Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Paradigma yang Berkembang: Menempatkan “Mahkota Ilmu” sebagai Proses Dialektis-Epistemologis

  • account_circle Donald Qomaidiasyah Tungkagi
  • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
  • visibility 928
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ketiga dimensi ini bukan entitas yang terpisah dan berdiri sendiri. Mereka saling terkait, saling mempengaruhi, dan dalam praktiknya seringkali tumpang tindih. Simbolisasi melalui tiga pilar makuta justru ingin menunjukkan bahwa meskipun berbeda, ketiganya menyatu dalam satu struktur yang kokoh, seperti mahkota yang indah justru karena harmoni dari berbagai elemennya.

Jika dikembangkan lebih jauh, konsep tiga pilar ini juga memiliki kesesuaian secara tidak langsung dengan kerangka epistemologis “Ilmu Sosial Profetik” yang dikembangkan Kuntowijoyo (2006). Kerangka ini terdiri dari trilogi profetik: humanisasi, liberasi dan transendensi. Humanisasi bertujuan untuk membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan, dan segala bentuk dehumanisasi (keterasingan, penindasan, materialisme). Liberasi fokus pada membebaskan dari struktur sosial yang menindas, baik politik, ekonomi, budaya, maupun ilmu pengetahuan itu sendiri. Transendensi  berfokus pada mengarahkan segala perubahan tidak hanya pada tujuan duniawi, tetapi juga untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Memberikan basis moral-transendental pada humanisasi dan liberasi, sekaligus mengingatkan bahwa manusia memiliki dimensi spiritual.

Pembuktian yang Keliru Dipahami

Bagi Tarmizi, saya telah gagal membuktikan akar historis makuta dalam tradisi intelektual Gorontalo. Sembari mempertanyakan: “Pertanyaan penting yang saya ingin ajukan lagi: memang, di mana akarnya? Itu yang harusnya ia jawab.” Di sinilah terjadi kesalahpahaman mendasar tentang pembuktian (burden of proof) dalam konteks konstruksi paradigma epistemologi.

Pertama, saya perlu menjelaskan konteksnya, ketika saya mengatakan: “makuta adalah cerminan dari nilai-nilai luhur yang telah mengakar dalam tradisi intelektual masyarakat Gorontalo”, yang dimaksud adalah makuta sebagai bagian dari tradisi Gorontalo yang bertahan dan kita nikmati saat ini. Kata “intelektual” dalam pernyataan itu yang mungkin menimbulkan salah persepsi. Meski begitu, makuta yang ada dalam konteks saat ini tentunya tidak lepas juga dari hasil pergulatan historis. Untuk ini, pada tulisan sebelumnya saya telah menegaskan: “…tidak bisa dinafikan juga “makuta” kini dengan segala adaptasinya justru telah menjadi bagian dari budaya Gorontalo”. Keberadaan makuta yang memiliki tiga bagian sebagaimana yang tampak saat inilah yang dijadikan sebagai simbolisasi “Mahkota Ilmu”.

Maka, “makuta” dalam paradigma “Mahkota Ilmu” disini harus dipahami bukan sebagai representasi autentik yang steril dan esensialis, melainkan sebagai produk dialektika historis yang terus berkembang. Artinya, makuta dengan sejarahnya yang begitu kompleks, sebagaimana telah diurai dalam tulisan sebelumnya dari paluwala hingga bentuknya yang sekarang, justru mencerminkan perjalanan dialektis historis masyarakat Gorontalo itu sendiri. Ini mungkin diantara perbedaan pendekatan saya dengan esensialisme kultural yang jadi objek kritik Tarmizi.

