Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Paradigma yang Berkembang: Menempatkan “Mahkota Ilmu” sebagai Proses Dialektis-Epistemologis

  • account_circle Donald Qomaidiasyah Tungkagi
  • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
  • visibility 925
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tulisan ini menghindari respon konfrontatif, yang ada justru lebih condong mengklarifikasi posisi saya yang secara sadar tidak menempatkan tawaran paradigma “Mahkota Ilmu” sebagai produk final yang harus dipertahankan mati-matian. Untuk itu, saya merasa perlu terlebih dahulu menjelaskan kembali posisi “makuta” dalam paradigma “Mahkota Ilmu”.

Paradigma Sebagai Proses: Dari Makuta ke Mahkota Ilmu

Pada tulisan kedua, saya sudah mulai menggunakan “Mahkota Ilmu” sebagai pengganti “makuta ilmu”, peralihan kata dari bahasa lokal menjadi nasional, belum lama sejak kelahirannya merupakan bukti konsep ini terbuka dalam perubahan. Perjalanan perumusan paradigma ini dimulai dari ketertarikan pada desain logo yang menggunakan simbol “makuta” (silahkan baca tulisan awal). Ketertarikan ini bukan pada aspek visual, melainkan pada potensi filosofis yang ada dalam kata “makuta atau dalam bahasa Indonesia mahkota”. Bagi saya mahkota bukan sekadar hiasan kepala, melainkan representasi dari nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Mahkota dalam konteks ini sebagai metafora kerangka epistemologis paradigma UIN Gorontalo.

Term “Mahkota Ilmu” sebagai representasi dari posisi ilmu pengetahuan dalam peradaban: “ilmu harus dijunjung tinggi, ditempatkan di puncak kepala sebagaimana mahkota yang melambangkan kehormatan dan tanggung jawab”. Metafora Makuta, sebagai upaya untuk menerjemahkan nilai luhur ini dalam bahasa simbolis yang berakar pada budaya lokal Gorontalo.

Makuta dalam konteks saat ini—bukan historis: “paluwala dari kerangka daun dan ranting—secara visual (maupun simbolis) tampak memiliki tiga pilar. Tiga pilar ini yang kemudian dijadikan sebagai representasi dari tiga dimensi epistemologis yang diintegrasikan dalam paradigma keilmuan UIN. Ini juga perlu ditegaskan dengan jelas bahwa tiga pilar ini adalah simbolisasi, tidak bisa serta merta dianggap sebagai identifikasi yang kaku dan satu-satu. Sederhananya, pilar-pilar dalam makuta menjadi representasi visual untuk mengakomodasi tiga dimensi pengetahuan yang berasal dari dua warisan penting dalam tradisi masyarakat Gorontalo. Pertama adalah falsafah Adati hula-hula to sara’a, sara’a hula-hula to Qur’ani—selanjutnya ABSSBQ, yang menunjukkan adanya tiga dimensi yang saling terkait: adat, syariat, dan Al-Qur’an. Tarmizi boleh saja skeptis tentang keberadaan falsafah ini, tapi bagi saya kekurangan referensi tertulis tidak serta merta menafikan keberadaan tahuda (falsafah adat) yang telah dikenal hingga mengakar dalam kebudayaan masyarakat Gorontalo saat ini. Kedua adalah struktur pemerintahan tradisional yang dikenal sebagai Buatulo Toulongo, yaitu tiga pilar pemerintahan: Syara’a (ulama), Bubato (pemerintah), dan Bate (pemuka adat) sebelumnya ditempati Bala (keamanan).

  • Penulis: Donald Qomaidiasyah Tungkagi
  • Editor: Donald Qomaidiasyah Tungkagi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Longsor di Morowali Jadi Alarm Nasional, DPR Minta Pengawasan Lingkungan Diperketat

    Longsor di Morowali Jadi Alarm Nasional, DPR Minta Pengawasan Lingkungan Diperketat

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 358
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Peristiwa banjir dan tanah longsor di kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dinilai sebagai alarm nasional atas lemahnya tata kelola lingkungan di kawasan industri tambang. Anggota Komisi IV DPR RI, Robert J. Kardinal, meminta pemerintah segera melakukan pembenahan dan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan lingkungan, khususnya di wilayah […]

  • Pemuda Kaltim Bersuara: Sudah Cukup, Tuntut Keadilan Lingkungan 

    Pemuda Kaltim Bersuara: Sudah Cukup, Tuntut Keadilan Lingkungan 

    • calendar_month Rabu, 28 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 169
    • 0Komentar

    “Sudah cukup” Seruan itu menggema dari hati rakyat Kalimantan Timur sebagai bentuk kekecewaan sekaligus kepedulian mendalam terhadap kerusakan lingkungan yang terus berlangsung tanpa henti. Masyarakat menyerukan keadilan ekologis dan menolak eksploitasi yang menggerus alam serta merusak kehidupan mereka. Hal ini disampaikan oleh Usamah Ahmad Syahid, Wasekjend DPP GENINUSA (Gerakan Santriprenuer Nusantara), yang menyuarakan keresahan warga […]

  • Kepala Daerah Dipilih DPRD, Pemerintah Nilai Perkuat Stabilitas Pemerintahan Daerah

    Kepala Daerah Dipilih DPRD, Pemerintah Nilai Perkuat Stabilitas Pemerintahan Daerah

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 342
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Mekanisme pemilihan kepala daerah oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kembali menjadi sorotan. Pemerintah menilai skema tersebut dapat memperkuat stabilitas pemerintahan daerah serta menciptakan hubungan yang lebih harmonis antara eksekutif dan legislatif. Melalui mekanisme ini, gubernur, bupati, dan wali kota tidak dipilih langsung oleh rakyat, melainkan melalui proses pemilihan di DPRD. Pemerintah berpendapat, […]

  • ‎PMII Soroti Kebijakan Pemerintah Pangandaran Terkait Roadmap Kesehatan Fiskal

    ‎PMII Soroti Kebijakan Pemerintah Pangandaran Terkait Roadmap Kesehatan Fiskal

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 162
    • 0Komentar

    Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Pangandaran menyoroti pemerintah daerah terkait roadmap kesehatan fiskal yang dinilai belum jelas dan transparan. Pasalnya, penurunan utang daerah sebesar Rp 134 miliar dalam waktu singkat menimbulkan pertanyaan tentang logika fiskal dan kemungkinan adanya sihir anggaran atau akrobat keuangan. Selasa, 8 Juli 2025. ‎Ridwan Fauzi, salah satu aktivis […]

  • Natal, Toleransi, dan Warisan Gus Dur 

    Natal, Toleransi, dan Warisan Gus Dur 

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 362
    • 0Komentar

    Perayaan Natal bagi umat Kristiani dan Katolik di Indonesia yang jatuh pada 25 Desember 2025 merupakan momentum sarat nilai spiritual. Ia bukan sekadar peringatan kelahiran Yesus Kristus, melainkan ruang refleksi tentang kasih, perdamaian, dan kemanusiaan. Namun, Natal juga hadir dalam lanskap sosial Indonesia yang lebih luas–sebuah negeri yang tidak pernah kekurangan perayaan. Dari harlah organisasi, […]

  • Ritual Mappeca Sure (Bubur Asyura); Tak Sekedar Memperingati Tragedi

    Ritual Mappeca Sure (Bubur Asyura); Tak Sekedar Memperingati Tragedi

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 212
    • 0Komentar

    Fajar baru saja menyingsing di langit Karbala. Angin padang gurun mengalir pelan, membelai tenda-tenda yang berdiri di bawah langit merah muda. Seorang lelaki berusia 58 tahun baru saja menyelesaikan salat Subuh. Ia berdiri hening dalam doa, menatap ke luar tenda, ke seberang padang tempat pasukan besar telah mengepungnya. Empat ribu orang, bersenjata, berbanjar. Sementara di […]

expand_less