Breaking News
light_mode
Trending Tags

Hari Buruh, Akademisi Prekariat, dan Kampus yang Diam-Diam Menjadi Pabrik

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
  • visibility 187
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kampus hari ini juga semakin dekat dengan logika korporasi. Banyak perguruan tinggi dikelola dengan ukuran-ukuran manajerial: target jumlah mahasiswa, efisiensi anggaran, produktivitas publikasi, ranking internasional, akreditasi, dan citra kelembagaan. Semua hal itu tidak salah pada dirinya sendiri. Masalahnya muncul ketika manusia yang bekerja di dalam sistem dianggap sekadar instrumen pencapai target.

Dosen dihitung dari jumlah artikel. Peneliti dihitung dari jumlah luaran. Staf administrasi dihitung dari kecepatan layanan. Mahasiswa dihitung dari indeks performa dan potensi pasar kerja. Bahasa angka menjadi dominan, sementara persoalan kesejahteraan, kelelahan mental, dan kualitas hubungan kerja diletakkan di pinggir.

Dalam suasana seperti itu, kampus pelan-pelan kehilangan wataknya sebagai komunitas ilmiah. Ia berubah menjadi birokrasi besar yang sibuk mengejar indikator. Rapat membahas capaian lebih sering daripada membahas mutu gagasan. Laporan lebih penting daripada refleksi. Template lebih dihargai daripada kreativitas. Mereka yang patuh pada prosedur sering lebih aman daripada mereka yang kritis terhadap arah lembaga.

Beban yang ditanggung akademisi prekariat bukan hanya ekonomi, tetapi juga psikologis. Mereka hidup dalam ketegangan terus-menerus: kontrak akan diperpanjang atau tidak, honor cair kapan, beban semester depan bertambah atau berkurang, apakah usia produktif akan habis sebelum karier benar-benar jelas. Banyak yang menunda menikah, menunda membeli rumah, menunda punya anak, atau terus bergantung pada keluarga karena penghasilan belum cukup stabil.

Ini kontradiksi yang nyata. Mereka mengajar mahasiswa tentang masa depan, tetapi sulit menyusun masa depannya sendiri. Mereka membimbing orang lain meraih cita-cita, tetapi arah hidupnya sendiri kabur. Mereka diminta menumbuhkan optimisme generasi muda, tetapi hari-harinya diisi kecemasan yang sunyi.

Persoalan ini tidak bisa dijawab dengan nasihat motivasi pribadi. Ini bukan soal kurang bersyukur, kurang gigih, atau kurang sabar. Ini soal struktur kerja yang memang timpang. Selama kampus terus memanfaatkan tenaga murah dengan alasan regenerasi, selama status kerja dibiarkan menggantung bertahun-tahun, dan selama kesejahteraan dianggap isu sekunder, maka problem akan terus berulang.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ramadhan Yang Robek

    Ramadhan Yang Robek

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 205
    • 0Komentar

    Oleh : Asrul G.H. Lasapa – (Pegiat Dakwah Gorontalo) Puasa merupakan kawah candradimuka yang menjadi tempat melatih dan menggembleng seseorang agar memiliki mental spiritual yang agung dan mulia. Ritual puasa tidak hanya sekedar penampakan simbolitas permukaan yang nyata berupa tidak makan, minum dan hubungan seksual semata, tetapi puasa adalah kemampuan pengendalian jiwa dari keterpurukan emosional. […]

  • Antara BBM, Subsidi, dan Amanat Anggaran: Membaca Akuntabilitas APBN dari Kasus Defisit 2026

    Antara BBM, Subsidi, dan Amanat Anggaran: Membaca Akuntabilitas APBN dari Kasus Defisit 2026

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Haairunnisah
    • visibility 185
    • 0Komentar

    Lebih jauh, subsidi yang terlalu besar juga membuka ruang terjadinya moral hazard. Harga energi yang relatif murah mendorong konsumsi berlebih dan mengurangi insentif untuk berhemat. Dalam jangka panjang, pola ini tidak hanya membebani anggaran, tetapi juga menghambat upaya menuju penggunaan energi yang lebih efisien. Kritik publik terhadap pengelolaan APBN pun tidak bisa diabaikan. Isu pembengkakan […]

  • Salat Jenazah Ternyata Rumit, KH. Abdul Muin Ungkap Kesalahan yang Sering Terjadi Play Button

    Salat Jenazah Ternyata Rumit, KH. Abdul Muin Ungkap Kesalahan yang Sering Terjadi

    • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 431
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Salat jenazah yang selama ini dianggap sederhana ternyata menyimpan banyak rincian hukum yang kerap luput dari perhatian jamaah. Hal ini diungkapkan oleh KH. Abdul Muin Mooduto, Ketua MUI Kota Gorontalo sekaligus Wakil Rais Syuriyah PWNU Gorontalo, dalam pengajian menjelang Salat Jumat yang digelar di salah satu masjid di Kota Gorontalo pada 2021. Dalam […]

  • Instrumen Penaklukan Tanpa Mesiu: Pengetahuan, Kekuasaan, dan Politik Global

    Instrumen Penaklukan Tanpa Mesiu: Pengetahuan, Kekuasaan, dan Politik Global

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 282
    • 0Komentar

    Ketika model seperti ini diterima sebagai kebenaran ilmiah, pilihan-pilihan lain otomatis dipinggirkan. Sistem ekonomi alternatif dianggap tidak efisien, tidak rasional, atau sekadar bentuk keterbelakangan yang belum selesai. Dominasi ideologi tidak lagi dipaksakan secara kasar; ia bekerja melalui legitimasi akademik yang terlihat objektif. Inilah yang membuat imperialisme modern jauh lebih licin dibanding kolonialisme lama. Ia tidak […]

  • Shalat Tarawih, Emile Durkheim dan Solidaritas Organik

    Shalat Tarawih, Emile Durkheim dan Solidaritas Organik

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Shalat Tarawih merupakan salah satu ibadah penting dalam tradisi Islam, khususnya selama bulan Ramadan. Ibadah ini dilakukan setelah shalat Isya dan merupakan sunnah yang sangat dianjurkan. Shalat Tarawih bukan hanya sekedar ritual, tetapi juga merupakan sarana spiritual yang mendalam bagi umat Muslim. Melalui ibadah ini, individu memiliki kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah, memohon ampunan, […]

  • Jamaah sebagai Akar, Jamiyah sebagai Mesin: Teori Kekuasaan Versi NU

    Jamaah sebagai Akar, Jamiyah sebagai Mesin: Teori Kekuasaan Versi NU

    • calendar_month Senin, 22 Des 2025
    • account_circle Pepy al-Bayqunie
    • visibility 200
    • 0Komentar

    NU tidak membangun kekuasaan dengan cara merebut pusat. Ia tidak lahir dari istana, parlemen, atau kantor administrasi. NU lahir dari pinggir—dari desa, dari surau kecil, dari pesantren kampung yang jauh dari kota, dari obrolan yang tidak pernah berniat menjadi wacana besar. Karena itu, teori kekuasaan NU sejak awal berlawanan dengan logika kekuasaan modern yang bertumpu […]

expand_less