Di Balik Konflik PBNU, Ada Perbedaan Karakter dan Paradigma
- account_circle Djemi Radji
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 52
- print Cetak

Savic Ali saat menjadi narasumber dalam podcast GASPOL membahas dinamika konflik internal PBNU, perbedaan karakter kepemimpinan, hingga arah Muktamar NU mendatang.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Ngurus PBNU itu bukan pekerjaan waktu luang,” katanya.
Meski konflik sempat memanas, Savic optimistis NU tidak akan runtuh hanya karena dinamika internal tersebut.
Menurutnya, organisasi yang telah berusia lebih dari 100 tahun itu sudah berkali-kali menghadapi konflik dan perbedaan pandangan sejak masa awal berdiri.
“NU sudah melewati banyak peristiwa dan konflik selama lebih dari 100 tahun,” ujarnya.
Namun di balik optimisme itu, ia mengakui ada kegelisahan yang dirasakan banyak kader. Sebab konflik internal yang kini terbuka ke publik berpotensi memengaruhi citra NU di mata masyarakat.
Apalagi di era media sosial, setiap dinamika organisasi dengan cepat berubah menjadi konsumsi publik dan memunculkan berbagai tafsir.
Bagi Savic, tantangan terbesar NU hari ini bukan hanya menyelesaikan konflik elite, tetapi menjaga agar organisasi tetap menjadi rumah besar umat di tengah tarik-menarik kepentingan politik, ekonomi, dan kekuasaan.
- Penulis: Djemi Radji
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar