Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Menjelaskan “Makuta Ilmu” Tanpa Menyesatkan: Kritik atas Kritik Tarmizi Abbas

  • account_circle Donald Qomaidiasyah Tungkagi
  • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
  • visibility 1.267
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tentang konsep ini saya jelaskan secara ringkas. Kemunculan paradigma keilmuan dalam transformasi IAIN menjadi UIN telah banyak diulas, intinya mencari jembatan integrasi ilmu agama dan sekuler yang dianggap dikotomi. Gagasan paling terkenal, ketika Amin Abdullah (2006) mencetus paradigma integrasi-interkoneksi dengan simbol “Jaring Laba-Laba” di UIN Yogyakarta. Hakikat integrasi-interkoneksi disini maksudnya pada ilmu yang beragam bisa dijembatani meski terdapat ketegangan. Sehingga upaya melahirkan temuan ilmiah baru hanya bisa lahir dari sejauhmana kemampuan dan kreatifitas akademisi/intelektual dalam mengintegrasikan ketegangan pada ragam ilmu yang bisa jadi secara epistemologi tidak saling berkaitan.

Menurut Amin Abdullah dalam bukunya Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif, tegangan antara berbagai dimensi keilmuan, bukanlah kelemahan yang harus dihilangkan, justru sebagai motor penggerak dialog produktif. Ia menjelaskan bahwa integrasi dan interkoneksi antar-disiplin ilmu, baik dari keilmuan sekuler maupun keilmuan agama, akan menjadikan keduanya saling terkait satu sama lain, bertegur sapa, saling mengisi kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Terus apa relevansinya dengan kritik Tarmizi?

Pertama, Tarmizi mengkritik bahwa sara’a (syariat) tidak bisa mewakili kosmosentrisme dengan dalil basisnya berbeda,  yang satu wahyu dan yang lain basisnya alam. Benar sebagian, namun terdapat kekeliruan kategorikal yang mendasar. Saya menulis begini: “dimensi kosmosentris (sara’) sebagai pilar sebelah kiri (dalam simbol makuta), menjadi medan eksplorasi rasional-empiris terhadap fenomena alam dan sosial.” Maksudnya sara’a bukan identik dengan kosmosentrisme dalam paradigma “Makuta Ilmu”, melainkan menjadi jembatan antara teosentrisme (Qur’ani) dan antroposentrisme (adati). Sekalipun syari’at basisnya wahyu, tidak berarti ia tercerabut dari fenomena kosmosentris. Syariat Islam, khususnya dalam tradisi fikih, selalu mempertimbangkan maqashid (tujuan hukum), maslahah (kemaslahatan publik), dan konteks sosio-kultural. Dengan demikian, syariat dalam konteks ini ingin menegaskan tentang dimensi kosmosentris karena ia responsif terhadap realitas empiris. Fikih lingkungan (fiqh al-bi’ah) dan konsep ekoteologi bisa jadi contoh relevan dalam perspektif ini.

  • Penulis: Donald Qomaidiasyah Tungkagi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Keutamaan Shalat Subuh Menurut Syekh Nawawi al-Bantani

    Keutamaan Shalat Subuh Menurut Syekh Nawawi al-Bantani

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 307
    • 0Komentar

    Syekh Nawawi al-Bantani, salah satu ulama besar Nusantara yang menjadi rujukan keilmuan di dunia Islam, banyak membahas keutamaan ibadah, termasuk shalat Subuh, dalam berbagai karya tulisnya, terutama dalam kitab Nihayatuz Zain, Tafsir Marah Labid (Tafsir Munir)_, dan Syarh Al-Muqaddimah Al-Hadramiyyah. Dikutip dari berbagai sumber, keutamaan shalat  Subuh menurut Syekh Nawawi al-Bantani, sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitabnya […]

  • Harga Jagung dan Gabah Mahal, Petani: Kami Bangga Dengan Gubernur Gusnar Ismail

    Harga Jagung dan Gabah Mahal, Petani: Kami Bangga Dengan Gubernur Gusnar Ismail

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 194
    • 0Komentar

    Petani Gorontalo menyambut baik dan gembira dengan kebijakan baru yang memberikan kepastian harga hasil panen untuk para petani.  Salah satu warga yang hadir pada kegiatan Panen Raya Padi di Desa Suka Makmur Utara, Kecamatan Tolangohula, Kabupaten Gorontalo bernama Rajak, mengungkapkan rasa bangganya terhadap kepemimpinan Gubernur Gusnar Ismail. “Kami sangat bangga dengan kepemimpinan Pak Gusnar yang […]

  • Jangan Tunggu Korban Berjatuhan! Kabel Listrik Berserakan di Tanah, Pasar Malam Dusun Taipa Diduga Abaikan Keselamatan Pengunjung

    Jangan Tunggu Korban Berjatuhan! Kabel Listrik Berserakan di Tanah, Pasar Malam Dusun Taipa Diduga Abaikan Keselamatan Pengunjung

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Nulondalo.Com, MAROS – Keselamatan pengunjung pasar malam di Dusun Taipa, Desa Majannang, Kabupaten Maros, patut dipertanyakan. Hasil investigasi wartawan di lapangan menemukan kabel listrik yang menjalar di atas permukaan tanah tanpa pengamanan yang memadai, sehingga dinilai berpotensi membahayakan masyarakat yang datang ke lokasi. Dari pantauan langsung, kabel-kabel listrik terlihat membentang di jalur yang dilalui pengunjung. […]

  • Kasus Oknum Polisi Naik Penyidikan, Kapolres Maros Tegas: Tak Ada Perlindungan

    Kasus Oknum Polisi Naik Penyidikan, Kapolres Maros Tegas: Tak Ada Perlindungan

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 325
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros — Kepolisian Resor (Polres) Maros resmi menaikkan status dugaan kasus penganiayaan yang melibatkan oknum personel Polri ke tahap penyidikan. Langkah ini diambil setelah penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Maros melakukan serangkaian pemeriksaan saksi dan mengantongi alat bukti yang dinilai cukup. Kapolres Maros, AKBP Douglas Mahendrajaya, menegaskan bahwa institusinya berkomitmen penuh untuk menangani […]

  • Runtuhnya Masyarakat Sipil?

    Runtuhnya Masyarakat Sipil?

    • calendar_month Minggu, 29 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 394
    • 0Komentar

    Pertanyaannya kemudian, apakah masyarakat sipil benar-benar runtuh, atau justru sedang mengalami transformasi? Bisa jadi yang kita saksikan bukanlah kematian, melainkan perubahan medium dan logika. Namun perubahan ini belum diikuti oleh adaptasi yang memadai—baik dalam strategi, metode, maupun produksi pengetahuan. Jika masyarakat sipil ingin kembali menemukan relevansinya, ia perlu melampaui sekadar produksi narasi. Ia harus kembali […]

  • DPR Soroti Skema War Tiket Haji dan Transparansi Pembiayaan 2026

    DPR Soroti Skema War Tiket Haji dan Transparansi Pembiayaan 2026

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 311
    • 0Komentar

    “Ini tentu memerlukan penjelasan yang sama dan terbuka, agar tidak menimbulkan kebingungan di masyarakat,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa transparansi dalam pengelolaan dana haji sangat penting, mengingat besarnya anggaran serta dampaknya terhadap calon jemaah. Hidayat juga meminta pemerintah memberikan penjelasan yang komprehensif dan konsisten terkait kebijakan pembiayaan tersebut. “Ini harus diluruskan agar tidak terjadi kesimpangsiuran, apalagi […]

expand_less