  • Penulis: Donald Qomaidiasyah Tungkagi
  • Editor: Donald Qomaidiasyah Tungkagi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bank Sampah hingga Ketahanan Pangan: Langkah Nyata Ecopesantren di Pesantren Mahasiswa Burhan Al-Hadharah photo_camera 2

    Bank Sampah hingga Ketahanan Pangan: Langkah Nyata Ecopesantren di Pesantren Mahasiswa Burhan Al-Hadharah

    • calendar_month Selasa, 9 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 1.903
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Suasana Pondok Pesantren Mahasiswa Burhan Al-Hadharah tampak berbeda pada Senin (8/12/2025) sore itu. Bukan hanya lantunan kajian kitab yang terdengar, tetapi juga dialog hangat tentang sampah, ketahanan pangan, dan masa depan bumi. Para santri, mahasiswa, hingga perwakilan komunitas duduk bersama menyimak penjelasan tentang bagaimana pesantren dapat menjadi kekuatan besar dalam gerakan pelestarian lingkungan. […]

  • Menyambut Tahun Baru Masehi dengan Dzikir Sunyi, Pesan KH. Abdul Ghofur Nawawi Sebelum Wafat Play Button

    Menyambut Tahun Baru Masehi dengan Dzikir Sunyi, Pesan KH. Abdul Ghofur Nawawi Sebelum Wafat

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 373
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pergantian tahun Masehi kerap identik dengan hiruk-pikuk perayaan, kembang api, dan berbagai euforia yang melibatkan keramaian. Namun, dalam sebuah pengajian penuh makna, almaghfurlah KH. Abdul Ghofur Nawawi justru mengajak jamaah untuk menyambut pergantian tahun dengan cara yang berbeda: dzikir sederhana, sunyi, dan penuh kesadaran spiritual. Kiai Ghofur mengisahkan bahwa amalan ini merupakan ijazah […]

  • Gusnar dan Dubes Australia Tanam Jagung Metode SALT

    Gusnar dan Dubes Australia Tanam Jagung Metode SALT

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail bersama Duta Besar Australia Mr. Rod Brazier melakukan penanaman jagung untuk program Direct Aid Project (DAP) di Desa Iloponu, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Rabu (22/10/2025). Penanaman jagung dilaksanakan di kebun percontohan penerapan metode Sloping Agricultural Land Technique (SALT) atau teknik pertanian di lahan miring. Program DAP adalah hibah dari pemerintah Australia […]

  • LAUTRA Tingkatkan Konservasi Laut dan Kesejahteraan Masyarakat

    LAUTRA Tingkatkan Konservasi Laut dan Kesejahteraan Masyarakat

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 168
    • 0Komentar

    KBRN, Gorontalo –  Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar menyelenggarakan Rapat Koordinasi pelaksanaan program di wilayah kerja Kawasan Konservasi Perairan Provinsi Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai 1 hingga 3 Juli 2025, di Kantor BPSPL Makassar, Sulawesi Selatan. BPSPL merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) […]

  • Ukasyah bin Mihshan: Sahabat Yang Menuntut Balas Kepada Nabi (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #15)

    Ukasyah bin Mihshan: Sahabat Yang Menuntut Balas Kepada Nabi (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #15)

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 356
    • 0Komentar

    Nabi tidak menolak. Beliau memberikan izin agar Ukasyah menegakkan qishash. Sahabat lain, yang hadir saat itu seperti Abu Bakar, Umar, dan Ali, bahkan menawarkan diri agar mereka yang dicambuk. Hasan dan Husain pun menawarkan tubuh mereka untuk menggantikan Nabi. Namun Ukasyah menolak dan tetap ingin menegakkan qishash kepada Nabi. Ketika Ukasyah bersiap untuk melakukan qishash, […]

  • Kebakaran Hebat di Jalan Parwasal, Siantan Utara, Pontianak: Beberapa Rumah Terbakar, Pemadam Dikerahkan

    Kebakaran Hebat di Jalan Parwasal, Siantan Utara, Pontianak: Beberapa Rumah Terbakar, Pemadam Dikerahkan

    • calendar_month Kamis, 26 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 452
    • 0Komentar

    Kepolisian Pontianak dan Dinas Pemadam Kebakaran berjanji akan memberikan informasi lebih lanjut setelah investigasi selesai. Warga di sekitar Jalan Parwasal dan Siantan Utara diminta tetap waspada dan memeriksa kondisi rumah masing-masing, terutama sumber listrik dan gas. Siapkan langkah evakuasi bila diperlukan, dan ikuti arahan petugas pemadam kebakaran. Kebakaran ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan di kawasan […]

expand_less