Breaking News
light_mode
Trending Tags

Menjelaskan “Makuta Ilmu” Tanpa Menyesatkan: Kritik atas Kritik Tarmizi Abbas

  • account_circle Donald Qomaidiasyah Tungkagi
  • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
  • visibility 924
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kedua, Tarmizi mengklaim bahwa adat tidak bisa mewakili antroposentrisme karena adat itu normatif (dengan argumen muasal perubahan makna dalam konteks Gorontalo), sementara antroposentrisme adalah orientasi nilai sehingga “..seringkali dikritik karena menjadi muasal eksploitasi sumber daya alam”. Kritik dalam tanda petik terakhir bisa jadi benar jika dibaca tersendiri, namun keliru jika dikaitkan dengan simbolisasi paradigma “Makuta Ilmu”. Sebab bakal tampak ketidakpahaman mendasar tentang fungsi simbol dalam paradigma. Ketika saya mengatakan: “…dimensi antroposentris (adati) sebagai pilar sebelah kanan (dalam simbol makuta), menjadi konteks di mana ilmu pengetahuan diaktualisasikan sesuai dengan karakter lokal dan kebutuhan masyarakat”. Maksud adat mewakili dimensi antroposentris disini adalah adat sebagai lokus di mana nilai-nilai kemanusiaan (anthropos) lokal diaktualisasikan, bukannya adat sama persis dengan antroposentrisme sebagai filosofi. Lagian adat dan budaya merupakan objek material dalam kajian Antropologi (ilmu tentang manusia) dengan segala variannya: antropologi budaya, antropologi agama, dan seterusnya. Ini perbedaan antara representasi simbolik dan identitas substansial yang tampaknya luput dari pemahaman Tarmizi.

Ketiga, dan ini yang paling ironis, Tarmizi mengkritik bahwa ketiga pilar bersitegang seolah-olah tegangan itu adalah kelemahan. Padahal, paradigma dalam perspektif Kuhn (1962) justru mempertegas bahwa sains berkembang melalui revolusi paradigmatik yang dipicu oleh anomali dan ketegangan. Epistemologi integrasi-interkoneksi Amin Abdullah (2007) sebagaimana disebut sebelumnya, adanya tegangan produktif dalam pengetahuan merupakan motor penggerak perkembangan ilmu. Justru paradigma yang baik bukan yang menghilangkan tegangan, melainkan yang mengelola tegangan tersebut menjadi dialog produktif.

Ironi Tawaran Epistemologi Dekolonial

Tarmizi mengusulkan dekolonial sebagai paradigma UIN, dengan argument: “epistemologi dekolonial sederhananya adalah cara pikir tentang pengetahuan yang berangkat dari kritik warisan “kolonial” terhadap bagaimana cara kita memandang dunia. Tujuannya sederhana: mau bilang kalau ada beragam cara yang sah utuk memahami dunia, alih-alih setuju pada pusat kebenaran tunggal.” Diperkuat dengan rujukan pendapat tokoh dekolonial seperti Anibal Quijano, Walter Mignolo, dan Talal Asad. Saya sependapat dengan usulan ini, sebab sejauh ini memang perspektif dekolonial jarang bahkan hampir tidak pernah dikaji secara khusus di kampus kita.

  • Penulis: Donald Qomaidiasyah Tungkagi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gus Aniq Nawawi Sayangkan Aksi Bela Palestina di Gorontalo Gunakan Simbol Hizbut Tahrir

    Gus Aniq Nawawi Sayangkan Aksi Bela Palestina di Gorontalo Gunakan Simbol Hizbut Tahrir

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 107
    • 0Komentar

    nulondalo.com  – Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Randangan, Gorontalo Gus Aniq Nawawi (KH. Abdullah Aniq Nawawi) menyayangkan munculnya simbol-simbol organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pada aksi damai bela palestina oleh ratusan orang yang mengatasnamakan Santri Peduli Palestina pada Ahad, (2/2/2025), kemarin. Ratusan massa aksi tersebut menggunakan atribut bertuliskan Khilafah dan juga bendera yang identik […]

  • Curanmor Kilat di Tigaraksa Terekam CCTV, Polisi Ajak Warga Tingkatkan Kewaspadaan

    Curanmor Kilat di Tigaraksa Terekam CCTV, Polisi Ajak Warga Tingkatkan Kewaspadaan

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Video kejadian ini pun dengan cepat menyebar luas di berbagai platform media sosial seperti Instagram dan Facebook melalui sejumlah akun berita lokal Banten, memicu kekhawatiran masyarakat terhadap maraknya aksi curanmor. Menanggapi kejadian tersebut, pihak kepolisian dari Polresta Tangerang mengapresiasi warga yang telah melaporkan peristiwa ini. Polisi juga mengimbau masyarakat untuk segera melapor jika mengalami atau […]

  • Barira: Muktabah, Wala, dan Hak Pilih dalam Pernikahan (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan # 14)

    Barira: Muktabah, Wala, dan Hak Pilih dalam Pernikahan (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan # 14)

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 226
    • 0Komentar

    Setelah merdeka, Barira menghadapi persoalan lain dalam rumah tangganya. Ia sebelumnya menikah dengan seorang budak bernama Mughits. Dalam hukum Islam, ketika seorang budak perempuan menjadi merdeka sementara suaminya masih budak, ia memiliki hak untuk memilih tetap dalam pernikahan atau berpisah. Barira memilih untuk berpisah. Mughits sangat mencintainya dan diriwayatkan merasa sedih atas keputusan itu. Nabi […]

  • Skor SPI Anjlok ke 70,26: Integritas Maros Dipertanyakan

    Skor SPI Anjlok ke 70,26: Integritas Maros Dipertanyakan

    • calendar_month Kamis, 11 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 124
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Kabupaten Maros kembali menjadi sorotan setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merilis hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) 2025. Dalam laporan tersebut, Maros hanya meraih skor 70,26, yang menempatkannya pada kategori merah atau berisiko tinggi dalam hal integritas. Maros pun berada dalam jajaran 13 daerah di Indonesia yang mendapat rapor merah tahun ini. Bupati […]

  • Wagub Gorontalo Terima Audiensi Mata Garuda, Dorong Alumni LPDP Berkontribusi untuk Daerah

    Wagub Gorontalo Terima Audiensi Mata Garuda, Dorong Alumni LPDP Berkontribusi untuk Daerah

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Sementara itu, Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie menyambut baik kehadiran Mata Garuda Gorontalo. Ia mendorong organisasi tersebut untuk terus memperluas jangkauan dan semakin dikenal masyarakat, sekaligus menjadi motor penggerak peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah. “Kehadiran Mata Garuda diharapkan mampu memotivasi generasi muda Gorontalo untuk melanjutkan pendidikan tinggi, sekaligus kembali dan mengabdi membangun […]

  • Gorontalo Menyalakan Api Revolusi Lebih Dini: Pendang Kalengkongan dan Sejarah yang Terlupakan

    Gorontalo Menyalakan Api Revolusi Lebih Dini: Pendang Kalengkongan dan Sejarah yang Terlupakan

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 852
    • 0Komentar

    Sejarah, sebagaimana ia ditulis dan diwariskan, tak selalu adil pada semua tokoh yang turut membentuknya. Ada nama-nama yang diabadikan, dipatungkan, dan diajarkan dari generasi ke generasi. Namun ada pula yang perlahan menghilang—bukan karena perannya kecil, melainkan karena narasi tak selalu ramah pada mereka yang bekerja dalam diam. Di Gorontalo, ada satu tanggal yang setiap tahun […]

expand_less