Di Balik Konflik PBNU, Ada Perbedaan Karakter dan Paradigma
- account_circle Djemi Radji
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 55
- print Cetak

Savic Ali saat menjadi narasumber dalam podcast GASPOL membahas dinamika konflik internal PBNU, perbedaan karakter kepemimpinan, hingga arah Muktamar NU mendatang.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Karakter kepemimpinan semacam itu, kata dia, berbeda dengan sebagian elite NU generasi sebelumnya yang lebih terbiasa dengan pola kepemimpinan sentralistik dan komunikasi yang intens.
Perbedaan cara memandang organisasi inilah yang perlahan memunculkan ketegangan.
“Perbedaan perspektif, cara pandang, dan karakter itu memang sudah terasa,” ujarnya.
Savic bahkan mengaku sejak awal sudah melihat adanya potensi konflik akibat perbedaan karakter tersebut.
Tambang Hanya Salah Satu Faktor
Polemik mengenai tambang NU memang menjadi salah satu isu yang paling ramai dibicarakan publik. Banyak pihak menilai konflik di tubuh PBNU dipicu perebutan kendali atas pengelolaan tambang yang belakangan menjadi perhatian pemerintah.
Namun Savic membantah anggapan itu.
Ia mengakui ada pihak-pihak yang ingin terlibat menjadi mitra dalam pengelolaan tambang NU. Tetapi menurutnya, persoalan tersebut bukan faktor utama yang menyebabkan konflik membesar.
“Sebagian besar keliru kalau menganggap sumbernya tambang,” katanya.
Savic menyebut pengelolaan tambang di internal PBNU justru hanya diketahui oleh segelintir orang tertentu. Karena itu, menurut dia, tidak semua pengurus memahami detail persoalan tambang yang ramai dibicarakan publik.
Di sisi lain, isu tambang akhirnya berkembang menjadi simbol dari perebutan pengaruh di sekitar elite organisasi.
NU dan Banyaknya Klaster Internal
Sebagai organisasi besar yang telah berdiri lebih dari satu abad, NU memiliki latar belakang kader yang sangat beragam. Ada kader yang berasal dari pesantren murni, akademisi kampus, aktivis PMII, Ansor, birokrat, hingga politisi.
Keragaman itu, menurut Savic, menciptakan banyak “klaster” di tubuh NU.
- Penulis: Djemi Radji
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar