Breaking News
light_mode
Trending Tags

Hari Buruh, Akademisi Prekariat, dan Kampus yang Diam-Diam Menjadi Pabrik

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
  • visibility 183
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di kampus, situasi tersebut hadir dengan bentuk yang khas. Seorang dosen muda bisa diminta mengajar beberapa kelas, menyiapkan materi kuliah, membimbing mahasiswa, mengoreksi tugas, mengurus administrasi, menghadiri rapat, menulis artikel ilmiah, mengejar publikasi, ikut kegiatan promosi kampus, bahkan terlibat dalam akreditasi. Semua dilakukan dengan tuntutan profesionalisme penuh. Namun ketika bicara pendapatan, jawabannya sering jauh dari memadai. Honor per kelas kecil, pembayaran terlambat, tunjangan minim, dan status kerja diperpanjang tahun demi tahun tanpa kepastian.

Yang lebih rumit, kerentanan ini kerap diselimuti simbol kehormatan. Menjadi dosen dianggap profesi mulia. Menjadi peneliti dipandang bergengsi. Bekerja di kampus dianggap membanggakan. Simbol-simbol ini sering membuat penderitaan ekonomi tidak terlihat. Orang melihat gelar, bukan slip gaji. Orang melihat jabatan akademik, bukan kecemasan bulanan. Orang melihat panggung seminar, bukan utang yang diam-diam harus dibayar.

Analisis teori Pierre Bourdieu membantu membaca persoalan secara lebih tajam. Bourdieu menjelaskan bahwa dalam kehidupan sosial, manusia tidak hanya memperebutkan uang, tetapi juga berbagai bentuk modal lain: modal budaya, modal sosial, dan modal simbolik. Kampus adalah arena tempat modal simbolik bekerja sangat kuat. Gelar, reputasi ilmiah, jabatan akademik, kemampuan berbicara di forum, dan kedekatan dengan jejaring intelektual memiliki nilai tinggi.

Masalah muncul ketika modal simbolik dipakai untuk menutupi kekurangan modal ekonomi. Seorang akademisi diberi kehormatan, tetapi tidak diberi kepastian hidup. Ia dipuji sebagai intelektual, tetapi penghasilannya pas-pasan. Ia diminta menjaga martabat profesi, tetapi sulit membayar kebutuhan dasar. Dalam bahasa Bourdieu, ini bisa dibaca sebagai kekerasan simbolik: ketimpangan yang diterima sebagai hal wajar karena dibungkus nilai-nilai yang dianggap mulia.

Maka lahirlah kalimat-kalimat yang terdengar akrab: “Nikmati dulu prosesnya”, “Kalau di dunia akademik jangan hitung-hitungan materi”, “Pengabdian memang butuh pengorbanan”, atau “Nanti juga ada waktunya mapan”. Kalimat seperti ini tampak biasa, tetapi sering berfungsi menormalisasi ketimpangan. Ia membuat pekerja menerima situasi yang semestinya dipersoalkan.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kronologi Pembunuhan Pensiunan JICT Ermanto Usman di Bekasi, Pelaku Sudah Ditangkap Polisi

    Kronologi Pembunuhan Pensiunan JICT Ermanto Usman di Bekasi, Pelaku Sudah Ditangkap Polisi

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 193
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kasus pembunuhan terhadap Ermanto Usman (65) di kawasan Jatibening, Kota Bekasi, mulai menemukan titik terang. Tim Jatanras dari Polda Metro Jaya telah menangkap pelaku pembunuhan yang menewaskan pensiunan karyawan Jakarta International Container Terminal tersebut. Meski demikian, pihak kepolisian hingga kini masih menutup identitas serta jumlah pelaku yang terlibat dalam kasus tersebut. Ditemukan Tewas […]

  • Bappeda Provinsi Gorontalo Gelar FGD Bahas Tata Kelola Pengelolaan Sampah Terpadu di TPA Talumelito

    Bappeda Provinsi Gorontalo Gelar FGD Bahas Tata Kelola Pengelolaan Sampah Terpadu di TPA Talumelito

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 120
    • 0Komentar

    Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Kajian Implementasi Kebijakan dan Tata Kelola Pengelolaan Sampah di TPA Talumelito dengan Sistem Terintegrasi dan Berkelanjutan di Provinsi Gorontalo”, yang berlangsung di TPS3R Proklim Bulla, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo, Selasa (4/11/2025). Kegiatan ini menghadirkan ketua tim riset , Prof. Dr.Sukirman Rahim, S.Pd, […]

  • Relasi Sunni dan Syiah Dibedah: Diskusi Buku M. Quraish Shihab Hadirkan Perspektif Baru

    Relasi Sunni dan Syiah Dibedah: Diskusi Buku M. Quraish Shihab Hadirkan Perspektif Baru

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 313
    • 0Komentar

    “Situasi geopolitik di Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran, sering memunculkan kembali narasi lama tentang pertentangan Sunni dan Syiah. Padahal persoalan tersebut tidak sesederhana konflik mazhab,” jelas Abdul Qadir. Pengamat Timur Tengah Wahab Nasaru memaparkan bahwa konflik di kawasan tersebut tidak semata-mata bisa dipahami sebagai pertentangan sektarian Sunni–Syiah. Ia menekankan […]

  • Jamaah sebagai Akar, Jamiyah sebagai Mesin: Teori Kekuasaan Versi NU

    Jamaah sebagai Akar, Jamiyah sebagai Mesin: Teori Kekuasaan Versi NU

    • calendar_month Senin, 22 Des 2025
    • account_circle Pepy al-Bayqunie
    • visibility 200
    • 0Komentar

    NU tidak membangun kekuasaan dengan cara merebut pusat. Ia tidak lahir dari istana, parlemen, atau kantor administrasi. NU lahir dari pinggir—dari desa, dari surau kecil, dari pesantren kampung yang jauh dari kota, dari obrolan yang tidak pernah berniat menjadi wacana besar. Karena itu, teori kekuasaan NU sejak awal berlawanan dengan logika kekuasaan modern yang bertumpu […]

  • Benarkah Orang Gorontalo sebegitu Bencinya terhadap Yahudi? Tanggapan untuk tulisan Funco Tanipu

    Benarkah Orang Gorontalo sebegitu Bencinya terhadap Yahudi? Tanggapan untuk tulisan Funco Tanipu

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 307
    • 0Komentar

    Lanskap Agama di Gorontalo dalam Berbagai Literatur Kita bisa melihat ada banyak catatan yang menggambarkan bahwa Islam adalah agama resmi pertama diperkenalkan di Gorontalo baik yang ditulis oleh kolonial atau sarjana kontemporer. Meskipun sangsi dengan penyebutannya, namun dapat dipastikan catatan tersebut merangkum jejak-jejak Islam sebagai agama dunia paling awal yang masuk di Gorontalo. Hal ini […]

  • Metode Tahfidz As’adiyah Disorot Nasional, Tradisi “Maddarasa Patappulo” Dinilai Konsisten Lahirkan Hafidz Berkualitas

    Metode Tahfidz As’adiyah Disorot Nasional, Tradisi “Maddarasa Patappulo” Dinilai Konsisten Lahirkan Hafidz Berkualitas

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 487
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Metode tahfidz yang dikembangkan di lingkungan Pondok Pesantren As’adiyah kembali mendapat sorotan publik nasional. Dalam sebuah program TV nasional yang tayang baru-baru ini, pendekatan khas As’adiyah dalam menghafal Al-Qur’an disebut sebagai salah satu metode yang konsisten melahirkan para hafidz berkualitas, dengan kekuatan pada tradisi, disiplin, dan kesinambungan sanad keilmuan. Metode Tahfidz As’adiyah bertumpu […]

expand_less