Menjelaskan “Makuta Ilmu” Tanpa Menyesatkan: Kritik atas Kritik Tarmizi Abbas
- account_circle Donald Qomaidiasyah Tungkagi
- calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
- visibility 687
- print Cetak

Keterangan Gambar : Simbol "Makuta" berwarna hijau dari Dr. Andries Kango, yang diperkaya konseptualisasi dari penulis.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Memang, seringkali terjadi akademisi terjebak dalam genetic fallacy, argumen Tarmizi tampak menunjukkan itu. Dalam filsafat logika, genetic fallacy merujuk pada kesalahan penalaran yang menolak atau menerima argumen bukan karena keseluruhan isinya, tapi terperangkap kaku pada argumen jejak asal-usul (Dowden, 2021). Biasanya kesalahan logika seperti ini muncul pada akademisi yang menilai validitas sebuah gagasan hanya sebatas historisnya semata (Scribbr, 2023).
Ketika Tarmizi mengatakan “…makuta masuk bersama administrasi kolonial, untuk menandakan kekuasaan absolut…”, dengan memberi tekanan argumentasi bahwa makuta sebagai adaptasi kolonial, belum cukup kuat untuk mendiskualifikasinya sebagai simbol epistemologi. Tarmizi juga mengakui, tidak mempersoalkan komodifikasi makuta di berbagai konteks seperti logo, rumah adat, dan seterusnya.
Jejak historis yang diulas Tarmizi, di beberapa bagian justru memberi kekayaan makna simbolis pada konsep “Makuta Ilmu”. Kutipan: “kata makuta baru dikenal di masa campur tangan Islam (jalur Ternate) dan Belanda di akhir abad-19”; “tutup kepala disebut paluwala, …ukurannya adalah kebijaksanaan yang pengakuan sosial”; “…sumber lain ada yang menulis bahwa makuta telah ada sejak zaman Eyato dan dibakukan sebagai busana adat dalam pernikahan dalam kerajaan” dan lain sebagainya, semakin memperkaya dan menguatkan relevansi konsep ‘makuta ilmu’. Jadi, dengan makuta yang telah bertransformasi dari paluwala menjadi bentuknya yang sekarang mencerminkan kemampuan adaptasi dan sintesis, persis seperti yang dibutuhkan oleh paradigma integrasi keilmuan yang berkembang di UIN.
Gagal Memahami Integrasi Epistemologis
Kelemahan kritik Tarmizi berikutnya adalah gagal memahami bagaimana integrasi epistemologis bekerja. Ketika ia menulis: “Donald tentu boleh saja berkilah dengan bilang, makanya harus ditafsirkan kembali agar selaras”, saya akui memang proses lahirnya gagasan ini melalui penafsiran kembali atas simbol budaya. Meski begitu, jika dikatakan bahwa tiga pilar dalam paradigma Makuta Ilmu saling bersitegang itu “benar”, namun mengatakan tidak integral itu yang “keliru dan terburu-buru”. Disini ada kesalahan mendasar dalam memahami konsep integrasi, wajar jika Tarmizi gagal di bagian ini, yang kuliah di UIN juga belum tentu semua paham.
- Penulis: Donald Qomaidiasyah Tungkagi

Saat ini belum ada komentar