Hari Buruh, Akademisi Prekariat, dan Kampus yang Diam-Diam Menjadi Pabrik
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month 21 jam yang lalu
- visibility 93
- print Cetak

Muhammad Kamal, alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di kampus, situasi tersebut hadir dengan bentuk yang khas. Seorang dosen muda bisa diminta mengajar beberapa kelas, menyiapkan materi kuliah, membimbing mahasiswa, mengoreksi tugas, mengurus administrasi, menghadiri rapat, menulis artikel ilmiah, mengejar publikasi, ikut kegiatan promosi kampus, bahkan terlibat dalam akreditasi. Semua dilakukan dengan tuntutan profesionalisme penuh. Namun ketika bicara pendapatan, jawabannya sering jauh dari memadai. Honor per kelas kecil, pembayaran terlambat, tunjangan minim, dan status kerja diperpanjang tahun demi tahun tanpa kepastian.
Yang lebih rumit, kerentanan ini kerap diselimuti simbol kehormatan. Menjadi dosen dianggap profesi mulia. Menjadi peneliti dipandang bergengsi. Bekerja di kampus dianggap membanggakan. Simbol-simbol ini sering membuat penderitaan ekonomi tidak terlihat. Orang melihat gelar, bukan slip gaji. Orang melihat jabatan akademik, bukan kecemasan bulanan. Orang melihat panggung seminar, bukan utang yang diam-diam harus dibayar.
Analisis teori Pierre Bourdieu membantu membaca persoalan secara lebih tajam. Bourdieu menjelaskan bahwa dalam kehidupan sosial, manusia tidak hanya memperebutkan uang, tetapi juga berbagai bentuk modal lain: modal budaya, modal sosial, dan modal simbolik. Kampus adalah arena tempat modal simbolik bekerja sangat kuat. Gelar, reputasi ilmiah, jabatan akademik, kemampuan berbicara di forum, dan kedekatan dengan jejaring intelektual memiliki nilai tinggi.
Masalah muncul ketika modal simbolik dipakai untuk menutupi kekurangan modal ekonomi. Seorang akademisi diberi kehormatan, tetapi tidak diberi kepastian hidup. Ia dipuji sebagai intelektual, tetapi penghasilannya pas-pasan. Ia diminta menjaga martabat profesi, tetapi sulit membayar kebutuhan dasar. Dalam bahasa Bourdieu, ini bisa dibaca sebagai kekerasan simbolik: ketimpangan yang diterima sebagai hal wajar karena dibungkus nilai-nilai yang dianggap mulia.
Maka lahirlah kalimat-kalimat yang terdengar akrab: “Nikmati dulu prosesnya”, “Kalau di dunia akademik jangan hitung-hitungan materi”, “Pengabdian memang butuh pengorbanan”, atau “Nanti juga ada waktunya mapan”. Kalimat seperti ini tampak biasa, tetapi sering berfungsi menormalisasi ketimpangan. Ia membuat pekerja menerima situasi yang semestinya dipersoalkan.
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar