Paradigma yang Berkembang: Menempatkan “Mahkota Ilmu” sebagai Proses Dialektis-Epistemologis
- account_circle Donald Qomaidiasyah Tungkagi
- calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
- visibility 397
- print Cetak

Keterangan Gambar : Simbol "Makuta" berwarna hijau dari Dr. Andries Kango, yang diperkaya konseptualisasi dari penulis.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Bagi saya, meski tetap bisa diperdebatkan, kedua warisan tersebut justru menunjukkan bahwa masyarakat Gorontalo telah mengenal konsep integrasi antara berbagai dimensi kehidupan: yang sakral dan yang profan, yang transenden dan yang imanen, yang normatif dan yang empiris. Artikulasi ini yang kemudian diejawantah dalam kerangka epistemologis yang lebih sistematis dengan menggunakan terminologi teo-antropo-kosmosentris. Saya uraikan kembali sebagai berikut:
Pilar pertama, dimensi teosentris, merepresentasikan orientasi epistemologis yang berpusat pada Tuhan dan wahyu. Ini adalah dimensi yang dalam ABSSBQ direpresentasikan oleh Al-Qur’an (Qur’ani), sumber tertinggi pengetahuan dan nilai. Namun lebih dari itu, dimensi teosentris juga mencakup cara pandang yang menempatkan Tuhan sebagai sumber dan tujuan akhir dari seluruh pengetahuan manusia. Pilar kedua, dimensi kosmosentris, merepresentasikan orientasi epistemologis yang berpusat pada alam semesta dan fenomena empiris. Dalam tradisi ABSSBK, ini direpresentasikan oleh syara’, yang meskipun berbasis pada wahyu, dalam praktiknya selalu responsif terhadap realitas empiris dan konteks sosial-budaya. Saya memahami bahwa ada perdebatan tentang apakah syara’ bisa merepresentasikan kosmosentrisme, mengingat basis keduanya berbeda. Namun yang saya maksudkan di sini adalah bahwa syara’, khususnya dalam tradisi fiqh, selalu mempertimbangkan maqashid (tujuan), maslahah (kemaslahatan), dan konteks sosio-kultural, yang berarti ia tidak bisa dilepaskan dari pembacaan terhadap realitas kosmis dan empiris. Pilar ketiga, dimensi antroposentris, merepresentasikan orientasi epistemologis yang berpusat pada manusia, budaya, dan masyarakat. Dalam tradisi ABSSBK, ini direpresentasikan oleh adat, nilai-nilai, norma, dan praktik yang hidup dalam masyarakat.
- Penulis: Donald Qomaidiasyah Tungkagi
- Editor: Donald Qomaidiasyah Tungkagi

Saat ini belum ada komentar