Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Paradigma yang Berkembang: Menempatkan “Mahkota Ilmu” sebagai Proses Dialektis-Epistemologis

  • account_circle Donald Qomaidiasyah Tungkagi
  • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
  • visibility 778
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Saya kira, pertanyaan ini justru menunjukkan pemahaman yang terlalu simplistik terhadap integrasi epistemologis. Berkaca pada paradigma integrasi-interkoneksi misalnya, jembatan yang dimaksud disini bukanlah ruang di mana perbedaan dihilangkan, apalagi sampai semua hal harus “saling peluk dan jabat tangan.” Jembatan disini sebagai metafora adanya ruang dialog kritis di mana berbagai perspektif keilmuan saling berinteraksi, saling mengkritik, dan kemudian diharapkan dalam prosesnya menghasilkan pemahaman yang lebih utuh.

Tidak menutup kemungkinan bakal ada yang “bakuhantam” di tengah dialog, kalaupun terjadi, itu justru bukan masalah. Justru dari “pergulatan, pergumulan, bahkan pertempuran” intelektual semacam itulah ilmu pengetahuan jadi kian berkembang. Ini yang saya pahami dari paradigma Kuhn bahwa dengan perkembangan sains melalui anomali dan krisis, yang kemudian oleh Amin Abdullah disebut ketegangan produktif dalam paradigma integrasi-interkoneksi.

Kritik Tarmizi berlanjut dengan memberikan contoh fiqh lingkungan dan ekoteologi, lalu mengkritik bahwa organisasi keagamaan juga memegang konsesi tambang yang merusak lingkungan. Ia bertanya: “Di titik ini, bukankah yang terjadi adalah keselarasan semu?” Saya harus mengakui kalau kritik ini valid dalam tataran praktik. Sampai disitu. Kritik ini menjadi keliru ketika dijadikan sebagai landasaan argumentasi untuk menolak kemungkinan dialog teoretis dalam paradigma Mahkota Ilmu.

Adanya inkonsistensi praktik dengan teori, tidak lantas membatalkan sebuah paradigma integratif. Jika logika ini diikuti, berapa banyak paradigma atau konsep yang harus ditolak karena inkonsistensi dalam praktik? Haruskah kita menolak demokrasi karena banyak negara dengan sistem ini yang tidak demokratis? Banyaknya manusia berperilaku tidak etis, sebagai contoh Trump yang menangkap Presiden Venezuela, tidak berarti kita harus menghilangkan konsep etika.

  • Penulis: Donald Qomaidiasyah Tungkagi
  • Editor: Donald Qomaidiasyah Tungkagi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pegadaian Kantor Wilayah IX Perkuat Sinergi Bank Sampah Lewat Konsolidasi FORSEPSI 2025

    Pegadaian Kantor Wilayah IX Perkuat Sinergi Bank Sampah Lewat Konsolidasi FORSEPSI 2025

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 151
    • 0Komentar

    PT Pegadaian Kantor Wilayah IX Jakarta 2 bersama Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia (FORSEPSI) menggelar kegiatan Konsolidasi Offline Bank Sampah pada Kamis (7/8), sebagai langkah penguatan sinergi dan evaluasi program lingkungan berbasis komunitas. Kegiatan ini menjadi ajang konsolidasi dan koordinasi antar Bank Sampah binaan Pegadaian. Dihadiri oleh Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat, Drs. Arifin, […]

  • “Syariatisasi” Yang Tidak Seimbang

    “Syariatisasi” Yang Tidak Seimbang

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Abdullah Aniq Nawawi
    • visibility 397
    • 0Komentar

    Saya sangat bersyukur beberapa hari terkahir ini jagat maya cukup sesak dengan diskusi fikih terkait kurban presiden. Ini menarik bagi saya, karena daripada beranda medsos penuh dengan gosip murahan, lebih baik dipenuhi dengan adu argumen fikih. Salah satu yang cukup menarik perhatian publik adalah pertanyaan “apakah APBN bisa disamakan dengan Baitul Mal?” Hemat saya jawabannya […]

  • Akuntansi Langit

    Akuntansi Langit

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 324
    • 0Komentar

    Humor ala pesantren mengajarkan keseimbangan. Seorang kiai pernah berkata, “Kalau mau kaya, perbanyak sedekah. Itu logika langit.” Secara akuntansi dunia, ini tampak tidak rasional: aset berkurang kok disebut kaya? Tetapi dalam akuntansi langit, setiap pengurangan harta yang ikhlas justru meningkatkan ekuitas akhirat. Maka jangan heran jika neraca orang dermawan terlihat “rugi” di dunia tetapi surplus […]

  • Menjaga Marwah Ulama, Merawat Khitah NU: Menguji Nalar Hukum atas Laporan terhadap KH Musta’in Syafi’i

    Menjaga Marwah Ulama, Merawat Khitah NU: Menguji Nalar Hukum atas Laporan terhadap KH Musta’in Syafi’i

    • calendar_month Jumat, 28 Agt 2026
    • account_circle Faisal Husuna
    • visibility 164
    • 0Komentar

      Oleh Fathurrahman Marzuki, S.H.,M.H (Advokat/Alumni Pondok Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng Jombang Jawa Timur/Ketua Bidang Kerohanian dan Kerukunan Antar Ummat Beragama Dewan Pimpinan Cabang PERADI Makassar) NULONDALO.COM – Laporan yang dilayangkan oleh Gerakan Tabayun Advokasi dan Keadilan (GERTAK) ke Bareskrim Polri terhadap ulama dan akademisi pesantren Tebuireng, KH. Musta’in Syafi’i, terkait materi ceramah menjelang Muktamar […]

  • Ketika Guru PAI SD Tak Fasih Baca Al-Qur’an, Ke Mana Arah Pendidikan Agama?

    Ketika Guru PAI SD Tak Fasih Baca Al-Qur’an, Ke Mana Arah Pendidikan Agama?

    • calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
    • account_circle Turmuji Jafar
    • visibility 549
    • 0Komentar

    Oleh: Turmuji Jafar, Mahasiswa Pascasarjana UAC Mojokerto Mengawali tahun baru kita di suguhi dengan catatan merah oleh Kementerian Agama (Kemenang) dari hasil asesmen Pendidikan Agama Islam (PAI) akhir tahun 2025, menunjukkan data sebanyak 58,26 persen guru agama Islam tingkatan sekolah dasar (SD) di Indonesia belum fasih dalam membaca Al-Qur’an. Temuan ini berdasarkan asesmen terhadap 160.143 […]

  • BNPB Catat Sejumlah Bencana Hidrometeorologi di Berbagai Wilayah, Banjir hingga Angin Kencang Dominasi Kejadian

    BNPB Catat Sejumlah Bencana Hidrometeorologi di Berbagai Wilayah, Banjir hingga Angin Kencang Dominasi Kejadian

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 224
    • 0Komentar

    nulondalo.com , Jakarta — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Pusat Pengendalian Operasi melaporkan sejumlah kejadian bencana yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia dalam periode Kamis (5/2) hingga Jumat (6/2) pukul 07.00 WIB. Mayoritas peristiwa dipicu oleh cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, hujan lebat, serta angin kencang. Di Provinsi Jawa Timur, […]

expand_less