Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ketika Amanah Mangkrak Seperti Proyek Negara

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
  • visibility 114
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Amanah sering kita dengar di khutbah Jumat atau ceramah Ramadan. Ia terdengar khidmat, tapi juga kadang terasa jauh dari kehidupan politik sehari-hari. Amanah seolah dipindahkan ke ruang ibadah, sementara di ruang kekuasaan ia diperlakukan seperti barang opsional—dipakai kalau perlu, ditinggalkan kalau mengganggu kepentingan.

Padahal republik tidak berdiri hanya dengan undang-undang dan birokrasi. Ada kontrak tak tertulis yang membuat negara ini tetap dipercaya oleh warganya. Rakyat membayar pajak, memilih pemimpin, mematuhi hukum—semua itu karena ada keyakinan sederhana: kekuasaan akan dijalankan dengan tanggung jawab. Keyakinan itulah yang disebut amanah.

Masalahnya, keyakinan ini semakin sering diuji. Kita hidup di masa ketika proyek pembangunan bisa bernilai triliunan rupiah, tetapi akuntabilitasnya sering terasa jauh lebih kecil dari angka itu. Infrastruktur memang tumbuh pesat, tetapi pertanyaan publik juga ikut tumbuh: untuk siapa sebenarnya pembangunan ini dilakukan? Pertanyaan yang kerap dibalas oleh persekusi dan diskirminasi..

Ambil contoh proyek ambisius seperti Ibu Kota Nusantara. Di atas kertas, gagasannya sangat futuristik: kota hijau, kota pintar, kota masa depan. Sebuah simbol bahwa Indonesia siap melompat ke abad berikutnya. Tetapi di ruang diskusi publik, proyek ini juga memunculkan kegelisahan: apakah negara sedang membangun masa depan yang inklusif, atau sekadar meninggalkan masalah lama di tempat baru?
Atau soal ambisi berlabel Gizi ataopu ekonomi kerakyatan berlabel merah Putih?

Perdebatan semacam ini sebenarnya sehat. Ia menunjukkan bahwa masyarakat masih peduli pada arah republik. Namun ia juga memperlihatkan satu kenyataan, bahwa kepercayaan publik tidak lagi otomatis lahir dari proses demokratisasi, sebab didalamnya kita kehilangan amanah.

Padahal Republik ini berkali-kali diingatkan bahwa amanah bisa runtuh oleh hal-hal yang sangat banal: keserakahan. Kita masih ingat bagaimana bantuan sosial yang seharusnya menyelamatkan rakyat saat pandemi justru disunat melalui praktik korupsi yang menyeret nama aktor. Bantuan untuk warga miskin berubah menjadi komoditas politik. Jika tragedi semacam ini tidak cukup untuk membuat kita merenung tentang arti amanah, mungkin kita memang sudah terlalu kebal terhadap disparitas macam ini..

Memang persoalan ini sebenarnya sudah lama dibahas dan terdengar klise. Betapapun itu saya tetap percaya harmoni itu tidak mungkin lahir jika mereka yang memegang kekuasaan kehilangan integritas. Dalam bahasa yang lebih sederhana—dan mungkin lebih dekat dengan keseharian kita, bahwa negara yang adil hanya mungkin lahir jika orang-orang yang memegang kekuasaan masih ingat bahwa jabatan adalah titipan, bukan hadiah undian.

Tantangan republik Indonesia hari ini sebenarnya bukan sekadar soal ekonomi atau teknologi. Kita punya sumber daya, kita punya generasi muda, kita punya energi sosial yang besar. Tantangan yang lebih sulit justru sesuatu yang tak kasat mata: kepercayaan.
Di era media sosial, rakyat bisa melihat semuanya dengan lebih cepat. Kontradiksi antara pidato dan realitas tidak lagi bisa disembunyikan lama-lama. Ketika pejabat berbicara tentang penghematan tetapi hidup dalam kemewahan, publik melihatnya. Ketika pemerintah berbicara tentang kesejahteraan rakyat tetapi kebijakan terasa jauh dari kehidupan sehari-hari, publik juga merasakannya. Lama-lama, yang hilang bukan hanya kepercayaan pada individu, tetapi kepercayaan pada sistem.

Dan republik tanpa kepercayaan adalah republik yang rapuh. Ia mungkin tampak kuat dari luar—gedung-gedung berdiri, statistik ekonomi tumbuh, proyek-proyek diresmikan dengan pita merah—tetapi di dalamnya ada rongga yang perlahan membesar dan menjangkiti jantung kita bernegara..

Jika di lacak lebih jeli, bangsa ini sebenarnya punya tradisi moral yang kuat. Dari budaya lokal sampai ajaran agama, konsep amanah selalu diajarkan sejak kecil. Orang tua mengingatkan anaknya untuk jujur, guru menekankan tanggung jawab, tokoh agama berbicara tentang integritas. Nilai itu ada di mana-mana—kecuali, sering kali, di tempat yang paling membutuhkan: ruang kekuasaan.

Juga setiap kali kita mendekati hari raya seperti Idul Fitri, suasana refleksi terasa berbeda. Idul Fitri selalu datang dengan pesan sederhana: kembali. Kembali bersih, kembali jujur, kembali pada nilai-nilai yang membuat manusia tetap manusia.

Bagi republik ini, pesan itu sebenarnya sangat relevan. Setelah setahun penuh kita sibuk dengan proyek pembangunan, debat politik, dan drama kekuasaan, Idul Fitri seperti mengingatkan satu hal yang sering terlupakan: bangsa ini tidak hanya membutuhkan jalan tol dan gedung tinggi pun kerja kerja birokratis semata namun Ia juga membutuhkan sesuatu yang jauh lebih substansial yaitu Amanah, baik personal apalagi kolektif.

Karena tanpa amanah, pembangunan apapun baik moral apalagi fisik hanya akan menjadi dekorasi. menjelang akhir puasa inilah saat yang cukup tepat untuk bertanya, dimulai bertanya pada diri sendiri bahwa di tengah semua kemegahan itu, apakah kita masih benar-benar menjaga amanah?

Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dakwah dengan Akhlak, Bukan Amarah: Pesan KH. Hasyim Asy’ari yang Relevan Hingga Kini Play Button

    Dakwah dengan Akhlak, Bukan Amarah: Pesan KH. Hasyim Asy’ari yang Relevan Hingga Kini

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 204
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Bagaimana seharusnya Islam hadir di tengah masyarakat yang belum sepenuhnya menjalankan syariat? Pertanyaan inilah yang menjadi pokok bahasan dalam sebuah pengajian yang digelar secara mendadak dan disiarkan melalui kanal youtube NUtizen Televisi, pada dua tahun yang lalu. Pengajian tersebut disampaikan oleh KH. Abdullah Aniq Nawawi, MA, Katib Syuriyah PWNU Gorontalo sekaligus Pengurus Lembaga […]

  • Bahaya Gambar Telanjang Palsu Buatan AI: Netizen Perlu Waspada

    Bahaya Gambar Telanjang Palsu Buatan AI: Netizen Perlu Waspada

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 221
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kemajuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membuka banyak peluang positif dalam dunia digital. Namun, di sisi lain, teknologi ini juga menghadirkan ancaman serius terhadap privasi dan martabat manusia. Salah satu bentuk penyalahgunaan yang kini menjadi sorotan global adalah pembuatan gambar telanjang palsu atau berpakaian minim menggunakan AI, tanpa persetujuan subjeknya. Isu ini kembali […]

  • Etika Lingkungan Diabaikan Karma Ekologi Menerjang

    Etika Lingkungan Diabaikan Karma Ekologi Menerjang

    • calendar_month Minggu, 7 Des 2025
    • account_circle Hatim Badu Pakuna, S.Ag., M.Ag.
    • visibility 118
    • 0Komentar

    Setiap pekan, perjalanan pulang kampung terasa istimewa. Hanya sekitar 70 Km dari pusat kota Gorontalo, ke arah barat, persisnya di wilayah Tolangohula. Membutuhkan waktu tempuh sekitar dua jam dengan kecepatan rata-rata 40 km per jam. Jalanan berliku, dengan sensasi turunan dan tanjakan, melewati puluhan desa berkembang memberi kenikmatan tersendiri dalam berkendara. Suami yang memegang kendali, […]

  • Pemkab Bone Bolango Tegaskan Pengawalan Ketat Amdal Tambang Emas PT Gorontalo Minerals

    Pemkab Bone Bolango Tegaskan Pengawalan Ketat Amdal Tambang Emas PT Gorontalo Minerals

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 81
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kabupaten Bone Bolango menegaskan komitmennya untuk mengawal secara ketat rencana kegiatan pertambangan emas PT Gorontalo Minerals agar berjalan seimbang antara kepentingan investasi, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat. Penegasan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Bone Bolango, Iwan Mustapa, saat menghadiri Rapat Komisi Pembahasan Amdal RKL-RPL rencana kegiatan pertambangan emas DMP PT Gorontalo Minerals yang […]

  • Menakar Potensi dan Ancaman Kerusakan Wilayah Pesisir Bone Bolango

    Menakar Potensi dan Ancaman Kerusakan Wilayah Pesisir Bone Bolango

    • calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
    • account_circle Iwan Miu
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Indonesia adalah negara maritim dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, dihuni oleh ribuan desa pesisir yang tersebar dari barat hingga timur nusantara. Desa-desa pesisir tidak hanya berperan sebagai penyangga ekologi, tetapi juga merupakan lumbung sumber daya alam, terutama di sektor kelautan dan perikanan. Namun, di balik potensi besar tersebut, desa pesisir menghadapi berbagai tantangan […]

  • Ronaldo ke Indonesia Bukan di Undang PSSI, Lantas Siapa?

    Ronaldo ke Indonesia Bukan di Undang PSSI, Lantas Siapa?

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 64
    • 0Komentar

    Megabintang Al Nassr, Cristiano Ronaldo, menerima keputusan nekat timnya sebelum persiapan ke Indonesia. Kabar kedatangan Cristiano Ronaldo ke Indonesia diiringi dengan kontroversi Al Nassr. Cristiano Ronaldo dikabarkan akan tiba di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk kegiatan sosial. Ia diundang oleh Dr. Susi Marya Kapitana selaku pemimpin Yayasan Graha Kasih. Rencananya, mantan bintang Real Madrid […]

expand_less