Apa yang Tersisa dari Ied Al-Fitr untuk Kita Perjuangkan?
- account_circle Tarmizi Abbas
- calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
- visibility 190
- print Cetak

Ilustrasi/pixabay
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
1 Syawal Hijriyah/31 Maret 2025 Masehi menjadi penanda berpisahnya kita dengan Ramadan dan menyambut hari baru. Hari ini kita berlebaran. Kumandang takbir yang agung bersahut-sahutan. Ada perasaan haru kembali ke fitr (suci); namun pada saat yang, ada perasaan tidak kuat menahan kepergian Ramadan yang berlalu begitu cepat. Sebab Ramadan, bagaimana pun juga, adalah bulan yang agung. Farid Essack, seorang sarjana kenamaan Afrika Selatan, di dalam On Being Muslim (2002), menggambarkan Ramadan dengan metafora “ketika kapal-kapal aman bersandar di dermaga setelah berlayar 11 bulan lamanya di lautan lepas”.
Kapal-kapal itu bagaikan diri kita yang, sepulangnya dari pelayaran panjang, mengalami lubang di banyak bagian. Lubang itu kita peroleh karena bersinggungan dengan hal-hal duniawi. Kita berbuat salah dan dosa sepanjang tahun dan di bulan Ramadan, kita semua memohon ampun dan memperbanyak ibadah. Dosa-dosa itu ibarat lubang, bulan Ramadan adalah dermaga, dan ibadah serta pertobatan kepada Tuhan sepanjang Ramadan adalah cara untuk menambal lubang-lubang itu. Itu sebabnya Ramadan adalah jalan pulang.
- Penulis: Tarmizi Abbas

Saat ini belum ada komentar