Merayakan Krisis Kendali di Kampus: Kekerasan Seksual dalam Peradaban Layar
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
- visibility 111
- print Cetak

Muhammad Kamal, Penulis. Doc. Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Maka krisis kendali tidak lagi bersifat individual, melainkan struktural. Ia hadir dalam cara kita berinteraksi, dalam cara institusi bekerja, dan dalam cara teknologi membentuk kesadaran kita. Kita hidup dalam sistem yang mendorong kecepatan, tetapi tidak menyediakan ruang yang cukup untuk refleksi.
Namun, penting untuk tidak berhenti pada diagnosis. Menyederhanakan persoalan ini sebagai “dampak teknologi” saja juga keliru. Teknologi bukan penyebab tunggal, melainkan medium yang mempercepat dan memperluas pola-pola lama: patriarki, relasi kuasa yang timpang, dan lemahnya etika kolektif. Tanpa mengakui ini, kita hanya akan memindahkan kesalahan dari manusia ke alat.
Karena itu, respons yang dibutuhkan tidak cukup bersifat moralistik atau seremonial. Kampus perlu membangun ulang ekosistem etikanya: memperkuat pendidikan consent, membuka ruang aman bagi korban, serta memastikan bahwa prosedur penanganan tidak sekadar formalitas. Lebih dari itu, perlu ada upaya untuk memperlambat ritme—memberi ruang bagi refleksi di tengah budaya yang serba cepat.
kekerasan seksual di kampus adalah cermin dari bagaimana kita hidup hari ini: cepat, terhubung, tetapi rapuh dalam kesadaran. Peradaban layar terang memang memberi kita akses tanpa batas, tetapi tanpa kendali yang disertai refleksi, ia juga membuka kemungkinan bagi bentuk-bentuk kekerasan yang semakin halus dan sulit dikenali.
Pertanyaannya bukan lagi apakah kita hidup dalam kemajuan, tetapi apakah kita masih cukup sadar untuk mengendalikannya—atau justru sedang merayakan krisis itu tanpa benar-benar menyadarinya.
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar