Breaking News
light_mode
Trending Tags

Bagaimana jika Ramadan Bukan Bulan yang Paling Istimewa?

  • account_circle Redaksi Nulondalo
  • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
  • visibility 37
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Adagium bahwa Ramadan sebagai bulan yang paling agung dalam Islam merupakan klaim yang diyakini mayoritas umat Islam dunia, tak terkecuali di Indonesia. Diyakini sebagai bulan paling agung lantaran Ramadan adalah bulan wajib untuk berpuasa selama sebulan; diturunkannya Al-Quran (Syahr Ramadan); namanya diabadikan di dalam al-Quran (Qs. 2: 185); bahkan pada bulan ini ada peristiwa Laylahal-Qadr (Qs. 30: 97) yang malam-malamnya diibaratkan oleh Al-Quran lebih baik daripada seribu bulan. Namun bagaimana jika klaim ini ternyata keliru? Bagaimana jika Ramadan bukan bulan paling istimewa?

Ini pertanyaan mengguncang, namun penting dipikirkan guna menelusuri kembali kelahiran Islam secara historis. Dengan menyatakan kewajiban berpuasa di dalam bulan Ramadan juga tidak berarti bahwa bulan ini paling agung. Tradisi puasa itu ritus yang paralel dengan agama monoteis sebelum Islam, yakni Kristen dan Yahudi. Atau karena Ramadan adalah bulan al-Quran diturunkan atau di dalamnya ada Laylah al-Qadr, ini juga tidak secara gamblang membuktikan bahwa bulan ini paling agung!

Puasa Ramadan, Apa yang Berbeda?

Tradisi puasa Ramadan dalam Islam sebenarnya mengapropriasi ritus peribadatan sebelumnya yang dilakukan oleh Kristen dan Yahudi. Umat Kristiani di abad-abad awal, dijelaskan oleh At-Thabari di dalam tafsir Jami’ul Bayan fi Ta’wil Al-Quran, ketika menafsirkan kewajiban berpuasa pada Qs. Al-Baqarah 183, menyebut frase“orang-orang terdahulu” itu  juga termasuk umat Kristen awal. Baginya, bahkan tepat pada bulan ini, ketika umat Kristiani melakukan puasa, mereka juga melanggengkan amal penting yang persis dengan Islam di zaman kiwari saat berpuasa: tidak makan-minum bahkan berhubungan badan selama Ramadan.

Kesinambungan ini bahkan merentang hingga ke dalam praktik agama Yahudi. Dalam hal ini, hari Asyura, di 10 Muharram, menjadi cikal-bakal munculnya tradisi puasa di bulan Ramadan. Mun’im Sirry, di dalam Islam Revisionis (2018), menyebut hal ini dengan dua alasan kunci: 1) Nabi memerintahkan puasa pada hari tersebut (hadist); 2) karena puasa Asyura sudah rutin dilakukan oleh kaum Quraisy. Dua alasan ini, jika di beber jantungnya, berdaras pada peristiwa Hari Pengampunan (YomKippur), ketika umat Yahudi terbebas dari keangkuhan Fir’aun di Mesir sekaligus awal Eksodus Nabi Musa. Hanya saja, setelah perintah puasa Ramadan ini turun, status puasa Asyura turun menjadi sunnah dan puasa Ramadan menjadi wajib dilakukan bagi umat Islam. Lantas apa yang distingtif sekaligus membuat puasa Ramadan menjadi begitu istimewa dan agung, selain dari paralelitas ini?

Tentu saja, lanjut Sirry (2018) karena pertama, ada ayat al-Quran yang memerintahkan; kedua, karena hal ini berkaitan dengan keagungan-keagungan yang terjadi selama Ramadan: suhuf Ibrahim diturunkan pada 1 Ramadan, Taurat diturunkan pada Nabi Musa As., pada 6 Ramadan, Injil diturunkan pada Nabi Isa As., pada 13 Ramadan, Zabur diturunkan pada Dawud pada 11 Ramadan, dan Al-Quran diturunkan pada Nabi Muhammad Saw., pada 24 Ramadan. Berbagai domain-domain “agung” inilah yang sebenarnya membentuk persepsi eskatologis mengapa Ramadan menjadi bulan yang paling agung. Dengan demikian, Ramadan tidak akan menjadi istimewa jika fenomena-fenomena ini tidak terjadi.

Perkembangan Tradisi Muslim

Berbagai fenomena di atas adalah domain-domain pembentuk mengapa Ramadan disebut bulan paling agung. Namun demikian, menarik untuk melihat bagaimana melihat keagungan Ramadan ini semakin pusparagam ditafsirkan oleh masyarakat Muslim pasca Kenabian Nabi Muhammad Saw. Interpretasi ini merujuk pada berbagai fenomena sosiokultural dan keagamaan yang lahir dari bagaimana umat Islam lantas menyambut Ramadan sesuai dengan konteks geografis di mana mereka tinggal.

Lebih dekat, saya hendak mengambil contoh di Gorontalo. Bagi kalangan Muslim tradisional di Gorontalo, Ramadan adalah bulan yang suci dan penuh keagungan, sehingga beberapa hari sebelum puasa pertama, mereka melakukan berbagai tradisi khusus penyambutan Ramadan. Pertama adalah Yimelu, atau tradisi silaturahmi masyarakat Gorontalo jelang ramadan yang identik dengan permintaan maaf. Yimelu bahkan diikuti membuat langgilo, atau pewangi pakaian alami untuk shalat, dan bongoyiladu sebagai shampoo alami mencuci rambut.

Dalam spektrum yang lebih luas, pada 15 Ramadan, di Gorontalo, ada yang disebut tradisi Malam Qunut. Di dalam tradisi ini, orang-orang berkumpul, berzikir bersama dan saling silaturahmi. Ketika mereka melakukan ini,cemilannya adalah kacang dan pisang (kaca wau lutu). Di sela-sela kongkow-kongkow, Malam Qunut juga dibarengi dengan ritual mandi dosa. Salah satu sumur tua di Kecamatan Batuda’a-lah yang diambil airnya dalam pelaksanaan ritual tersebut. Masyarakat percaya ketika mandi dengan air dari sumur tersebut, maka dosa-dosa mereka akan terhapuskan.

Tantangan dan Beberapa Catatan

Kesulitannya saat ini, berbagai tradisi ini seringkali mendapat hantaman yang cukup serius dari golongan Muslim konservatif. Alasan mereka seperti yang sudah-sudah: karena tradisi yang demikian itu merupakan hal yang tidak pernah dilakukan Nabi Muhammad. Tafsir kaku yang direpresentasikan oleh kaum di atas, merupakan pembacaan terhadap Islam literal-atomistik. Jelas, Yimelulanggilo, bongoyiladu, bahkan Malam Qunut tidak pernah ada dalam tradisi Muslim Arabia. Hal ini justru berkembang belakangan seturut Islam mengalami serangkaian reartikulasi di dalam struktur pemahaman masyarakat lokal Gorontalo ketika menerima dan mempraktikkan Islam.

Namun cara baca itu berusaha menampik fakta bahwa Islam adalah agama yang menyejarah. Disebut demikian lantaran ketika disebarkan ke berbagai tempat, para pemeluk Islam akan melakukan serangkaian reartikulasi dan apropriasi dengan kultur dan kebudayaan masyarakat saat itu, sebagaimana tradisi puasa juga ternyata memiliki paralelitas dengan agama-agama sebelum Islam. Di sinilah hal yang saya maksudkan bahwa agama, sekalipun ia merupakan risalah berisi doktrin dari Tuhan, namun juga tidak terlepas dari aktivitas sejarah, di mana proses kreasi, refleksi dan kontekstualisasi kebudayaan terus menerus terjadi—sebagaimana terjadi di Gorontalo yang melahirkan ragam tradisi dan kebudayaan.

Hanya saja, karena berbagai tradisi menyambut dan memeriahkan Ramadan di Gorontalo tersebut adalah tradisi, maka ia akan mengalami serangkaian kerentanan lantaran sifatnya tidak wajib, meskipun berkait-kelindan dengan hukum adat atau setidaknya memiliki kaitan dengannya. Konsekuensinya, hal-hal ini bisa saja tidak dipraktikkan lagi. Argumen lain misalnya: tradisi ini tidak dilestarikan lagi seturut meninggalnya para sesepuh yang memahami betul asal-usul praktik tersebut, hingga yang paling kiwari adalah modernisasi yang turut mempengaruhi komunalisme tradisional orang-orang Gorontalo. Tetapi penting untuk diketahui bahwa berbagai tradisi dan kebudayaan ini adalah bagian dari pada Islam yang, mau dilihat dari sisi manapun, merupakan domain pembentuk “keagungan Ramadan”.***

*Artikel tayang sebelumnya di media nulondalo.online

Penulis : Tarmizi Abbas, MA – (Alumni the Centre for Religious and Cross-cultural Studies, UGM, Yogyakarta)

  • Penulis: Redaksi Nulondalo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Halal Bi Halal: Silaturrahmi Yang Membentuk “Kita”

    Halal Bi Halal: Silaturrahmi Yang Membentuk “Kita”

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 29
    • 0Komentar

    Setiap lebaran tiba, ada satu momen yang selalu kita tunggu dengan antusias: Halal Bi Halal. Di banyak keluarga muslim Indonesia, tradisi ini berarti keliling dari rumah ke rumah, bersalaman, dan menyantap hidangan yang sensasi rasanya tak pernah gagal. Tapi lebih dari itu, ada suasana hangat yang selalu hadir: perasaan diterima kembali, (setelah) apapun yang terjadi […]

  • Alumni Lemhannas Berperan Starategis Kuatkan Wawasan Kebangsaan

    Alumni Lemhannas Berperan Starategis Kuatkan Wawasan Kebangsaan

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 24
    • 0Komentar

    Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie menyampaikan harapannya agar Ikatan Alumni (IKAL) Lemhannas Republik Indonesia Provinsi Gorontalo dapat menjadi contoh organisasi strategis yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah. Dalam sambutannya pada pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IKAL Lemhannas Provinsi Gorontalo periode 2025–2030, Rabu (2/7/2025), Idah menekankan bahwa IKAL memiliki posisi penting […]

  • Chelsea Pecat Enzo Maresca Meski Bertengger di Lima Besar Liga Inggris

    Chelsea Pecat Enzo Maresca Meski Bertengger di Lima Besar Liga Inggris

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 63
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Chelsea secara resmi memecat pelatih Enzo Maresca di tengah berlangsungnya Liga Primer Inggris musim 2025/2026. Keputusan tersebut diambil manajemen The Blues meski performa tim dinilai belum sepenuhnya terpuruk. Saat ini, Chelsea masih menempati peringkat kelima klasemen sementara Liga Inggris. Namun, jarak 15 poin dari pemuncak klasemen Arsenal dianggap sebagai sinyal peringatan serius bagi […]

  • Banjir Melanda Kelurahan Sasa RT 12, Warga Minta Perhatian Pemerintah Kota Ternate 

    Banjir Melanda Kelurahan Sasa RT 12, Warga Minta Perhatian Pemerintah Kota Ternate 

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 21
    • 0Komentar

    Terjadi Banjir melanda kota Ternate, kelurahan Sasa RT 12 sekitar pukul 15:46 WIT, dengan kekuatan yang lebih besar dan dampak yang lebih luas. Kamis, 20 Maret 2025. Menurut Ardian, salah satu warga terdampak, penyebab utama dari banjir kali ini adalah adanya penggusuran lahan yang terjadi di sekitar area tersebut. Penggusuran lahan dinilai telah merusak struktur […]

  • Persipura Jayapura Tekuk Deltras FC 1-0 di Stadion Lukas Enembe

    Persipura Jayapura Tekuk Deltras FC 1-0 di Stadion Lukas Enembe

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Ali Doniaw
    • visibility 59
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Persipura Jayapura meraih kemenangan penting usai menundukkan Deltras FC dengan skor tipis 1-0 dalam lanjutan Liga 2 Pegadaian musim 2025/2026 di Stadion Lukas Enembe, Kampung Harapan, Minggu (4/1/2026). Gol tunggal Jeam Kelly Sroyer menjadi penentu tiga poin krusial bagi tim tuan rumah. Pertandingan berjalan dengan intensitas tinggi sejak menit awal. Di hadapan ribuan […]

  • Ironi Serambi Madinah, Dua Dekade Provinsi Berdiri Tanpa Masjid Raya

    Ironi Serambi Madinah, Dua Dekade Provinsi Berdiri Tanpa Masjid Raya

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Hafiz Aqmal Djibran, S.Ikom
    • visibility 27
    • 0Komentar

    Jika Aceh dikenal dengan “Serambi Mekkah”, maka Gorontalo dikenal dengan “Serambi Madinah”. Julukan tersebut sudah lama dikenal khususnya bagi masyarakat Gorontalo, termasuk penulis. Barangkali telah menjadi identitas daerah Gorontalo yang bisa diketahui oleh banyak orang. Tentunya julukan ini tidak serta merta turun dari langit dan dipersembahkan untuk daerah Gorontalo. Jika digali dari sejarah lokal dan […]

expand_less