Paradigma yang Berkembang: Menempatkan “Mahkota Ilmu” sebagai Proses Dialektis-Epistemologis
- account_circle Donald Qomaidiasyah Tungkagi
- calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
- visibility 401
- print Cetak

Keterangan Gambar : Simbol "Makuta" berwarna hijau dari Dr. Andries Kango, yang diperkaya konseptualisasi dari penulis.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
IAIN dalam momentum transformasinya menjadi UIN Sultan Amai Gorontalo, tentunya memiliki kesempatan emas untuk merumuskan identitas keilmuannya sendiri. “Mahkota Ilmu” merupakan sebuah tawaran, berangkat dari kegelisahan intelektual, ditarik dari tradisi lokal, serta senantiasa terbuka pada dialog dengan perspektif global, dan yang berkomitmen pada nilai-nilai spiritual Islam. Selanjutnya, apakah tawaran ini akan diterima, dikembangkan, atau bahkan diganti dengan paradigma yang lebih baik, itu soal lain. Setiap tawaran untuk sebuah institusi akademik tentunya adalah keputusan kolektif yang perlu diambil melalui dialog yang matang dan mendalam.
Terpenting dan utama, proses pencarian paradigma keilmuan merupakan proses yang penting dan tidak boleh diabaikan. Bahkan seharusnya didahulukan dari penentuan logo dan lagu mars UIN itu sendiri. Bagaimanapun, tanpa paradigma yang jelas, transformasi menjadi UIN hanya akan menjadi perubahan nama dan struktur administratif, tanpa perubahan substansial dalam cara kita memahami dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Di titik ini, itu justru akan menjadi tragedi intelektual yang disayangkan. Semoga tidak demikian. Tabe!
Penulis : Dosen Prodi Sosiologi Agama IAIN Sultan Amai Gorontalo
DUKUNG TIM NULONDALO DENGAN DONASI SEIKHLASNYA
- Penulis: Donald Qomaidiasyah Tungkagi
- Editor: Donald Qomaidiasyah Tungkagi

Saat ini belum ada komentar