Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Hari Buruh, Akademisi Prekariat, dan Kampus yang Diam-Diam Menjadi Pabrik

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
  • visibility 298
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di kampus, situasi tersebut hadir dengan bentuk yang khas. Seorang dosen muda bisa diminta mengajar beberapa kelas, menyiapkan materi kuliah, membimbing mahasiswa, mengoreksi tugas, mengurus administrasi, menghadiri rapat, menulis artikel ilmiah, mengejar publikasi, ikut kegiatan promosi kampus, bahkan terlibat dalam akreditasi. Semua dilakukan dengan tuntutan profesionalisme penuh. Namun ketika bicara pendapatan, jawabannya sering jauh dari memadai. Honor per kelas kecil, pembayaran terlambat, tunjangan minim, dan status kerja diperpanjang tahun demi tahun tanpa kepastian.

Yang lebih rumit, kerentanan ini kerap diselimuti simbol kehormatan. Menjadi dosen dianggap profesi mulia. Menjadi peneliti dipandang bergengsi. Bekerja di kampus dianggap membanggakan. Simbol-simbol ini sering membuat penderitaan ekonomi tidak terlihat. Orang melihat gelar, bukan slip gaji. Orang melihat jabatan akademik, bukan kecemasan bulanan. Orang melihat panggung seminar, bukan utang yang diam-diam harus dibayar.

Analisis teori Pierre Bourdieu membantu membaca persoalan secara lebih tajam. Bourdieu menjelaskan bahwa dalam kehidupan sosial, manusia tidak hanya memperebutkan uang, tetapi juga berbagai bentuk modal lain: modal budaya, modal sosial, dan modal simbolik. Kampus adalah arena tempat modal simbolik bekerja sangat kuat. Gelar, reputasi ilmiah, jabatan akademik, kemampuan berbicara di forum, dan kedekatan dengan jejaring intelektual memiliki nilai tinggi.

Masalah muncul ketika modal simbolik dipakai untuk menutupi kekurangan modal ekonomi. Seorang akademisi diberi kehormatan, tetapi tidak diberi kepastian hidup. Ia dipuji sebagai intelektual, tetapi penghasilannya pas-pasan. Ia diminta menjaga martabat profesi, tetapi sulit membayar kebutuhan dasar. Dalam bahasa Bourdieu, ini bisa dibaca sebagai kekerasan simbolik: ketimpangan yang diterima sebagai hal wajar karena dibungkus nilai-nilai yang dianggap mulia.

Maka lahirlah kalimat-kalimat yang terdengar akrab: “Nikmati dulu prosesnya”, “Kalau di dunia akademik jangan hitung-hitungan materi”, “Pengabdian memang butuh pengorbanan”, atau “Nanti juga ada waktunya mapan”. Kalimat seperti ini tampak biasa, tetapi sering berfungsi menormalisasi ketimpangan. Ia membuat pekerja menerima situasi yang semestinya dipersoalkan.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Reaktivasi 11 Juta Peserta PBI Tersendat, DPR Soroti Kinerja Pemerintah

    Reaktivasi 11 Juta Peserta PBI Tersendat, DPR Soroti Kinerja Pemerintah

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 264
    • 0Komentar

    Ia menilai, pernyataan bahwa pasien dalam kondisi darurat tetap dapat dilayani belum sepenuhnya berjalan, karena masih ditemukan rumah sakit yang menolak peserta dengan status kepesertaan nonaktif. “Di lapangan, rumah sakit tidak melayani peserta nonaktif. Ini menunjukkan kebijakan belum berjalan efektif. Pertanyaannya, siapa yang melakukan pengawasan,” tegasnya. Selain itu, Irma mengkritisi masa transisi perbaikan data kepesertaan […]

  • Jejak Abadi John Tobing Lewat Lagu Dara Juang

    Jejak Abadi John Tobing Lewat Lagu Dara Juang

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 617
    • 0Komentar

    Nulondalo.com- Di sebuah malam yang bising di kota Yogyakarta, kabar duka menyebar cepat, Johnsony Maharsak Lumban Tobing atau yang akrab disapa John Tobing, dikabarkan telah berpulang pada Rabu, 25 Februari 2026, pukul 20.45 WIB, di Rumah Sakit Akademik UGM. Kabar kepergiannya dikonfirmasi oleh sahabat sekaligus Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni UGM, Arie […]

  • Pemkab Gorontalo Dorong Penelusuran Naskah Kuno untuk Selamatkan Warisan Sejarah

    Pemkab Gorontalo Dorong Penelusuran Naskah Kuno untuk Selamatkan Warisan Sejarah

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 291
    • 0Komentar

    Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Gorontalo, Doni Lahatie, mengatakan penelusuran ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta mendokumentasikan kembali warisan budaya yang tersebar di masyarakat. “Upaya ini penting agar identitas sejarah Gorontalo tetap terjaga dan tidak hilang,” kata Doni. Pemerintah daerah juga mendorong partisipasi aktif masyarakat untuk menyerahkan atau mendata naskah kuno yang dimiliki agar dapat […]

  • Budaya Konsumtif dan Pemanasan Global: Tanpa Sadar Kita Sedang Merusak Bumi

    Budaya Konsumtif dan Pemanasan Global: Tanpa Sadar Kita Sedang Merusak Bumi

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle  Fadli Bina
    • visibility 229
    • 0Komentar

    Mengonsumsi bukan lagi soal pemenuhan kebutuhan melainkan hanya soal hasrat agar tetap eksis. Dewasa ini mengonsumsi sepertinya merupakan hal yang mesti dilakukan agar kita dianggap tetap ada. Karena dalam budaya konsumtif nilai seseorang tidak diukur lagi dari kualitas pengetahuannya melainkan dari apa yang ia konsumsi. Hal ini juga terjadi dalam mengkonsumsi makananan. Meski kita tidak […]

  • MBG Strategi Besar Pemerintah Membangun SDM Sejak Dini

    MBG Strategi Besar Pemerintah Membangun SDM Sejak Dini

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Pemerintah pusat dan pemerintah daerah di Gorontalo kembali mempererat sinergi untuk menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini terlihat dalam rapat koordinasi yang digelar di Ruang Dulohupa, Kantor Gubernur Gorontalo, Rabu (2/7/2025). Program MBG merupakan salah satu program prioritas nasional yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto, dalam rangka membangun generasi sehat dan unggul menuju […]

  • PKC PMII Gorontalo Bersama PWNU dan PMI Gelar Donor Darah Jelang HUT RI ke-80

    PKC PMII Gorontalo Bersama PWNU dan PMI Gelar Donor Darah Jelang HUT RI ke-80

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 127
    • 0Komentar

    Menyambut peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Gorontalo bersama Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Gorontalo menggelar aksi donor darah di Kantor PWNU Gorontalo, Sabtu (16/8/2025). Ketua PKC PMII Gorontalo, Windy Olivia Dawa, menegaskan kegiatan ini bukan sekadar […]

expand_less