosmos, alam semesta yang saling terhubung. Paradigma “Makuta Ilmu” atau “Mahkota Ilmu” terinspirasi dari paradigma “Gunungan Ilmu” ini, tulisan awal saya juga mengutip pandangan penggagas paradigma ini, Prof. Toto Suharto, kini Rektor UIN Surakarta.

  • Penulis: Donald Qomaidiasyah Tungkagi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Diduga Ada Keterlibatan Oknum Pejabat Imigrasi Kota Medan Soal TPPO, APPRI Gelar Demo di Depan Kementrian Imigrasi dan Mabes Polri 

    Diduga Ada Keterlibatan Oknum Pejabat Imigrasi Kota Medan Soal TPPO, APPRI Gelar Demo di Depan Kementrian Imigrasi dan Mabes Polri 

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 160
    • 0Komentar

    Aliansi pemuda peduli rakyat Indonesia (APPRI) gelar aksi demonstrasi soal tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di depan kementrian imigrasi dan mabes polri pada Jum’at, 22 Agustus 2025. APPRI mendesak kepada Kapolri dan menteri imigrasi agar melakukan pemeriksaan terhadap oknum pejabat imigrasi Sumatera Utara dan imigrasi kota Medan karena diduga terlibat dalam tindak pidana perdagangan orang. […]

  • Donasi Bencana Sumatera Terkumpul Rp400 Juta, Pemkot Gorontalo Akan Antar Langsung Bantuan

    Donasi Bencana Sumatera Terkumpul Rp400 Juta, Pemkot Gorontalo Akan Antar Langsung Bantuan

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 176
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Penggalangan dana bantuan kemanusiaan yang dilakukan Pemerintah Kota Gorontalo bagi korban bencana alam di Sumatera terus berlangsung. Hingga saat ini, dana yang berhasil dikumpulkan mencapai sekitar Rp400 juta. Data tersebut terungkap dalam rapat koordinasi dan evaluasi (Rakorev) penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan yang digelar di Bandhayo Lo Yiladia (BLY), Jumat (19/12/2025). Pelaksana tugas […]

  • Ketika Alam Bicara

    Ketika Alam Bicara

    • calendar_month Senin, 1 Des 2025
    • account_circle Suaib Prawono
    • visibility 462
    • 0Komentar

    Alam kembali bersuara. Kali ini, ia berteriak lantang lewat banjir bandang dan tanah lonsor yang meluluhlantakkan pemukiman warga di tiga provinsi; Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Bukan hanya rumah dan harta benda yang hanyut dan tertimbun, tetapi juga nyawa manusia yang tak bersalah. Berdasarkan data yang dilansir BNPB,  29 November 2025, total 303 orang […]

  • Jangan Tunggu Korban Berjatuhan! Kabel Listrik Berserakan di Tanah, Pasar Malam Dusun Taipa Diduga Abaikan Keselamatan Pengunjung

    Jangan Tunggu Korban Berjatuhan! Kabel Listrik Berserakan di Tanah, Pasar Malam Dusun Taipa Diduga Abaikan Keselamatan Pengunjung

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Nulondalo.Com, MAROS – Keselamatan pengunjung pasar malam di Dusun Taipa, Desa Majannang, Kabupaten Maros, patut dipertanyakan. Hasil investigasi wartawan di lapangan menemukan kabel listrik yang menjalar di atas permukaan tanah tanpa pengamanan yang memadai, sehingga dinilai berpotensi membahayakan masyarakat yang datang ke lokasi. Dari pantauan langsung, kabel-kabel listrik terlihat membentang di jalur yang dilalui pengunjung. […]

  • Bappeda Gorontalo Gelar Kajian Dampak Sistem Usaha Tani Konservasi Jagung di Lahan Miring

    Bappeda Gorontalo Gelar Kajian Dampak Sistem Usaha Tani Konservasi Jagung di Lahan Miring

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo Wahyudin A. Katili membuka kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Kajian dan Dampak Sistem Usaha Tani Konservasi Jagung di Lahan Miring”, Selasa (4/11/2025). Kegiatan ini menghadirkan sejumlah peneliti, di antaranya Zulham Sirajudin, Ph.D, Ferdiansyah Hasan, SP, M.Si, Ivana Butolo, SE, MP, serta Gema Putra Baculu, ST, M.PA. Turut diundang pula Staf […]

  • Timnas Rasa Belanda: Rethinking Nasionalisme di Lapangan Hijau

    Timnas Rasa Belanda: Rethinking Nasionalisme di Lapangan Hijau

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 194
    • 0Komentar

    Bagi kita, penggemar sepak bola Indonesia, wajah Timnas Indonesia kini tampak berbeda. Dulu, kita mengenal pemain-pemain yang tumbuh besar di sini, dengan karakter dan ciri khas lokal yang tak bisa dilepaskan. Namun kini, hampir setiap pemain Timnas yang tampil memiliki tubuh tegap, kulit putih, dan seolah membawa cita rasa Eropa, terutama Belanda. Mereka bukanlah anak-anak […]

expand_less