Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Catatan Redaksi : Perdamaian yang Datang Bersama Proposal

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
  • visibility 423
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di dunia diplomasi modern, perdamaian jarang hadir sebagai nilai yang berdiri sendiri. Ia hampir selalu datang bersama proposal, bagan struktur organisasi, masa keanggotaan, dan daftar kebutuhan anggaran. Perdamaian bukan lagi sekadar cita-cita moral, melainkan sebuah proyek lengkap dengan terminologi teknokratis yang rapi dan bahasa yang sengaja dilembutkan.

Karena itu, tidak mengherankan ketika Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP) Gaza, hal pertama yang ramai diklarifikasi pemerintah bukanlah peta jalan penyelesaian konflik, melainkan soal uang. Tenang, kata Menteri Luar Negeri. Ini bukan membership fee. Hanya iuran sukarela.

Frasa “iuran sukarela” adalah salah satu mahakarya diplomasi internasional. Ia terdengar bebas, tetapi sarat ekspektasi. Sukarela, tapi dianjurkan. Tidak wajib, tapi diharapkan. Tidak mengikat, tapi absen berarti tidak sopan. Perdamaian, rupanya, dijalankan dengan mekanisme yang sangat familiar bagi dunia birokrasi: halus di bahasa, keras di konsekuensi.

BoP Gaza dibentuk dengan tujuan yang sulit ditolak siapa pun: menyelesaikan konflik dan membiayai rekonstruksi. Namun justru dari tujuan mulia itu muncul pertanyaan paling jujur dan paling telanjang: siapa yang bayar? Uangnya dari mana? Pertanyaan ini adalah pengakuan diam-diam bahwa dalam tatanan global hari ini, keadilan tidak pernah benar-benar gratis. Yang gratis hanyalah pidato dan pernyataan sikap.

Indonesia, bersama Mesir dan Arab Saudi, diundang untuk duduk di meja perdamaian. Undangan semacam ini tentu bukan tanpa pertimbangan. Mereka yang diajak bukan hanya yang bersuara lantang, tetapi juga yang dianggap cukup penting atau cukup mampu. Solidaritas kemanusiaan, dalam praktiknya, tetap harus melewati uji kelayakan finansial. Empati boleh universal, partisipasi tetap selektif.

Kebutuhan pemerintah untuk menegaskan bahwa tidak ada iuran tetap justru menunjukkan sesuatu yang lebih dalam: publik sudah terlalu sering menyaksikan bagaimana forum-forum internasional berubah menjadi ajang patungan global. Kursi di dewan, suara dalam forum, dan legitimasi moral sering kali datang sepaket dengan kontribusi finansial. Tidak tertulis dalam dokumen resmi, tetapi dipahami oleh semua yang terlibat.

Lebih ironis lagi, status “anggota selama tiga tahun” disampaikan seolah ini kontrak kerja sama, bukan misi kemanusiaan. Gaza, dengan segala luka dan kehancurannya, direduksi menjadi proyek multilateral dengan tenggat waktu, struktur kelembagaan, dan skema pendanaan. Di titik ini, penderitaan manusia tampak kalah cepat dibanding prosedur.

Satir terbesar dari situasi ini adalah bagaimana perdamaian selalu dipromosikan sebagai nilai universal, tetapi dikelola dengan logika eksklusif. Negara miskin diberi ruang untuk bersimpati, negara kuat diminta berpartisipasi. Yang satu menyumbang doa, yang lain menyumbang dana. Keduanya sama-sama disebut kontribusi, meski bobot dan risikonya tidak pernah benar-benar setara.

Di tengah keteraturan ini, penting untuk mengingat satu cara pandang yang sering absen dari meja-meja resmi, yakni cara pandang KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Bagi Gus Dur, Gaza tidak pernah dimulai dari peta geopolitik atau arsitektur forum internasional. Gaza dimulai dari wajah manusia; anak-anak, perempuan, dan warga sipil yang hidup dalam kekerasan yang tidak mereka pilih.

Gus Dur percaya bahwa ketidakadilan terhadap rakyat Palestina adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan. Penjajahan adalah kejahatan moral, siapa pun pelakunya dan atas nama apa pun ia dilakukan. Namun pembelaan itu tidak pernah berubah menjadi kebencian membabi buta. Ia mengutuk kekerasan tanpa menutup pintu dialog, sebuah sikap yang sering dianggap ganjil di tengah dunia yang gemar memilih kubu.

Dalam cara berpikir Gus Dur, kemarahan yang tak dikelola justru menjadi bahan bakar kekerasan. Ia menolak melihat Gaza sebagai panggung pertarungan agama. Konflik Palestina–Israel terlalu sering disederhanakan menjadi Islam versus Yahudi, padahal akar persoalannya adalah kolonialisme, ketimpangan kekuasaan, dan kegagalan politik internasional. Ketika konflik direduksi menjadi identitas, korban sipil kehilangan tempat dalam narasi, dan penderitaan berubah menjadi alat legitimasi.

Karena itu Gus Dur memilih jalan yang tidak populer: dialog. Berbicara dengan musuh bukanlah pengkhianatan, melainkan syarat awal perdamaian. Memutus komunikasi, baginya, hanya memperpanjang derita. Perdamaian tidak lahir dari saling membungkam, tetapi dari keberanian membuka pintu, meski dengan risiko disalahpahami.

Gus Dur juga gelisah melihat bagaimana Gaza kerap diperlakukan sebagai simbol moral yang murah. Banyak pidato keras, banyak slogan heroik, tetapi sedikit strategi yang benar-benar menyentuh akar ketidakadilan. Solidaritas yang berhenti pada retorika, baginya, justru mengkhianati korban. Ia lebih mempercayai langkah sunyi yang konkret ketimbang teriakan yang hanya memuaskan emosi.

Indonesia tentu berhak merasa telah “ikut serta” dalam upaya perdamaian. Namun partisipasi tanpa keberanian politik hanya akan menjadikan kita penyokong sistem, bukan pengoreksinya. Gaza tidak hanya membutuhkan dana rekonstruksi, tetapi juga keberanian untuk mengatakan bahwa perdamaian tidak boleh direduksi menjadi proposal, apalagi dijual sebagai paket keanggotaan.

Jika perdamaian terus dikelola dengan cara seperti ini—lengkap dengan proposal di awal dan klarifikasi di akhir—maka satu hal patut dicatat, bahwa di dunia internasional, perang memang mahal, tetapi perdamaian tampaknya jauh lebih terorganisir.

Dan mungkin, di situlah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya, apakah perdamaian yang paling kita butuhkan hari ini adalah yang paling rapi strukturnya, atau yang paling setia menjaga martabat manusia?

  • Penulis: Djemi Radji
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Musdes Yosonegoro Bahas Realisasi APBDes Semester I 2026, Pemdes Salurkan BLT dan Gelar Rapat Evaluasi

    Musdes Yosonegoro Bahas Realisasi APBDes Semester I 2026, Pemdes Salurkan BLT dan Gelar Rapat Evaluasi

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle Valdi Pontoh
    • visibility 276
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Desa Yosonegoro, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo, menggelar Musyawarah Desa (Musdes) terkait penyampaian Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Semester I Tahun Anggaran 2026, Selasa (9/6/2026), di Aula Kantor Desa Yosonegoro. Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan penyaluran Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) bulan Juni 2026 kepada delapan Keluarga Penerima Manfaat (KPM), […]

  • 10 Tanaman Pengusir Nyamuk yang Bisa Ditanam di Rumah

    10 Tanaman Pengusir Nyamuk yang Bisa Ditanam di Rumah

    • calendar_month Minggu, 11 Okt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 67
    • 0Komentar

    Nulondalo.com — Nyamuk bukan sekadar mengganggu kenyamanan saat beraktivitas atau beristirahat. Serangga ini juga dapat menularkan penyakit, seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria, dan chikungunya. Selain menjaga kebersihan lingkungan dan menghilangkan genangan air, masyarakat dapat memanfaatkan tanaman tertentu sebagai salah satu upaya pendukung untuk mengurangi gangguan nyamuk di sekitar rumah. Sejumlah tanaman memiliki aroma atau […]

  • PENAS XVII Gorontalo: Antara Klaim Pemerintah dan Jejak Perjuangan KTNA

    PENAS XVII Gorontalo: Antara Klaim Pemerintah dan Jejak Perjuangan KTNA

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 240
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Suksesnya pelaksanaan Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Kabupaten Gorontalo meninggalkan cerita besar bagi daerah. Ribuan petani, nelayan, penyuluh, pelaku usaha pertanian, hingga pejabat negara hadir dalam agenda nasional yang berlangsung 20–25 Juni 2026 di kawasan GORR David-Tony, Limboto. Namun, di balik keberhasilan Gorontalo menjadi tuan rumah, muncul perbincangan […]

  • IDE Indonesia Chapter Kota Bandung Gelar Pelantikan, Simposium dan Launching Store of IDE

    IDE Indonesia Chapter Kota Bandung Gelar Pelantikan, Simposium dan Launching Store of IDE

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 186
    • 0Komentar

    Institute of Democracy and Education (IDE) Indonesia Chapter Kota Bandung sukses menyelenggarakan pelantikan pengurus baru, simposium, serta launching Store of IDE yang digelar di Auditorium Balai Kota Bandung pada 15 Maret 2025. Acara ini menjadi momentum penting dalam memperkuat peran pemuda sebagai motor penggerak perubahan sosial di Kota Bandung. Pelantikan dipimpin oleh Ketua Umum IDE […]

  • Mahasiswa Desak Renovasi Asrama Wonocatur, Soroti Tunggakan Pajak dan Janji yang Tak Pernah Terealisasi photo_camera 3

    Mahasiswa Desak Renovasi Asrama Wonocatur, Soroti Tunggakan Pajak dan Janji yang Tak Pernah Terealisasi

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Mike
    • visibility 269
    • 0Komentar

    Yogyakarta — Mahasiswa Gorontalo yang menghuni Asrama Wonocatur, Yogyakarta, kembali menyuarakan tuntutan renovasi menyeluruh terhadap bangunan asrama yang kian memburuk. Kerusakan fisik yang terus bertambah dinilai sebagai dampak dari renovasi yang tidak berkualitas, ditambah dengan persoalan administratif yang hingga kini belum diselesaikan oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo. Ketua Asrama Gorontalo Wonocatur, Prasetya, menyebut bahwa kondisi bangunan […]

  • Kemenhaj Layaknya Santri Yang Baru Mondok

    Kemenhaj Layaknya Santri Yang Baru Mondok

    • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 507
    • 0Komentar

    Orang NU punya prinsip sederhana: kalau niatnya ibadah, jangan dibuat ribet. Sayangnya, urusan haji yang jelas-jelas ibadah sering kali justru paling ribet urusannya. Maka ketika Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) lahir, umat pun berharap: “Alhamdulillah, semoga haji tak lagi seperti antre sembako menjelang lebaran.” Tapi apa daya, harapan sering kalah cepat dari realitas birokrasi. Sebagai […]

expand_less