Saldo Akhir
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 64
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Setelah Ramadhan berlalu dan gema takbir Idul Fitri mulai mereda, kita seperti akuntan yang baru saja menutup buku besar tahunan: lega, tapi juga sedikit was-was. Lega karena “laporan ibadah” sudah disusun sebulan penuh, was-was karena pertanyaan klasik muncul: ini saldo akhirnya bagaimana?
Dalam dunia akuntansi, saldo akhir bukan sekadar angka. Ia adalah hasil dari seluruh transaksi, keputusan, dan—kadang—kesalahan pencatatan yang kita lakukan sepanjang periode. Dalam kehidupan spiritual pasca-Ramadhan, logika ini berlaku juga. Bedanya, yang diperiksa bukan auditor eksternal, tapi “auditor langit” yang tidak bisa diajak kompromi, apalagi diberi bingkisan lebaran.
Ramadhan sejatinya adalah masa “audit internal”. Kita menahan lapar, dahaga, dan amarah—meski yang terakhir ini sering bocor halus seperti laporan keuangan yang terlalu kreatif. Kita rajin shalat, sedekah, bahkan tiba-tiba menjadi ahli tafsir dadakan di grup WhatsApp keluarga. Semua itu adalah bentuk pencatatan amal yang intensif. Namun, persoalannya bukan pada aktivitas selama Ramadhan, melainkan bagaimana dampaknya terhadap saldo akhir setelahnya.
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, ada satu humor halus: “Orang itu kalau Ramadhan seperti malaikat, tapi habis lebaran kembali jadi manusia—bahkan kadang ‘lebih manusia’ dari sebelumnya.” Humor ini bukan untuk merendahkan, tapi justru mengingatkan bahwa konsistensi adalah ujian sebenarnya. Kalau Ramadhan adalah “closing sementara”, maka Syawal dan bulan-bulan berikutnya adalah “periode berjalan” yang menentukan apakah saldo akhir kita stabil atau malah anjlok drastis.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar