Ketika Amanah Mangkrak Seperti Proyek Negara
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month Senin, 16 Mar 2026
- visibility 233
- print Cetak

Ilustrasi suasana senja yang menggambarkan kontras antara pembangunan, kekuasaan, dan realitas sosial—simbol refleksi tentang amanah, integritas, dan kepercayaan publik di tengah dinamika kehidupan bernegara.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dan republik tanpa kepercayaan adalah republik yang rapuh. Ia mungkin tampak kuat dari luar—gedung-gedung berdiri, statistik ekonomi tumbuh, proyek-proyek diresmikan dengan pita merah—tetapi di dalamnya ada rongga yang perlahan membesar dan menjangkiti jantung kita bernegara..
Jika di lacak lebih jeli, bangsa ini sebenarnya punya tradisi moral yang kuat. Dari budaya lokal sampai ajaran agama, konsep amanah selalu diajarkan sejak kecil. Orang tua mengingatkan anaknya untuk jujur, guru menekankan tanggung jawab, tokoh agama berbicara tentang integritas. Nilai itu ada di mana-mana—kecuali, sering kali, di tempat yang paling membutuhkan: ruang kekuasaan.
Juga setiap kali kita mendekati hari raya seperti Idul Fitri, suasana refleksi terasa berbeda. Idul Fitri selalu datang dengan pesan sederhana: kembali. Kembali bersih, kembali jujur, kembali pada nilai-nilai yang membuat manusia tetap manusia.
Bagi republik ini, pesan itu sebenarnya sangat relevan. Setelah setahun penuh kita sibuk dengan proyek pembangunan, debat politik, dan drama kekuasaan, Idul Fitri seperti mengingatkan satu hal yang sering terlupakan: bangsa ini tidak hanya membutuhkan jalan tol dan gedung tinggi pun kerja kerja birokratis semata namun Ia juga membutuhkan sesuatu yang jauh lebih substansial yaitu Amanah, baik personal apalagi kolektif.
Karena tanpa amanah, pembangunan apapun baik moral apalagi fisik hanya akan menjadi dekorasi. menjelang akhir puasa inilah saat yang cukup tepat untuk bertanya, dimulai bertanya pada diri sendiri bahwa di tengah semua kemegahan itu, apakah kita masih benar-benar menjaga amanah?
Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar