Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Hari Buruh, Akademisi Prekariat, dan Kampus yang Diam-Diam Menjadi Pabrik

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
  • visibility 255
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kampus hari ini juga semakin dekat dengan logika korporasi. Banyak perguruan tinggi dikelola dengan ukuran-ukuran manajerial: target jumlah mahasiswa, efisiensi anggaran, produktivitas publikasi, ranking internasional, akreditasi, dan citra kelembagaan. Semua hal itu tidak salah pada dirinya sendiri. Masalahnya muncul ketika manusia yang bekerja di dalam sistem dianggap sekadar instrumen pencapai target.

Dosen dihitung dari jumlah artikel. Peneliti dihitung dari jumlah luaran. Staf administrasi dihitung dari kecepatan layanan. Mahasiswa dihitung dari indeks performa dan potensi pasar kerja. Bahasa angka menjadi dominan, sementara persoalan kesejahteraan, kelelahan mental, dan kualitas hubungan kerja diletakkan di pinggir.

Dalam suasana seperti itu, kampus pelan-pelan kehilangan wataknya sebagai komunitas ilmiah. Ia berubah menjadi birokrasi besar yang sibuk mengejar indikator. Rapat membahas capaian lebih sering daripada membahas mutu gagasan. Laporan lebih penting daripada refleksi. Template lebih dihargai daripada kreativitas. Mereka yang patuh pada prosedur sering lebih aman daripada mereka yang kritis terhadap arah lembaga.

Beban yang ditanggung akademisi prekariat bukan hanya ekonomi, tetapi juga psikologis. Mereka hidup dalam ketegangan terus-menerus: kontrak akan diperpanjang atau tidak, honor cair kapan, beban semester depan bertambah atau berkurang, apakah usia produktif akan habis sebelum karier benar-benar jelas. Banyak yang menunda menikah, menunda membeli rumah, menunda punya anak, atau terus bergantung pada keluarga karena penghasilan belum cukup stabil.

Ini kontradiksi yang nyata. Mereka mengajar mahasiswa tentang masa depan, tetapi sulit menyusun masa depannya sendiri. Mereka membimbing orang lain meraih cita-cita, tetapi arah hidupnya sendiri kabur. Mereka diminta menumbuhkan optimisme generasi muda, tetapi hari-harinya diisi kecemasan yang sunyi.

Persoalan ini tidak bisa dijawab dengan nasihat motivasi pribadi. Ini bukan soal kurang bersyukur, kurang gigih, atau kurang sabar. Ini soal struktur kerja yang memang timpang. Selama kampus terus memanfaatkan tenaga murah dengan alasan regenerasi, selama status kerja dibiarkan menggantung bertahun-tahun, dan selama kesejahteraan dianggap isu sekunder, maka problem akan terus berulang.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kenakalan Remaja, Pembusuran, Dan Kegagalan Sosial Mendidik Manusia

    Kenakalan Remaja, Pembusuran, Dan Kegagalan Sosial Mendidik Manusia

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 365
    • 0Komentar

    Oleh: Andi Afsar (Ketua Bidang Kaderisasi dan Pendidikan HPPMI Komisariat Pelajar) Maraknya aksi kenakalan remaja seperti tawuran, pembusuran, dan kekerasan jalanan kembali menyita perhatian publik. Fenomena ini kerap dipahami secara dangkal sebagai kemerosotan moral generasi muda. Remaja dijadikan kambing hitam tunggal, sementara masyarakat dan negara tampil sebagai hakim yang merasa paling benar. Padahal, dalam perspektif […]

  • Desak Copot Kapolres dan Kanit Tipiter Maros, KOMAKS Aksi Demo

    Desak Copot Kapolres dan Kanit Tipiter Maros, KOMAKS Aksi Demo

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 142
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros – Koalisi Mahasiswa Anti Korupsi (KOMAKS) menyelenggarakan aksi damai di tiga titik, yakni di depan Polda Sulawesi Selatan, Polres Maros, dan DPRD Kabupaten Maros. Aksi ini merupakan bentuk penyampaian aspirasi masyarakat terkait pentingnya penegakan hukum dan perlindungan lingkungan hidup, khususnya di wilayah Kabupaten Maros. Rabu (17/12/2026). Aksi tersebut melibatkan mahasiswa, perwakilan lembaga, serta […]

  • Zakat Salah Catat

    Zakat Salah Catat

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 343
    • 0Komentar

    Ramadhan mengajarkan disiplin. Sahur ada waktunya, berbuka ada waktunya. Zakat pun ada nisab dan haulnya. Jika waktu saja kita patuhi, mengapa angka kita abaikan? Jangan sampai kita fasih membaca doa qunut, tetapi gagap membaca laporan arus kas. Akhirnya, Zakat bukan sekadar rukun Islam. Ia adalah pengingat bahwa ibadah dan akuntansi bertemu pada satu titik: kejujuran. […]

  • Darda Daraba Pimpin Alumni Lemhannas Gorontalo.

    Darda Daraba Pimpin Alumni Lemhannas Gorontalo.

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Alumni (IKAL) Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Provinsi Gorontalo periode 2025–2030 resmi dilantik pada Rabu (2/7/2025). Prosesi pelantikan dilakukan secara virtual oleh Ketua Umum Pengurus Pusat IKAL Lemhannas, Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar, berdasarkan Surat Keputusan Nomor: SKEP/09/VII/2025/IKAL-LEMHANNAS. Sementara itu pengukuhan DPD IKAL Lemhannas Provinsi Gorontalo dilakukan secara langsung oleh […]

  • Ketika Anggaran Mengendap: Mengungkap Fenomena Idle Cash dalam APBN Indonesia

    Ketika Anggaran Mengendap: Mengungkap Fenomena Idle Cash dalam APBN Indonesia

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Dinda Rahma Filah
    • visibility 249
    • 0Komentar

    Di sini, masalahnya bukan hanya soal angka, tapi juga transparansi. Informasi tentang penggunaan SAL tidak selalu mudah diakses atau dipahami secara langsung oleh masyarakat. Akibatnya, masyarakat hanya bisa menerima tanpa benar-benar tahu detailnya. Padahal, ini adalah uang negara, yang juga berarti uang rakyat. Selain itu, ada juga tantangan dari dalam sistem pemerintahan, terutama karena penyusunan […]

  • Covid-19 dan “Matinya” Agama

    Covid-19 dan “Matinya” Agama

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2020
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 83
    • 0Komentar

    Corona Virus Disease (Covid-19) di Indonesia telah menyerang banyak jiwa manusia. Tidak mengenal yang tua maupun yang muda, laki-laki atau perempuan, bahkan anak-anak ikut menjadi korban dari ganasnya virus ini. Negara“kewalahan” melawan serangan virus corona. Beberapa program telah diberlakukan oleh pemerintah untuk menangani dan memutus mata rantai penyebaran virus yang mematikan ini. Sebut saja physical distancing (jaga jarak), […]

expand_less