Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Hari Buruh, Akademisi Prekariat, dan Kampus yang Diam-Diam Menjadi Pabrik

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
  • visibility 403
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kampus hari ini juga semakin dekat dengan logika korporasi. Banyak perguruan tinggi dikelola dengan ukuran-ukuran manajerial: target jumlah mahasiswa, efisiensi anggaran, produktivitas publikasi, ranking internasional, akreditasi, dan citra kelembagaan. Semua hal itu tidak salah pada dirinya sendiri. Masalahnya muncul ketika manusia yang bekerja di dalam sistem dianggap sekadar instrumen pencapai target.

Dosen dihitung dari jumlah artikel. Peneliti dihitung dari jumlah luaran. Staf administrasi dihitung dari kecepatan layanan. Mahasiswa dihitung dari indeks performa dan potensi pasar kerja. Bahasa angka menjadi dominan, sementara persoalan kesejahteraan, kelelahan mental, dan kualitas hubungan kerja diletakkan di pinggir.

Dalam suasana seperti itu, kampus pelan-pelan kehilangan wataknya sebagai komunitas ilmiah. Ia berubah menjadi birokrasi besar yang sibuk mengejar indikator. Rapat membahas capaian lebih sering daripada membahas mutu gagasan. Laporan lebih penting daripada refleksi. Template lebih dihargai daripada kreativitas. Mereka yang patuh pada prosedur sering lebih aman daripada mereka yang kritis terhadap arah lembaga.

Beban yang ditanggung akademisi prekariat bukan hanya ekonomi, tetapi juga psikologis. Mereka hidup dalam ketegangan terus-menerus: kontrak akan diperpanjang atau tidak, honor cair kapan, beban semester depan bertambah atau berkurang, apakah usia produktif akan habis sebelum karier benar-benar jelas. Banyak yang menunda menikah, menunda membeli rumah, menunda punya anak, atau terus bergantung pada keluarga karena penghasilan belum cukup stabil.

Ini kontradiksi yang nyata. Mereka mengajar mahasiswa tentang masa depan, tetapi sulit menyusun masa depannya sendiri. Mereka membimbing orang lain meraih cita-cita, tetapi arah hidupnya sendiri kabur. Mereka diminta menumbuhkan optimisme generasi muda, tetapi hari-harinya diisi kecemasan yang sunyi.

Persoalan ini tidak bisa dijawab dengan nasihat motivasi pribadi. Ini bukan soal kurang bersyukur, kurang gigih, atau kurang sabar. Ini soal struktur kerja yang memang timpang. Selama kampus terus memanfaatkan tenaga murah dengan alasan regenerasi, selama status kerja dibiarkan menggantung bertahun-tahun, dan selama kesejahteraan dianggap isu sekunder, maka problem akan terus berulang.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Abu Sa’id al-Khudri dan Surah Al-Fatihah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #24)

    Abu Sa’id al-Khudri dan Surah Al-Fatihah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #24)

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 442
    • 0Komentar

    Abu Sa’id mendekati orang yang sakit itu dan mulai membaca Surah Al-Fatihah. Ia mengulanginya beberapa kali sambil meniupkan hembusan napas ringan, sebagaimana praktik ruqyah yang dikenal di kalangan sahabat. Riwayat hadis menggambarkan bahwa setelah bacaan selesai, orang yang tersengat itu pulih. Ia bangkit dari tempatnya seakan-akan tidak pernah mengalami sakit sebelumnya. Penduduk kampung menepati janji […]

  • Nahkoda Baru HIPMI PT IAI DDI Maros:Ishak Maulana Siap bersinergi Demi kemajuan Kampus

    Nahkoda Baru HIPMI PT IAI DDI Maros:Ishak Maulana Siap bersinergi Demi kemajuan Kampus

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 193
    • 0Komentar

    Nulondalo.com,Maros– Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Perguruan Tinggi (HIPMI PT) IAI DDI Maros resmi melantik jajaran pengurus baru untuk masa bakti mendatang. Pelantikan ini menjadi tonggak awal kepengurusan baru yang diharapkan mampu memperkuat eksistensi organisasi sebagai wadah pembinaan, pengembangan, dan pencetak generasi pengusaha muda yang inovatif, mandiri, serta berdaya saing. Dalam suasana penuh semangat dan optimisme, […]

  • Kabar Gembira: Tunjangan Guru PAI Dicairkan Sebelum Lebaran

    Kabar Gembira: Tunjangan Guru PAI Dicairkan Sebelum Lebaran

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Kementerian Agama menegaskan tunjangan profesi bagi 120.067 guru dan pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah akan dicairkan sebelum Idulfitri 1446 H. Pemerintah telah menyiapkan anggaran lebih dari Rp828,1 miliar untuk mendukung pencairan tunjangan selama dua bulan ini, Januari dan Februari 2025. Dirjen Pendidikan Islam Suyitno mengatakan, peningkatan kualitas pendidikan menjadi salah satu Asta Cita […]

  • Keutamaan Shalat Subuh Menurut Syekh Nawawi al-Bantani

    Keutamaan Shalat Subuh Menurut Syekh Nawawi al-Bantani

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 331
    • 0Komentar

    Syekh Nawawi al-Bantani, salah satu ulama besar Nusantara yang menjadi rujukan keilmuan di dunia Islam, banyak membahas keutamaan ibadah, termasuk shalat Subuh, dalam berbagai karya tulisnya, terutama dalam kitab Nihayatuz Zain, Tafsir Marah Labid (Tafsir Munir)_, dan Syarh Al-Muqaddimah Al-Hadramiyyah. Dikutip dari berbagai sumber, keutamaan shalat  Subuh menurut Syekh Nawawi al-Bantani, sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitabnya […]

  • Ramadhan dan Ilusi Stabilitas Demokrasi

    Ramadhan dan Ilusi Stabilitas Demokrasi

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Suko Wahyudi
    • visibility 344
    • 0Komentar

    Jika nilai nilai Ramadhan mampu meresap dalam tata kelola negara, maka politik simbolik dapat berubah menjadi politik pertanggungjawaban. Retorika amanah diikuti transparansi. Bahasa keberpihakan diikuti kebijakan yang berpihak. Komitmen keadilan diikuti penegakan hukum yang konsisten. Stabilitas memang penting. Namun stabilitas yang tidak ditopang kepercayaan hanya akan menjadi ketenangan di permukaan. Demokrasi yang matang menuntut lebih […]

  • Arus Balik dari Sebuah Negeri yang Tidak Dibiarkan Berkuasa

    Arus Balik dari Sebuah Negeri yang Tidak Dibiarkan Berkuasa

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Suryadi R
    • visibility 554
    • 0Komentar

    “Biar aku ceritai kalian. Dahulu, di jaman kejayaan Majapahit, arus bergerak dari selatan ke utara, dari Nusantara ke Atas Angin.” Kalimat ini ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Arus Baliknya. Ia seakan memberi tahu dengan seksama bahwa kalimat itu tak hanya sekadar nostalgia sejarah. Tetapi merupakan sebuah pernyataan geopolitik yang tajam. Kalimat itu seolah menantang asumsi […]

expand_less